FIB UI Lakukan Pengabdian Pada Masyarakat Untuk Kopi Sadon

 

Minggu, 15 September 2019, enam orang yang terdiri dari dosen dan mahasiswa  Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIBUI)  menuju  kampung Cisadon, desa Karang Tengah, Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Mereka adalah Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (Pengmas FIBUI)  yang datang  ke kampung  tersebut untuk menjelaskan hasil kajian dan memberikan saran  demi peningkatan kualitas  kopi sadon kepada Kang Farid, pemilik kopi sadon. Dipimpin oleh Tommy Christomy, dosen FIBUI, Tim Pengmas FIBUI—setelah melewati medan yang cukup berat—tiba di kampung Cisadon pada pukul 9.30.

Petani kopi Sadon

Kopi sadon adalah kopi organik yang dihasilkan dari tanaman kopi hutan di kampung Sadon. Kopi ini memiliki keunggulan karena berasal dari kopi hutan yang ditanam tanpa bantuan pupuk kimia. Kopi sadon  termasuk jenis kopi robusta  yang biasanya ditanam di dataran rendah. Namun, berbeda dengan kopi robusta lainnya, kopi sadon justru tumbuh di dataran tinggi. Di sinilah antara lain keunggulan kopi sadon milik Kang Farid, di samping sifatnya yang organik. Bahkan, tidak hanya itu. Kopi sadon sebagian dihasilkan dari buah kopi hasil permentasi luwak liar yang hidup di lingkungan dan kawasan hutan di sekitar kampung Cisadon.

Produk kopi Sadon

Ketiga  hal tersebut–berasal dari hutan, organik, dan hasil permentasi luwak—telah membuat rasa kopi sadon sedap. Saking sedapnya, boleh dibilang rasa kopi sadon tak terperi. Rasa sedap itu melekat sedemikian rupa sehingga tak cepat hilang. Sedap kopi itu seakan enggan pergi dan lebih memilih untuk  “manjing” di bagian rongga dalam kalamenjing (jakun). Tidak hanya itu, lantaran keorganikannya, kopi sadon juga terasa  spesial, terutama dari aromanya yang wangi. Kalau sedap kopi sadon dikatakan tak terperi, maka  wangi kopi sadon tak bertepi. Wanginya menyebar-menjalar. Semua keunggulan itu telah menjadi karakteristik kopi sadon yang hakikatnya berbasis pada kealamian atau naturalitas. Tak salah kalau dikatakan bahwa kopi sadon adalah kopi natural.

Tim Pengmas FIBUI dalam kegiatannya selama enam bulan telah mempelajari keunggulan kopi sadon dan memberikan saran kepada Kang Farid—pemilik kopi sadon—untuk mempertahankan karakteristik tersebut. Di samping itu, Tim Pengmas FIBUI juga memberikan sejumlah masukan untuk lebih meningkatkan kualitas kopi sadon. Dalam konteks itu, Tim Pengmas FIBUI dengan bantuan para pihak yang kompeten di bidang perkopian, memberikan edukasi mengenai pentingnya mempertimbangkan suhu, durasi roasting, dan alat yang tepat—baik dari segi bentuk/ukuran maupun kecanggihannya—guna peningkatan mutu kopi ke depan. Terkait dengan kemasan, branding, dan pemasaran—dengan bantuan para ahli—Tim Pengmas FIBUI juga telah menyampaikan sejumlah saran dan alternatif.

Tim PKM FIB UI dsn petani kopi Sadon

Pada tahap awal, Tim Pengmas FIBUI akan memberikan bantuan dalam mendesain logo atau merek kopi sadon, menyediakan kemasan (bungkus kopi) dalam jumlah terbatas, serta membantu pemasaran, khususnya pemasaran di lingkungan kampus Universitas Indonesia. Pada Dies Natalis FIBUI, Desember 2019 ini, pemilik kopi akan diundang dan diperkenalkan dengan sivitas akademika FIBUI.

You might also like