Pelindo II Tangguh Merangkul Trend Kekinian

Ketika PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo II) atau Indonesia Port Corporation (IPC) melakukan transformasi dengan pelayanan berbasis digital port yang smart, apakah ada tim khusus yang menanganinya? Bagaimana prosesnya? Jelas ada! Tim ini adalah kolaborasi team work dari berbagai elemen perusahaan.

Untuk penyiapan roadmap implementasi digitalisasi IPC, menurut Direktur Utama PT Pelindo II Elvyn G. Masassya, pihaknya menugaskan Direktur Operasi, yang membawahi fungsi teknologi informasi, untuk menjalankan peran sebagai nahkoda atau koordinator bagi direktorat lainnya. “Saya menugaskan Direktur Operasi, yang membawahi fungsi teknologi informasi, untuk menjalankan peran sebagai nahkoda atau koordinator bagi direktorat lainnya,” ujar Elvyn.

Masing-masing Direktorat bertanggungjawab mengembangkan digitalisasi pada bidang masing-masing, misalnya Direktur Keuangan terkait cashless payment system, Direktur SDM untuk pengembangan e-office dan sistem manajemen SDM, Direktur Komersial untuk pembangunan e-customer relationship management, dan Direktur Teknik untuk pengembangan program green port seperti shore power connection, dan seterusnya.

Dalam prosesnya, setiap direktorat, divisi dan departemen dalam perusahaan mempunyai pedoman yang sama, yaitu roadmap. Sehingga pada akhirnya berbagai pengembangan yang dilakukan bisa saling mendukung dan sinkron guna mewujudkan layanan IPC yang makin terintegrasi secara menyeluruh. Dalam kurun 2016-2019, IPC berhasil melakukan digitalisasi yang bersama-sama dengan modernisasi peralatan bongkar muat, membuat layanan pelabuhan setara dengan standar pelabuhan kelas dunia lainnya. Selesai? Belum!

Pada tahun 2017 dan 2018, IPC juga berupaya merealisasikan dan memperkuat peran Pelabuhan Tanjung Priok sebagai Transhipment Port. Makanya itu, IPC melakukan beberapa kerjasama berupa direct call dengan sejumlah perusahaan pelayaran raksasa di dunia, untuk menghubungkan Indonesia dengan berbagai pelabuhan tujuan di berbagai belahan dunia.Pelabuhan Tanjung Priok saat ini merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia yang melayani kurang lebih 70% aktivitas ekspor impor nasional Indonesia, di mana sebelum dilakukan transformasi pelabuhan ini tidak melayani direct call, sehingga aktivitas ekspor dari Jakarta harus terlebih dahulu transit di pelabuhan negara tetangga seperti Singapura maupun Malaysia. Dengan adanya direct call, biaya ekspor menjadi lebih mudah karena aktivitas bongkar muat di pelabuhan transhipment menjadi ditiadakan.

Generasi Muda IPC, Motor Penggerak bisnis perusahaan (dok IPC)

 

Terobosan penting lainnya, IPC menjalin kerjasama dengan sejumlah pelabuhan di negara lain yang memberikan kesempatan SDM IPC untuk belajar langsung melalui program internship sebagai akselerasi pembelajaran dan penyiapan SDM masa depan IPC.
Setidaknya secara umum, digitalisasi yang sudah IPC lakukan telah berhasil menekan biaya logistik. Efisiensi operasional layanan kepelabuhanan tak hanya meningkatkan kinerja perusahaan, namun juga menghemat biaya operasional pengguna jasa. Selain itu juga  transparansi – karena proses operasional sudah ada dan bisa dipantau di sistem, juga kecepatan layanan yang berpengaruh pada waktu dan biaya logistik yang lebih ekonomis dan terkontrol.
Hasil terobosan antara lain terwujud dengan tercapainya kesepakatan antara IPC dengan CMA-CGM untuk melayani rute direct call JAX (Java – America Express) dari Jakarta – Los Angeles dan South East Asian – North Europe (SEANE) yakni Jakarta – Eropa. Selain itu, IPC juga menambah service direct call ke China oleh COSCO, Korea Selatan oleh MSC. Dan rute Indonesia – Australia oleh konsorsium OOCL, Cosco & Hapag Llyod.
Dengan demikian, saat ini Pelabuhan Tanjung Priok secara reguler telah melayani kapal-kapal besar dengan direct call services ke berbagai tujuan akhir tersebut baik di Eropa, Amerika, Australia maupun China. Terbaru, Tanjung Priok menambah layanan direct call dengan tujuan Rusia. Berdasarkan hasil survey Lloydslist Maritime Intelligence, pada tahun 2019 Pelabuhan Tanjung Priok mendapatkan peringkat pelabuhan ke 22 dunia, berdasarkan throughput petikemas yang ditangani, naik 4 peringkat dari tahun sebelumnya.
Selain itu, IPC juga menjalin kerjasama Sisterport dengan pelabuhan pelabuhan internasional lainnya yang memungkinkan terjadinya sharing knowledge, salah satunya melalui program internship SDM IPC di pelabuhan-pelabuhan tersebut. Hingga 2019 ini, setidaknya ada setidaknya dengan 11 pelabuhan yaitu Port of Ningbo-China, Port of Shenzen-China, Port of Guangzhou-China, Port of Baku-Azerbaijan, Port of Townsville-Australia, Port of Lazaro Cardenas-Mexico, Port of Hamad-Qatar, Port of Djibouti-Afrika Timur, Port of Sabah-Malaysia serta Port of Los Angeles-Amerika.
Hasil transformasi juga bisa dilihat dari sisi kinerja keuangan dan operasional perusahaan, sebagaimana tabel berikut:

 

 

Uraian

2016

2017

2018

Pendapatan Usaha (dalam Rp Triliun)

