Hukuman Disiplin Untuk Polisi Bersenjata Saat Demo Yang Menewaskan Mahasiswa

 

Demo mahasiswa yang terjadi Kamis 26 September 2019  berujung ricuh. Dua mahasiswa meninggal dalam peristiwa itu. Satu di antaranya tewas akibat terjangan peluru tajam. Sedangkan satu warga menjadi korban peluru nyasar. Polisi kemudian melakukan penelusuran

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra menyatakan enam personel Polda Sulawesi Tenggara yang diduga membawa senjata dalam penanganan kericuhan aksi, telah dinyatakan bersalah. “Saat ini sudah diputuskan keenam anggota tersebut dinyatakan bersalah karena melanggar aturan disiplin. Secara keseluruhan diberikan hukuman disiplin,” ucap dia di kawasan

Keenam anggota Polres Kendari yang melanggar standard operational procedure (SOP) dalam pengamanan aksi unjuk rasa mahasiswa di gedung DPRD Sultra pada Kamis (17/10/2019) lalu, diberi teguran lisan.

Keenamnya, yang terdiri dari mantan Kasat Reskrim Polres Kendari, AKP DK, dan kelima polisi dari Satreskrim Polres Kendari, dinyatakan bersalah dan melanggar SOP karena membawa senjata api.

“Oleh karenanya secara keseluruhan diberikan hukuman disiplin, yang pertama teguran lisan,” ungkap Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Senin (28/10/2019).

Selain itu, hukuman lainnya adalah penundaan kenaikan pangkat selama setahun bagi keenam anggota polisi tersebut.

Hukuman terakhir yaitu keenamnya ditempatkan di tempat khusus selama 21 hari.

“Kemudian penundaan satu tahun kenaikan pangkat dan juga mereka ditempatkan di tempat khusus selama 21 hari,” katanya.

Sebelumnya, dari hasil pemeriksaan, kelima polisi dari Satreskrim Polres Kendari tidak mengikuti apel sebelum melakukan pengamanan demonstrasi mahasiswa, sehingga mereka tidak mendengar arahan atau instruksi kapolres.

You might also like