Transformasi Pelindo II Bangga Dukung Negara

Trend digital menuntut keberpihakan pada kecepatan. Era industri 4.0 yang dikombinasikan dengan Volatility Uncertainty Complexity Ambiguity (VUCA) bahkan menuntut perusahaan seperti Indonesia Port Corporation (IPC) atau PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II), untuk bertranformasi. Pastilah, dalam kerangka memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan.

Pemastian itu pastilah bergantung pada pelayanan. Karena pelayanan tergantung trend kekinian, maka transformasi Pelindo II adalah berbasis digital port yang smart. Inilah bentuk optimalisasi teknologi informasi dan modernisasi infrastruktur dan suprastruktur pelabuhan.

Usai mengolah catatan transformasi itu dari Kantor Pusat IPC yang beralamat di Tanjung Priok, Jakarta Utara pekan lalu, FORUM bukan saja melihat perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) ini begitu tangguh merangkul potensi trend kekinian dengan penuh semangat. Tetapi ketangguhan yang menjadikan IPC sebagai  katalisator dalam mendorong peningkatan ekspor nasional. Pastilah juga menekan biaya logistik.

Kita belum bisa terburu-buru melihat di mana ketangguhan itu dan karenanya IPC bangga mendukung Negara, sebelum melihat dengan baik faktor apa saja yang bekerja di belakangnya.

Pertama perlu dicatat, bahwa transformasi menjadi digital port sudah dimulai sejak 2016, ditandai dengan adanya roadmap 5 tahun yang ditetapkan oleh perusahaan, yaitu pada 2016 fase Fit In Infrastructure, 2017 fase Enhancement, 2018 fase Establishment, dan fase Sustainable di 2019. Tahun yang lumayan bagus dalam menata bagaimana dan di mana IPC menjalankan transformasi, adalah 2020 ini. Yakni menjadi World Class Port.

Digitalisasi itu mencakup kegiatan di sisi laut maupun darat. Di sisi laut, IPC telah menerapkan aplikasi Vessel Management System (VMS), Vessel Traffic System (VTS), Automatic Identification System (AIS), dan Marine Operating System (MOS).

Di sisi darat, IPC menerapkan aplikasi Terminal Operating System untuk Peti Kemas dan Non Peti Kemas, Autotally, Autogate, Delivery Order online (DO Online), Integrated Container Freight Station (CFS), Tempat Penimbunan Sementara (TPS) online, Integrated Billing System (IBS) yang meliputi e-registration, e-booking, e-tracking, e-payment, e-invoice, dan e-customer care.

 

Awal Tantangan menjalankan transformasi adalah budaya (dok IPC)

Digitalisasi di IPC bukan hanya mengubah manual menjadi digital. Tetapi juga melakukan integrasi dari end to end. Misalnya, apabila pelayanan kapal sudah selesai, maka datanya bisa menjadi feeding di terminal sampai barang tersebut keluar dari terminal. Hingga kini, 12 cabang pelabuhan IPC telah memiliki sistem operasi berbasis digital yang setara. Tentunya sesuai kebutuhan masing-masing Cabang Pelabuhan.

Sejumlah aplikasi penting telah diimplementasikan, antara lain Vessel Management System (VMS), Vessel Traffic System (VTS), Automatic Identification System (AIS), dan Terminal Operating System (TOS).

Demikian juga Marine Operating System (MOS), untuk pelabuhan yang mempunyai trafik kapal yang tinggi dan disandari kapal-kapal besar. Pada awal Desember 2019 lalu, IPC pun telah memperkenalkan single Truck Identity Database (TID) yang merupakan basis data truk yang hilir mudik di pelabuhan-pelabuhan IPC.

Kalau dulu, data truk dan nama perusahaan bahkan nama pengemudi gak jelas. Kini, setiap truk akan memiliki kartu yang di dalamnya memuat data nomor truk, nama perusahaan, dan nama pengemudi. Kartu itu menjadi alat akses ke setiap terminal di pelabuhan IPC. Dimulai dari Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pilot project, yang diharapkan bisa fully implemented pada tahun 2020.

Tantangan implementasi digital port adalah budaya. Ingat ingat masa awal penepan auto gate? Waktu itu ada waktu sekitar 3 bulan lebih yang dibutuhkan, sebagai masa penyesuaian bagi para pengemudi truk. Karena sebelumnya mereka belum terbiasa dengan sistem ini. Tantangan lainnya adalah penyiapan SDM IPC yang tidak gaptek terhadap perkembangan digitalisasi, sehingga perusahaan dapat terus menjaga up to date dengan perkembangan teknologi.

Selain itu, juga proses penguatan sinergi dan kolaborasi dengan instansi lain yang terlibat dalam proses rantai bisnis kepelabuhanan. Misalnya sistem Inaportnet, di mana pada implementasinya dibutuhkan waktu untuk mensinkronisasi sistem yang dimiliki dan koordinasi agar sistem dapat berjalan.

Mengenai skema ternasformasi, itu dimulai dari penyiapan infrastruktur dasar dan pembuatan sistem di internal IPC. Transformasi digitalisasi ini seperti menyusun puzzle, dimana kami punya cita-cita untuk bertranformasi lebih lanjut menjadi world class trade facilitator pada 2024. Sistem-sistem yang saat ini sudah berjalan seperti VTS, MOS, VMS, TOS, NPK TOS, CFS Online, cashless payment, dll dipersiapkan satu per satu dengan cermat, bukan tanpa sebuah rencana jangka panjang melainkan dalam bingkai orkestrasi untuk mempersiapkan IPC menjadi digital port yang mampu menyediakan sebuah platform bagi para pelaku bisnis logistik dan kepelabuhanan.

Dalam platform tersebut menampilkan berbagai layanan yang dibutuhkan pengguna jasa layaknya kita membuka situs agen travel online. Bedanya adalah, platform ini untuk berbagai jasa layanan logistik, di mana semua pelaku usaha logistik bisa saling terhubung. Contoh; pemilik kontainer bisa memesan kapal yang akan mengangkut kargonya, lokasi terminal, sewa gudang, hingga truk dari perusahaan logistik, semua dalam satu platform. Diharapkan implementasi platform ini bisa menurunkan biaya logistik hingga 4,9%.

Trade facilitator akan mendorong peningkatan perdagangan lebih optimal. Platform digital yang disiapkan kedepannya; ada pelaku usaha pergudangan, pengguna jasa, importir-eksportir, perusahaan logistik, dan seluruh pelaku usaha yang terkait, sehingga akan ada transparansi, kemudahan akses, murah, dan akses keluar masuk barang di Indonesia lebih cepat. Trade facilitator merupakan perwujudan dari marketplace maritime.

Bagaimana tim khusus, terobosan dan hasilnya, hingga ke gambaran generasi Muda IPC pewaris motor pengggerak perubahan positif. Baik bagi perusahaan maupun bagi Indonesia dalam bingkai kreativitas, kebersamaan, kerja sama dan sportivitas yang ditularkan kepada seluruh lapisan masyarakat, ikuti ulasan berikutnya. Yang pasti, transformasi bukan saja menggambarkan sesuatu yang besar samar-samar sedang terjadi, tetapi itu juga bangga lah IPC dukung Negara.

Luthfi Pattimura

You might also like