PRESIDEN BERGANTI KORUPSI ABADI DUA

Pembunuhan Pedagang Pribumi

 

 Priyono B. Sumbogo

Pasar tradisional indentik dengan pedagang kecil kaum pribumi. Pasar tradisional identik pula dengan pedagang kelas dua. Bahkan sekarang sudah tidak berkelas, karena Alfa Mart menerjang sampai ke kampung-kampung, merebut rejeki pedagang kecil. Kedai-kedai buah di pinggir jalan yang menjadi tumpuan hidup orang kampung dilabrak habis. Warung-warung rokok digulung jadi kayu bakar.

Carrefour Indonesia (Carrefour), perusahaan dari Perancis, kini menjadi perusahaan yang lolos dari ketukan palu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Carrefour selanjutnya leluasa berdiri megah di atas bangkai pasar tradisional.

Warga keturunan Tionghoa yang menguasai hampir semua rumah toko (ruko) dan kegiatan bisnis di seantero Indonesia, sudah menjual cendol, cincau, jengkol, makanan tradisional, sampai keset. Tapi mereka masih merasa didiskriminasikan. Sebaliknya bila mereka mengepung dan mematikan pedagang pribumi yang memasuki wilayah bisnis mereka, semisal kios onderdil, itu disebut bukan diskriminasi, melainkan persaingan bebas.

Di bisnis media, ”pembunuhan” pengelola pribumi terjadi dari hari ke hari dan masih akan berlanjut. Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) – anak mantan Presiden Soeharto – didepak dari Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) oleh Harry Tanoe Soedibjo. Orang yang bersimpati pada Tutut akan dicap sebagai antek Orde Baru. Media massa yang masih dikelola pribumi, perlahan-lahan juga akan dibunuh dengan berbagai cara atau setidaknya akan diganggu dengan menggunakan tangan-tangan kaum pribumi berwatak begundal.

Siapa berani melawan dan siapa yang akan menyelamatkan ladang rejeki bagi kaum pribumi. Partai-partai politik itu? Hatta Rajasa, Aburizal Bakrie, Megawati Soekarnoputri, Surya Paloh, Surya Dharma Ali, Muhaimin Iskandar, Tifatul Sembiring, Wiranto, Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono, atau Boediono? Mereka terlalu sibuk mengamankan posisi politik dan citra mereka. Mereka sudah memberikan perhatian pada pedagang kecil di pasar tradisional, di pinggiran jalan, atau di emper-emper ruko nonpribumi, pada saat kampanye pemilihan umum. Setelah itu, giliran pedagang kecil yang harus bertarung sendiri. Negara pun lebih suka menggelontorkan Rp, 6,7 triliun kepada Bank Century yang dikelola nonpribumi agar tidak menimbulkan dampak sistemik.

Pedagang-pedagang pasar tradisional dan pengelola-pengelola bisnis kecil-kecilan kaum pribumi, harus berjuang sendiri. Hidup dari hari ke hari. Dan bila menganggu pemandangan di depan ruko-ruko atau mal-mal kaum nonpribumi, mereka harus pergi sambil digebuki oleh Satuan Polisi Pamong Praja.

Tidak mengapa. Hidup sebagai pedagang pribumi memang harus bertarung, dengan risiko kehancuran atau bertahan. Dalam situasi seperti sekarang, dapat bertahan saja sudah bagus, karena kemenangan hampir tidak mungkin. Bahkan untuk menciptakan keseimbangan antara pedagang pribumi dan nonpribumi, adalah sesuatu yang teramat sulit. Ini adalah ironi yang harus ditelan begitu saja. Hidup di negeri sendiri bagai hidup di negeri asing. Punya wakil rakyat, presiden, wakil presiden, dan menteri yang lebih suka berbelanja ke supermarket daripada ke pasar tradisional yang becek.

Tak mengapa. Hidup sebagai pedagang kecil, menggiring hati menjadi ikhlas. Syukur-syukur dapat hidup terus. Remuk digebuki Satpol PP atau diganggu kaum begundal juga tak apa-apa.

Tapi para pedagang kaki lima dan pedagang pasar tradisional mengajarkan keberanian. Mereka tidak menyerah. Lapak dan gerobak yang dihancurleburkan, dibangun kembali di tempat lama atau di tempat baru atau di mana saja. Mereka mandiri. Bahkan bila tidak ada wakil rakyat atau presiden, mereka akan tetap hidup, karena selama ini mereka sudah terbiasa sendirian.

Teori tentang kemiskinan struktural atau teori budaya kemiskian, menjadi tidak relevan lagi. Kemismikan pedagang kecil pribumi bukan karena akibat sistem yang berpihak pada taipan nonpribumi, bukan juga karena pedagang kecil pribumi berbudaya malas sehingga miskin. Mereka adalah petarung yang harus berkelahi untuk hidup atau mati. Mereka adalah para petualang, para pejalan di jalur berliku yang serba tak pasti. Mereka adalah orang bebas yang kadangkala terpaksa menjual bayi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau merangkap sebagai kupu-kupu di  malam hari karena warung kecilnya tak laku di pagi hari.

Mereka berkata dan bertindak sebagaimana adanya, karena berbasa-basi pun tak ada gunanya. Mereka membenci pedagang nonpribumi, karena menyenangi nonpribumi tak mendatangkan untung. Mereka tidak minta tolong pada pengacara, karena pengacara lebih suka membela para taipan bermasalah.

Merka juga tidak minta tolong pada Preiden Joko Widodo, karena mereka dengar Joko Widodo punya hubungan dekat dengan Taipan Etnis Cina dan negeri Cina.

Mereka tahu akan ditembak dan dicap anarkhis bila suatu hari membakar kios-kios nonpribumi atau membunuhi kaum nonpribumi. Oleh karena itu mereka berusaha untuk tidak melakukannya, walau suatu hari ledakan kebencian mungkin tak dapat dibendung, yakni manakala timbul anggapan bahwa mati lebih baik daripada tidak dapat mencari rejeki di negeri sendiri.

(Naskah Asli 2010)

 

You might also like