8,92

10,65

11,44

Laba Bersih (dalam Rp Triliun)

1,53

2,21

2,43

Arus Petikemas (dalam Juta TEUs)

6,08

6,93

7,64

Arus Non Petikemas (dalam Juta Ton)

53,14

57,09

61,97

 

 

 

 

 

 

Atas tren kinerja positif perusahaan, pada pertengahan tahun 2019 lembaga pemeringkat independen Standard & Poor’s meningkatkan peringkat IPC menjadi BBB dari peringkat sebelumnya BBB- dengan outlook stable (prospek stabil). Proyeksi kinerja IPC pada tahun 2019 menunjukkan bahwa tren positif tersebut akan terus berlanjut.
Berbagai upaya positif IPC juga berdampak pada hasil penilaian Kriteria Penilaian Kinerja Unggul (KPKU) dan Good Corporate Governance (GCG) IPC dimana skor keduanya terus menunjukkan tren peningkatan selama 4 tahun terakhir. Untuk tahun penilaian KPKU 2019, skor IPC berhasil mencapai 616,75, sehingga mampu mempertahankan predikat “Emerging Industry Leader”. Sedangkan dari aspek GCG, IPC kembali mencatatkan peningkatan signifikan dan mencapai skor 98,30 “Sangat Baik”.
12 Cabang Pelabuhan IPC telah memiliki sistim oprasi berbasis digital (dok IPC)

 

Selain itu, selama tahun 2019 IPC juga mendapatkan setidaknya 36 penghargaan, diantaranya dua pengharagaan internasional; Best in Class dan APQO President Award for Demonstrated Excelllence 2019 dari Asia Pasific Quality Organization (APQO) dan Global Performance Exellence Awards 2019; serta Peringkat 1 BUMN Non Keuangan Non Listed pada Annual Report Award 2018 oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Fokus SDM dan Rencana Selanjutnya

Sebagaimana diketahui, IPC telah menyiapkan corporate roadmap 2020-2024. Yaitu 2020 ini, IPC mencapai fase world class port dengan melakukan pelayanan dan operasional dengan standar dunia. Kemudian pada 2021, melakukan penguatan atau strengthening dengan konsisten menjalankan operasional kelas dunia. Selanjutnya, tahun 2022 menerapkan value chain expansion, 2023 melakukan value chain integration dan 2024 menjadi world class trade facilitator.
Salah satu fokus perhatian Pemerintah di 2020 adalah SDM. Upaya apa yang di lakukan IPC untuk mendukungnya? Nah, sebagai sebuah langkah besar, diawali sejak tahun 2015 IPC mendirikan sebuah kompleks pelatihan SDM yang selanjutnya pada tahun 2018 diresmikan sebagai Corporate University, sebuah entitas pembelajaran untuk mengintegrasikan pengembangan SDM IPC.
Keberadaannya untuk memenuhi kebutuhan organisasi ke depan, dalam rangka meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan serta eco-system bisnis. IPC Corporate University menjalankan program-program pelatihan dan pengembangan SDM, baik di bidang kepelabuhanan, kemaritiman maupun logistik yang didukung tenaga ahli di bidangnya serta fasilitas pendukung yang relevan, seperti e-learning, simulator peralatan pelabuhan serta simulator warehouse yang kontennya disesuaikan dengan perkembangan industri kepelabuhanan.
Selain itu, IPC juga memiliki program bekerjasama dengan pelabuhan terkemuka lain untuk program internship (magang), untuk mengenal praktik terbaik di dunia kepelabuhanan yang saat ini mengalami tren automasi dan digitalisasi.
IPC juga menyiapkan program talent pool perusahaan yang dimulai dari BoD-2 dan BoD-3 yang dipersiapkan untuk menjadi kader-kader handal perusahaan yang dapat digunakan untuk suksesi manajemen IPC maupun juga cross company di lingkungan BUMN.
IPC juga menjalin kerjasama Sisterport dengan pelabuhan-pelabuhan internasional lainnya. Tujuannya, untuk menjajaki kemungkinan kerjasama serta sharing knowledge yang salah satunya adalah melalui program internship SDM IPC di pelabuhan-pelabuhan tersebut. Perusahaan-perusahaan world class port sudah memiliki lahan bisnis yang luas dan memiliki network bisnis yang mendunia. Oleh karena itu bekerja sama dengan World Class Ports tentunya menjadi strategi untuk meningkatkan kualitas dan kredibilitas perusahaan.
Fakta lainnya adalah, hingga saat ini, total pekerja milenial di IPC Group mencapai angka 45,4% atau sebanyak 1.164 orang. Dengan 254 orang milenial diantaranya diberikan tanggungjawab untuk mengemban jabatan struktural di IPC.
Generasi milenial ini adalah generasi yang aktif dan kreatif, manajemen IPC merangkul mereka dengan memberikan tanggungjawab, mengajak berkolaborasi untuk create something dalam mencari jalan keluar dan menyelesaikan tantangan yang ada.  Singkatnya pendekatan ini yang dipilih untuk milenial di IPC atau IPC Muda, yaitu menjadi generasi ASIK yaitu pekerja generasi milenial yang Adaptif, Solutif, Inisiatif dan Kolaboratif.
Satu lagi; Generasi Muda IPC diharapkan bisa menjadi motor pengggerak perubahan positif. Baik bagi perusahaan maupun bagi Indonesia dalam bingkai kreativitas, kebersamaan, kerja sama dan sportivitas yang ditularkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Yang pasti, sekali lagi; transformasi bukan saja menggambarkan sesuatu yang besar samar-samar sedang terjadi, tetapi itu juga lah IPC benar-benar tangguh merangkul trend kekinian bagi masa depan bisnis perusahaan.

Luthfi Pattimura

You might also like