Pribumi Yang Akan Punah

Priyono B. Sumbogo

Abul A’la Maududi, Tokoh Islam Pakistan, menguraikan bahwa kekuasaan dan keunggulan, kemenangan dan penjajahan terdiri dari dua bentuk. Yang pertama adalah penjajahan dalam bentuk maknawi dan moral, sedang yang lain dalam bentuk fisik dan politik. (Maududi dalam Nahnu wa al Hadharah al Gharbiyyah, Penjajahan Peradaban diterjemahkan oleh Afif Mohammad, Pustaka, Bandung 1985).

Yang pertama muncul karena  adanya suatu bangsa yang maju dan kuat dalam pemikiran dan konsepsi yang membuat bangsa-bangsa lain mempercayai pemikiran-pemikiran mereka, sehingga konsepnya dapat menguasai hati nurani dan akidahnya mampu mengendalikan kesadaran serta membentuk intelektual bangsa itu. Lalu “peradaban” bangsa yang kuat itupun menjadi peradaban mereka, “ilmunya” menjadi ilmu mereka, “kebenarannya” menjadi kebenaran mereka, dan “kebatilan” yang ditetapkannya pun akan diterima oleh mereka sebagai kebatilan pula.

Sedangkan penjajahan dalam bentuk yang kedua muncul akibat dominasi yang amat kuat dalam aspek materi (ekonomi), sehingga bangsa lain tak mampu memperoleh kebebasan mereka. Dan melalui kekuatan itu, berikut sarana-sarananya yang melimpah, bangsa tersebut secara sempurna atau dalam batas-batas tertentu, menguasai dan mengendalikan bangsa lainnya secara politik. Karena itu, kekalahan dan ketundukan pun ada dua macam: Kekalahan dalam alam pemikiran, dan satunya kekalahan dalam politik.

Dua bentuk kekalahan dan keterjajahan itu, terpisah satu sama lain. Keterjajahan secara maknawi tidak selamanya seiring dengan keterjajahan dalam bidang politik, sebagaimana pula keterjajahan dalam aspek ekonomi, tidak selamanya disertai dengan keterjajahan dalam bentuk maknawi. Hanya saja hukum alam membuktikan bahwa setiap bangsa yang dianugerahi oleh Sang Pencipta dengan kekuatan pemikiran dan intelek, serta maju dalam metodologi kajian, pembuktian dan penemuan, niscaya dapat mengenyam keunggulan di bidang materi pula.

Sebaliknya, suatu bangsa yang tertinggal dalam persaingan di medan pemikiran dan pendalaman ilmu, niscaya mengalami kemerosotan intelektual dan sekaligus tersuruk-suruk di medan ekonomi atau materi.  Dan sepanjang keunggulan itu adalah hasil dari suatu kekuatan, dan kekalahan itu akibat kelemahan, maka bangsa –bangsa yang terjerumus ke dalam jurang kelemahan dan “kemiskinan” niscaya merupakan bangsa-bangsa yang paling layak untuk dijajah dan memiliki kemungkinan paling besar untuk ditundukkan. Lantas bangsa-bangsa yang kuat dalam segi maknawi dan materi, niscaya menjadi bangsa yang menguasai alam pemikiran dan sekaligus fisik bangsa yang lemah.

Penduduk pribumi Indonesia – pewaris sah Nusantara — dewasa ini mengalami penjajahan yang berlipat ganda. Mereka terjajah dalam dua bentuk penjajahan  sekaligus oleh bangsa-bangsa lain. Walau tidak banyak bermukim di Indonesia, pemikiran Amerika menyelusup ke benak kaum pribumi, kekuatan ekonomi dan politik mereka pun begitu  berpengaruh dalam kegiatan ekonomi dan politik di Indonesia.

Selain kekuatan Amerika dan sekutunya, di Indonesia terdapat suatu ras non-pribumi, yakni etnis Cina, yang semula hanya sangat mendominasi perkenomian, namun kini mulai menguasai pemikiran segenap bangsa melalui konglomerasi media massa (terutama televisi) yang umumnya mereka kuasai.

Melalui media-media tersebut, selain menyebarkan doktrin tentang keunggulan etnis Cina semisal melalui tayangan-tayangan budaya leluhur. Kemudian dengan menguasai sekurangnya 75 persen kegiatan ekonomi Indonesia (Christian Chua, 2008), mereka mampu menjadikan anak-anak pribumi sebagai kuli.

Kini, dengan menguasai media massa dan berbagai kegiatan ekonomi, mereka telah siap untuk menaklukkan Indonesia secara politik. Dan kaum pribumi akan semakin terjerembab dalam kemiskinan dan kelemahan dalam pemikiran.

Suatu hari nanti, pribumi akan bagai suku Indian di Amerika Serikat. Diburu, disingkirkan dari budaya mereka, digusur dari pemukiman mereka, bahkan dibunuh dengan keji. Atau seperti nasib penduduk Melayu di Singapura, yang dianggap sebagai “sisa peradaban lama”, atau terpaksa berkemah di pantai karena wilayah kota dipadati oleh etnis Cina.

Warga pribumi Jakarta dan sekitarnya telah mendekati nasib seperti warga Melayu Singapura. Mereka digusur atau lahan mereka dibeli dengan mahal dan cenderung memaksa, untuk memberikan ruang bagi orang-orang kaya yang umumnya etnis Cina.

Maka bertanyalah pada diri sendiri, apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan kaum pribumi dari penjajahan pemikiran dan ekonomi, serta dari kepunahan.

You might also like