Landscaping, JPM Sungguh Mencari Latar Masalah Pengguna Tol

Malang – Forumkeadilan.com. Pola ekspresi dalam pembangunan infrastruktur tak ada habisnya. Setelah infrastruktur untuk pertumbuhan dan pemerataan, untuk memperpendek biaya waktu dan biaya jarak. Juga, untuk maksud mengurangi pencemaran udara, keindahan dan peduli lingkungan sekitar. Seperti landscaping oleh PT Jasamarga Tol Pandaan Malang (JPM).

Bahkan, supaya publik bisa lebih mencerna arah dan makna pembangunan infrastruktur yang cenderung teknis, Biro Komunikasi Publik Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus meningkatkan teknik pengungkapan informasi infrastruktur yang teknis-teknis itu, supaya publik bisa lebih membaur dengan infrastruktur. Salah satunya melalui Majalah KIPRAH.

Seperti halnya majalah KIPRAH sebagai ekspresi media infrastruktur yang informatif-komunikatif, landscaping oleh JPM juga pola ekspresi dalam pembangunan jalan tol untuk maksud komunikasi penghijauan, keindahan atau peduli lingkungan. “Masyarakat juga tahu itu green green go green, untuk penghijauan, keindahan, peduli lingkungan, makanya (landscaping) perlu di Tol Pandaan Malang ini,” jawab Desi Arryani, ST.MM., Direktur Utama PT Jasa Marga ketika saya meminta responnya di Malang, Selasa sore lalu (29/10).

Hari itu, Desi baru dari Solo. Kabarnya ada kegiatan penilaian jalan tol. Mulai dari kebersihan, kesiapan rest area, hingga pelayanan keselamatan di jalan tol. Termasuk Tol Pandaan Malang.

Sebagaimana dirilis Marketing and Communication Department Head PT Jasamarga Transjawa Tol, Kamis (31/10), bahwa mulai 06.00 WIB tanggal 1 November 2019, Jalan Tol Pandaan-Malang seksi 4 (Singosari-Pakis) mulai dioperasikan. Tanpa tarif. Itu menyusul diterbitkannya Sertifikat Laik Operasi Nomor PB 0201-Db/986 dari Direktorat Jenderal Bina Marga.

Pengoperasian ruas seksi 4 ini berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor: 1026/KPTS/M/2019, tentang Penetapan Pengoperasian Jalan Tol Pandaan Malang Seksi 4 (Singosari-Pakis).

foto: Luthfi Pattimura

Untuk sementara, ruas tol sepanjang 4,75 km tersebut dioperasikan tanpa tarif (Rp 0,-) dalam rangka memberikan sosialisasi yang lebih optimal kepada masyarakat. Tarif tol akan mulai diberlakukan pada Kamis, 7 November 2019 pukul 00.00 WIB dengan besaran tarif tol sesuai dengan Keputusan Menteri PUPR Nomor 1027/KPTS/M/2019 tentang Penetapan Golongan Jenis Kendaraan Bermotor dan Besaran Tarif Tol Pada Jalan Tol Pandaan Malang.

Tapi di sini saya ingin meneruskan dulu cerita landscaping Tol Pandaan Malang. Menurut Indrawan, pimpinan proyek (Pimpro) itu bahwa, sepanjang kanan kiri tol Pandaan Malang itu bergunung, masih murni dengan persawahan, pedesaan, perbukitan, sehingga konsep landscap memang sudah wajib untuk mendukungng pemandangan yang indah tersebut.

“Konsep dasarnya dari situ, landscaping ini untuk mendung pemandangan yang indah tersebut, kita tanam tanaman keras tapi yang berbunga dan tanaman keras yang berbuah, memang kita beda dengan landscape di jalan tol yang ada,” ungkap Indrawan.

Menurutnya, ide awal landscaping  ini datang dari bosnya Agus Purnomo, Dirut PT JPM, untuk membuat landscape tapi yang berbeda, yang ada tanaman-tanaman langka. Makanya, “Konsep dasarnya agak beda, yakni tanaman langka, yang keras berbunga dan berbuah, ide awalnya dari Bapak Direktur Utama kami Pak Agus Purnomo,” tambah Indrawan, sambil memperlihatkan jenis-jenis tanaman yang dimaksudkan.

Ada tanaman jacaranda, heliconia, flamboyant orange, oleander, bungur pink, cassia glauca, cengkeh, tabebuya kuning, nusa indah, tabebuya rosea, tanaman merak, palem washington, nangka, sawo kecik, tanaman kupu-kupu, varigata putih, bougenville, sepatu dea, agave, dan sukun.

Pastilah, urusan khusus JPM bukan pertanaman. Jadi yang dipunyai cuma lahan. Supaya gagasan landscaping ini terwujud, bergandenglah JPM dengan Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan Jawa Timur.
“Kita punya lokasi untuk bisa menanam pohon. Kebun Raya punya punya bibit, punya tanaman. Kita kawinkan.

foto: Luthfi Pattimura

Tanaman keras yang berbunga nanti di kanan kiri jalan tol, sudah diperhitungkan tak kan mengganggu kalau ada pelebaran, sedangkan tanaman berbuah nanti di rest-rest area, di interchangenya yang memang jauh dari jalan tol.”

Kalau konsep-filosofi landscapingnya sudah disesuikan dengan kekuatan lingkungan alam dan sosial sekitar, yang menekankan keselarasan dan keseimbangan, tidak salah. JPM memiliki kemampuan estetis yang tinggi. Ide landscaping dari Agus Purnomo bahkan jelas merupakan bagian yang kuat dalam berekspresi di pembangunan jalan tol.

“Tanaman keras yang berbunga, akan berbunga dimusim tertentu misalnya  tiap 3 km ada warna ungu dari tanaman jacaranda, terus 3 km lagi ada warna orange dari tanaman flamboyant, dan warna-warna dari tanaman berbunga lainnya nanti di setiap 3 km,” tambah Indrawan.

Seperti umumnya landsacaping, fungsinya di jalan Tol Pandaan Malang ini untuk mengurangi pencemaran udara, juga mengurangi kebisingan. Untuk tanaman langka, nanti ada pohon-pohon tinggi besar seperti di jaman Kerajaan Singosari dan Majapahit. Di tempat tertentu juga akan disiapkan bambu-bambu kuning, bamboo cina. Sedangkan tanaman berbuah nanti boleh dipetik oleh pemakai jalan tapi gak boleh dibawa pulang.

Di saat mata hidung dan telinga pemakai jalan tol makin pingin akrab dengan penghijauan, keindahan, bahkan pengen jauh dari kebisingan dan polusi udara. Maka landscaping JPM bukan saja menunjukkan pola ekspresi dalam pembangunan infrastruktur jalan tol yang tak ada habisnya. Tapi JPM sunggu-sungguh mencari latar masalah yang menjadi keluhan para pengguna jalan tol. Luthfi Pattimura

You might also like