Artis Seumur Jagung Di Partai Bingung

 

 

Priyono B. Sumbogo

Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie pernah mengungkapkan rasa tidak simpatinya kepada selebritis atau artis. Dengan terang-terangan, Habibie meminta masyarakat untuk tidak  memilih calon pemimpin (pejabat publik baik di eksektif maupun legislatif) yang hanya populer tetapi tidak memiliki hasil kerja yang jelas.

Habibie merasa cemas melihat fenomena pilihan politik masyarakat Indonesia yang cenderung bergeser kepada sosok calon pemimpin yang populer. Padahal, idealnya, pemimpin selanjutnya dapat bekerja lebih konkret dan mampu menyelesaikan masalah bangsa. “Kriteria yang paling tepat bukan karena dia selebritis), tapi yang problem solver,” ujar Habibie, ketika menjadi pembicara di acara Diklat dan Penyegaran Juru Kampanye Nasional (Jurkamnas) Partai Golkar, di kantor DPP Golkar, Jakarta, Sabtu, 25 Januari 2014.

Para ahli atau pengamat politik biasanya memandang partai politik sebagai wadah atau organisasi orang-orang yang memiliki tujuan jelas dan tahu apa yang perlu mereka lakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ringkasnya, kader politik adalah orang yang dengan sadar dan yakin memilih politik sebagai jalan hidup.

Carl. J. Friedrich berkata, partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan kekuasaan di pemerintahan bagi pimpinan partainya. Kemudian berdasarkan kekuasaan tersebut, pemimpin partai memberikan manfaat baik yang bersifat idiil maupun materii kepada anggota partai.

Mungkin terjemahan di atas kurang tepat. Bahasa aslinya sebagai berikut: “ A political, party is a group of human beings, stably organized with the objective of securing or maintaining for its leaders the control of a government, with the further objective of giving to members of the party, through such control ideal and material benefits and advantages.

 

Sigmund Neumann dalam buku Modern Political Parties, mendefinisikan bahwa partai politik adalah perwujudan dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan satu atau sejumlah golongan lain yang mempunyai pandangan berbeda.

Bahasa aslinya: “ A political paty is the articulate organization of society’s active political agents; those who are concerned with the control of governmental polity power, and who compete for popular support with other group or groups holding divergent views.

Rumusan Miriam Budiardjo (1989) lebih mempertegas tipikal para kader. Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.

Yang perlu digarisbawahi dari pendapat para ahli dan undang-undang di atas adalah adalah bahwa anggota partai “mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita”. Orang partai adalah orang yang memiliki pedoman, tahu arah, dan berjuang demi bangsa dan negara.

Mari kita simak fenomena di Indonesia. Banyak bintang sinetron atau penyanyi lagu popular jadi kader partai. Mereka bahkan dijadikan ujung tombak untuk merebut kursi DPR/DPRD atau singgasana kepala daerah.

Namun jika dicermati secara lebih teliti, tembang atau sinetron mereka tergolong jenis karya seni pasar atau murahan yang hanya kondang sekejab. Mereka pun hanya akan terkenal beberapa jenak, lalu dilupakan, dan tidak bisa lagi pasang harga tinggi untuk tampil.

Mengingat masa pudar yang tak lama lagi, mumpung masih terkenal mereka pun buru-buru masuk partai politik agar jadi wakil rakyat atau kepala daerah. Dengan demikian, mereka akan tetap punya panggung (walau bukan panggung hiburan) dan penghasilkan besar. Maka dapat ditafsirkan, artis yang masuk partai bukan karena memiliki orientasi, nilai, dan cita-cita, melainkan lebih karena takut pada bayangan masa suram mereka di dunia hiburan.

Gayung bersambut, partai politik yang ingin memobilisasi massa sebanyak-banyaknya dalam kampanye, jarang mempunyai juru kampanye hebat. Jalan pintas paling gampang untuk mendatangkan massa adalah mengajak artis popular. Bahkan karena kurang percaya pada kemampuan kader non artis, pemain sinetron pun dicalonkan sebagai kepala daerah. Celakanya, rakyat yang sudah muak dan bingung pada perilaku orang partai, mencoblos artis atas dasar kegantengan, kecantikan, atau ketenaran artis tersebut. Pemilih tak peduli kapasitas sang artis sebenarnya tak cukup memadai untuk duduk sebagai wakil rakyat atau kepala daerah.

Di hari-hari mendatang, kita akan lebih banyak memiliki wakil rakyat atau kepala daerah artis. Juga kader-kader partai yang bingung, yang begitu saja diambil dari jalan raya, yang masuk partai untuk sekedar mencari panggung atau mencari kesibukan.giatan  Mereka tidak dimotivasi oleh orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita tertentu.

Itulah sebabnya saat ini  kader-kader partai justru menimbulkan masalah bagi bangsa dan negara.  Di panggung politik, mereka tak ubahnya bagai artis yang sedang naik daun. Mereka bicara keras dan menghujat setajam-tajamnya, agar sering diundang televisi untuk bicara. Publik disuguhi hiburan politik yang membakar emosi, dan bukan tuntunan yang mengasah cara berpikir.

Syukurlah, Indonesia masih mempunyai artis-artis dan seniman-seniman sejati  seperti Trio Bimbo, Ebiet G. Adie, atau Iwan Fals yang membuahkan lagu-lagi abadi. Mereka tidak berpolitik, karena mereka tidak takut pada masa depan mereka sebagai seniman. Mereka memiliki orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi Negara. Mereka tahu arah dan tidak bingung. Seniman seperti merekalah asset negeri sesungguhnya.

 

]

 

 

You might also like