Orang Suci, Kekuasaan, dan Peradaban

 

Priyono B. Sumbogo

Sejarah bercerita Ibrahim suci terpaksa meninggalkan Mesopotamia yang megah namun angkara dan menyembah berhala. Sidharta Gautama yang mulia pergi dari istana yang tidak berperasaan. Kemudian, walaupun telah memperoleh pencerahan, semasa hidupnya dia tidak berhasil mem-Budha-kan sebuah kerajaan. Zarathustra atau Zoroaster pembawa kitab Avesta juga bukan penguasa di kekaisaran Persia, kekaisaran bangsa Aria yang lebih dulu dan lebih besar dari India,Yunani, Romawi, maupun Cina. Isa Almasih atau Yessus Kristus yang disebut Raja, tidak pernah duduk di singgasana dan justru disiksa habis-habisan oleh penguasa Romawi. Muhammad penyampai Al-Quran, meninggal dunia sebelum sempat melihat berdirinya kekhalifan Islam di dunia.

Jumlah orang suci yang berhasil merangkap sebagai raja dapat dihitung dengan jari. Contohnya Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Namun keduanya hanya menjadi raja Israel yang jauh lebih kecil daripada Kekaisaran Persia di zaman itu. Bahkan sepeninggal Sulaiman, Israel digempur dan ditaklukkan oleh Persia yang berperadaban lebih maju.

Kebanyakan penakluk dunia dikisahkan kejam, jahat, pembunuh, ambisius, dan kemaruk. Kekaisaran Persia yang diperkirakan telah muncul sejak tahun 3000-an Sebelum Masehi, didirikan di atas perang berdarah. Iskandar Zulkarnaen atau Alexander The Great (356—323 SM) berkuasa dari Yunani sampai India setelah membunuhi manusia. Shih Huang Ti (259—210 SM) menyatukan China di atas genangan darah orang Cina. Babilonia (masih rangkaian kerajaan Persia) mendirikan Taman Gantung dan Menara Babel yang terkenal di atas penderitaan para budak. Begitu pula para Firaun, yang membangun Piramid dan kejayaan dengan kesombongan pada manusia maupun pada Tuhan. Jenghis Khan (1162—1227 Masehi) menaklukkan Cina dan Timur Tengah seraya menebarkan malapateka. Pasukannya membunuh, membakar pemukiman, dan memperkosa para perempuan.

Sebaliknya, kebanyakan orang suci pada umumnya digambarkan sebagai manusia yang menderita, bahkan ada yang dicincang sampai tewas. Selain Isa, Hasan dan Hussein – cucu Muhammad – dibunuh dengan kejam. Pada mulanya, pengikut mereka juga tidak banyak. Isa hanya memiliki murid 12 orang. Budha Gautama pun cuma diikuti segelintir orang.

Tetapi orang suci biasanya sangat dikenal di masanya, karena kegigihan mereka dalam mengajarkan kebaikan dan kebenaran. Orang suci senantiasa meninggalkan jejak yang panjang dan abadi dalam rangkaian kekuasaan dan perjalanan peradaban. Ibrahim – orang Mesopatima yang ketika itu menjadi ibu kota kekaisaran Persia –menjadi bapak para nabi kelahiran Timur Tengah, dan para nabi menjadi kiblat para penguasa serta peradaban di masa kemudian. Ajaran Sidharta Gautama menjadi pilar keukasaan dan peradaban Asoka, Cina, Sriwijaya, Thailand, dan lain-lain. Kematian Isa Almasih oleh tentara Roma, justru menjadikan Romawi sebagai pusat kekuasaan Kristiani yang besar. Sepeninggal Muhammad, kekhalifahan Islam menguasai dunia selama beratus-ratus tahun.

Di Jawa, ajaran Muhamad dikembangkan oleh para Wali. Para Wali pula yang meletakkan pilar-pilar kerajaan Islam, walau mereka sendiri tidak duduk di singgasana keraton.

Dunia saat ini berkiblat pada peradaban kapitalis Amerika dan Eropa. Walaupun Islam, Kristen, Budha, Hindu, atau Kong Hu Chu masih hidup, namun kekuasaan dan peradaban dunia lebih dilandaskan pada senjata, modal, gemerlap televisi dan film, serta kemegahan gedung-gedung yang mungkin dibangun dengan uang narkotika, perjudian, dan bisnis pelacuran. Kata yang digandrungi adalah yang meledak-ledak, mengadu-domba, atau menghujat. Tembang yang disukai adalah yang mengandung unsur porno. Tarian yang ditiru adalah yang membangkitkan birahi.

Indonesia adalah peradaban seperti itu. Di sini banyak penganut Islam, Kristen, Hindu, Budha, maupun Kong Hu Chu. Tetapi, sulit menemukan orang yang suci di antara mereka. Ustad digandrungi bukan karena kedalaman ilmunya, melainkan karena keterampilannya berdakwah bagai artis di layar kaca. Seorang ulama atau pendeta tiba-tiba populer bukan karena gigih bersyiar, melainkan karena memperoleh jabatan politik di legislatif atau eksekutif.

Tetapi zaman senantiasa melahirkan orang suci, walau bukan nabi. Mereka mungkin berada di suatu tempat dan sedang tidak bahagia. Mereka mungkin sedang begitu gigih memperjuangkan sesuatu, walau hanya diikuti segelintir orang dan belum menarik perhatian. Mereka mungkin hanya seorang tukang sapu jalan raya, seorang pedagang asongan, seorang guru taman kanak-kanak, seorang penyair, seorang guru mengaji di mushala kecil, seorang pendeta di gereja terpencil, seorang Brahmana di kuil Budha, atau seorang kuli bangunan.

Yang hampir dapat dipastikan, orang suci itu bukan berada di lingkungan politisi, bukan di antara para pengusaha, juga bukan dari kalangan wartawan. Juga bukan dari kepolisian. Sebab, keempat bidang ini telah menjadi bagian dari hiruk pikuk Indonesia yang menggelisahkan. Politisi bersekutu dengan pengusaha dan wartawan untuk merebut kekuasaan dan membangun peradaban saling serang, yang menghantar Indonesia ke tubir jurang perpecahan. Sementara polisi lebih pandai main tembak daripada menenangkan situasi.

Dan kita membutuhkan orang suci yang mampu mempengaruhi publik agar menjauhi politisi, pengusaha, dan pers yang berkomplot untuk merebut kekuasaan serta mengendalikan peradaban.

You might also like