Antara Timah, Sejarah dan Wisata

By: Rizky Redha
(03/01/2020)

Pangkalpinang — Kita ketahui bahwa masa keemasan timah di Bangka Belitung, nampaknya telah masuk kepada masa penurunan. Pendapatan masyarakat dari timah nampaknya tidak bisa diharapkan lagi.

Ketika timah berjaya. Masyarakat Bangka Belitung seakan menjadi raja di kampung masing – masing. Bahkan, saking jayanya pada masa itu, kulkaspun dibeli bukan untuk menjadi pendingin, melainkan tempat menyimpan baju.

Namun, kejayaan itu nampaknya tidak akan bertahan lama. Masa – masa kejayaan ini akan tumbang pada saatnya. Ketika cadangan deposit timah sudah tidak berpihak lagi. Andai itu terjadi. Maka apa yang akan hendak digali untuk menghidupi dan penghidupan masyarakatnya?.

Secara garis besar. Bangka Belitung adalah jalur perdagangan internasional yang begitu besar potensi untuk dibangkitkan. Tak jarang ara arkeologil dan peneliti sejarah berbondong – bondong mengungkapkan hal itu khalayak publik. Bahkan penemuan situs-situs dan cagar alam kapan tenggelam dilautan Bangka Belitung, telah menjadi perbincangan serius. Sebuah fenomena yang sangat bersejarah. Jika. Bangka Belitung mampu melihat potensi ini.

Tidak hanya itu. Masyarakat yang berpegang kepada timah, mungkin akan mendapatkan oase masa depan yang baru. Karena harapan untuk maju dan bahkan sejahtera bisa digapai. Tinggal menunggu gerak – gerik para stakeholeder untuk merubah mindset tersebut. Bangka Belitung menuju seperti Singapura tidak akan hanya isapan jari belaka, jika hal ini disikapi dengan cerdas.

Sejarah telah berbicara melalu penelitian dan penemuan akan hal tersebut. Ini bukanlah sebuah khayalan semata karena telah menjadi bukti sejarah yang ada. Sehingga masalah ekonomi dan kesejahteraan masyarakat tidak lagi disandingkan dengan polemik kerusakan alam dan lingkungan.

Timah bukanlah harapan yang mampu digantungkan tinggi hari ini. Karena potensi besar yang menunggu didepan bukan timah. Namun kekayaan alam Bangka Belitung yang bisa menjadi objek wisata serta mengubah platform daerah menjadi daerah penghasil devisa besar. Dengan membuka jalur perdagangan internasional melalui Bangka Belitung.

Ini adalah secerah harapan ide dan pemikiran. Dari seorang anak bangsa yang menulis dan terfikirkan. Mungkin jutaan orang telah menyadari hal ini, bahkan sampai kepada pemuda daerah sendiri. Akan tetapi ide dan gagasan serta tulisan tidak akan bisa terealisasi, jika pemerintah tidak mengubah mindset dan juga menjawab tantangan zaman ini.

Carut marut ekologi dan lingkungan yang tidak berkesudahan akan bisa teratasi dan menjadi solusi. Jika pemerintah ingin menekan ego dan membuka diri menerima masukan serta mengeksekusi setiap ide dan gagasan ini.

Bangka Belitung punya masa depan yang cerah. Jika kita mampu mengubah cara berfikir dan juga mulai menata masa depannya. Seraya berkata selamat tinggal timah dan selamat datang era kesejahteraan dan wisata babel. (***)

 

You might also like