Teori Kera, Koruptor, Dan Fiksi Nabi Muhamad Di Atas Jakarta

 

Priyono B Sumbogo

Cesare Lombroso (1835-1909), kriminolog dari Italia, terkenal dengan teori born criminal. Teori ini memandang bahwa penjahat adalah bakat yang dibawa sejak lahir.

Tesis Lombroso didasarkan pada hasil penelitiannya terhadap narapidana di sebuah penjara. Sebagai seorang ahli forensik (kedokteran kehakiman) lombroso meneliti tengkorak kepala para narapidana. Ia mencoba untuk menemukan korelasi antara bentuk fisik dengan pelaku kejahatan. Kemudian  ia menyimpulkan bahwa orang yang memiliki ciri fisik tertentu seperti wajah asimetris, bibir yang tebal, rambut keriting; hidung pesek, dagu lancip, dan tulang pipi keras, berbakat menjadi penjahat.

Di mata Lombroso, para penjahat adalah atavistic stigmata, yakni sosok makhluk purba sebelum benar-benar menjadi manusia. Jadi, kurang lebih seperti kera. Oleh karena itu, teori Lombroso adakalanya disebut “teori kera”.

Bagi umat Islam, teori ini tentu tidak sesuai dengan Al-Quran (Firman Tuhan) dan Hadist (Sabda Nabi Muhammad). Surat Ar-Rum ayat 30 menegaskan bahwa manusia diciptakan berdasarkan “fitrah” Allah SWT. Dan Hadist Nabi Muhamad menjelaskan bahwa semua bayi dilahirkan dalam keadaan “fitrah yang suci bersih”. Orang tua dan lingkunganlah yang membuatnya jadi penjahat.

Kriminolg Edwin H Shuterland (1883-1950) sejalan dengan cara berpikir Islam. Dalam teori differential association, Shuterland beranggapan seseorang menjadi penjahat karena belajar dari lingkungannya.

Dengan demikian, baik secara Islam maupun secara kriminologis, teori kera Lombroso, telah gugur.

Tetapi wakil rakyat, para pejabat Kementerian Agama, serta pengusaha, yang terlibat kasus korupsi Al-Quran – juga dana haji — menghidupkan kembali teori kera itu. Bahkan mereka lebih purba dari kera.

Mengapa lebih purba dari kera? Sebab, dalam tulisan Lombroso tidak ditemukan kisah tentang penjahat yang mengutil firman-firman Tuhan. Ini dapat ditafsirkan bahwa Lombroso tidak pernah menyangka akan ada makhluk yang tega-teganya mengorupsi dana pembuatan buku Al-Quran dan dana haji. Tak pernah terbayangkan pula dalam pikirannya bahwa yang dituduh mengutil Al-Quran tersebut bernama Zulkarnain Djabar, wakil rakyat dengan nama khas Islam.

Itulah sebabnya di akherat sana, Lombroso tercengang-cengang dan tercenung sepanjang waktu. Ia menyesal mengapa tidak melakukan penelitian di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Dan bukan hanya Lombroso yang gemas melihat Jakarta. Dalam cerita pendek “Langit Makin Mendung  karya Ki Panji kusmin (Majalah Sastra, Th. VI. No. 8, Edisi Agustus 1968), Nabi Muhamad dan malaikat Jibril  (Jibrail) suatu hari dikisahkan berdiri di awan persis di atas Jakarta setelah terbang dari langit untuk memantau dunia. Nabi Muhamad terkesiap melihat bermacam kerusakan di Jakarta. Berikut kutipannya:

“Jibrail, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”

“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi bagian bumi yang paling durhaka. Jakarta namanya. Ibu kota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat (sekarang sekitar 240 juta – Red) yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas buta huruf.”

“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodom dan Gomorah?”

“Hampir sama.”

“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”

“Bukan, Paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”

“Adakah umatku di Malaysia?”

“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”

“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”

“Sama sekali tidak, 90% dari rakyatnya orangnya Islam juga.”

“90% (sambil wajah Nabi berseri), 90 juta ummatku! Muslimin dan muslimat tercinta. Tapi tak kulihat masjid yang cukup besar. Di mana mereka bersembahyang Jum’at?”

“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abu Bakar di sorga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”

“Aneh! Gilakah mereka?”

“Memang aneh!”

“Ayo Jibrail, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku selalu rindu kepada Madinah!”

“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”

“Tidak, tidak di tempat ini. Rencana risetku di Kairo.”

Mari kita andaikan Lombroso pernah membaca cerpen Ki Panjikusmin tentang Nabi Muhamad di atas Jakarta. Lombroso kemudian meminta izin kepada malaikat  penjagaSorga untuk bertemu Muhamad. Izin pun diberikan. Kepada Muhamad Lombroso memohon untuk diajak ke Jakarta.

“Apa tujuan kamu ke Jakarta?” tanya Nabi Muhamad.

“Saya ingin menyempurnakan teori kera saya,” jawab Lombroso.

Nabi Muhamad dengan menahan amarah menjawab:

“Teori kamu jelas tidak sempurna. Tidak ada umatku, juga tidak ada kera yang mengorupsi Al-Aquran. Makhluk itu pastilah lebih rendah dari kera.”

“Kalau begitu apakah bisa disebut kunyuk, ya Nabi?”

“Itu lebih tepat.”

Lombroso pun mengurungkan niatnya terbang ke Jakarta. Sebab dia merasa sudah menyempurnakan teori kera menjadi “teori kunyuk”, khususnya untuk makhluk-makhluk yang mengutil harta agama.

.

 

 

 

 

 

You might also like