Ustad Somad Dipolisikan, Islam Dianggap Dalam Bahaya

.

Sudah sejak dulu penganut Islam khususnya di Indonesia memandang tanda Salib dan patung Yessus adalah simbol kekafiran. Namun Video tausiah  Ustadz Abdul Somad (UAS) tentang Salib dan patung Yessus alam beberapa hari belakangan ini menjadi viral dan dibawa ke ranah hukum.

Video pendek berdurasi sekitar satu menit dan 54 detik  tentang salib dan patung itu  beredar sangat luas melalui media sosial seperti facebook, group whatsapp, dan youtube. Ketika menjawab pertanyaan jamaah Islam tentang Salib, Ustad Somad mengatakan bahwa di dalam Salib ada “jin kafir”.

Tausiah yang dilakukan tiga tahun silam di sebuah masjid di Riau itu mendadak memicu ketegangan antar umat beragama. Di puncak  ketegangan itu Ustad Abdul Somad yang populer dipanggil UAS dilaporkan ke Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh Brigade Meo Nusa Tenggara Timur (NTT) karena Abdul Somad dinilai menistakan agama kristen.

Koordinator Horas Bangso Batak Jakarta, Yusuf Erwin, juga secara resmi melaporkan Ustaz Abdul Somad ke Polda Metro Jaya Senin 19 Agustus 2019. Ia membuat laporan karena ustaz kondang itu telah menista agama kristiani. Laporan itu diterima oleh Sentra Pelayanan Polisi Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya dengan nomor LP/5087/VIII/2019/PMJ/Ditreskrimum. “Kita sudah melaporkan Ustadz Abdul Somad ke Polda Metro Jaya karena dalam ceramahnya di Pekanbaru sudah menista agama kami dengan menyebut salip itu adalah iblis,” ujar Yusuf di Mapolda Metro Jaya.

Yusuf  berharap, dengan dilaporkannya Ustadz Abdul Somad, penyidik Polda Metro Jaya bisa segera menyelidiki kasus ini. Ia mengaku baru melaporkan Abdul Somad hari ini karena baru mendapatkan video ceramah beberapa waktu lalu. “Jadi kami adalah organisasi anti intoleran. Kami melaporkan ustadz Abdul Somad karena Indonesia adalah negara hukum,” ujar Yusuf, seraya mengaku sudah menyerahkan beberapa barang bukti seperti video yang tersebar di sosial media.

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pun melaporkan Abdul Somad ke Bareskrim Polri. GMKI menilai video dakwah Abdul Somad dianggap telah membuat gaduh masyarakat. Laporan itu diterima pihak kepolisian dengan nomor LP/B/0725/VIII/2019/Bareskrim tertanggal 19 Agustus 2019.

Seseorang bernama Sudiarto juga ikut melaporkan Abdul Somad. Laporannya diterima dengan nomor LP/B/0723/VIII/2019/Bareskrim tertanggal 18 Agustus 2019.

Patung Yessus disalib

Sehari kemudian, Dewan Perwakilan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) Jawa Timur mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) untuk melaporkan Ustaz Abdul Somad, Selasa 20 Agustus 2019. “Kami ingin melaporkan seseorang yakni Pak Ustaz Abdul Somad yang menyebarkan video tentang ujaran kebencian yang ada di media sosial,” kata Ketua DPD GAMKI Jatim Rafael Obeng di Mapolda Jatim, Surabaya.

Para pelapor umumnya menganggap video ceramah Ustaz Abdul Somad yang mengatakan bahwa dalam hukum Islam, Salib adalah tempat bersarangnya jin kafir, dianggapnya sebagai video yang berisi ujaran kebencian terhadap agama Kristen dan Katholik. Itu tak lain karena Salib merupakan lambang agama Kristen dan Katholik. Mereka tidak terima karena merasa Ustaz Abdul Somad telah mempersepsikan Salib dengan persepsi salah. “Dalam Kristen maupun Katholik, Salib itu simbol dari agama Kristen dan Katholik. Kalau Ustaz Abdul Somad menyampaikan itu terus dipersepsikan secara salah,” ujar Rafael.

Rafael mengaku, pelaporan yang dilakukan agar menjadi pelajaran bagi tokoh-tokoh agama, supaya lebih berhati-hati saat memberikan ceramah keagamaan. Karena, kata dia, tokoh agama merupakan peneduh sekaligus peneguh kesatuan dalam berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia.

Sementara itu, pelapor Ustaz Abdul Somad (UAS) atas dugaan penghinaan agama, Sudiarto, akan melakukan mediasi terlebih dahulu. Hal tersebut agar ada kejelasan dari pihak-pihak terkait.  “Karena sudah ada yg disakiti, biarlah proses (hukum) tetap berjalan. Tapi saya juga akan koordinasi ke Kementerian Agama untuk selanjutnya di mediasi,” Ujar dia kepada wartawan Senin 19 Agustus 2019.

Menurut dia, mediasi diperlukan terlebih dahulu agar masyarakat tidak terpecah belah ke depannya. “Entah apa UAS ini salah ngomong atau apanya, kita tunggu saja dan kita juga tidak mau meributkan ini,” kata dia.

Dia mengaku tidak ada maksud untuk menyerang Muslim. Pelaporan tersebut hanya terkait pribadi UAS. Menurut dia,  permintaan maaf UAS kepada umat Nasrani dan Kristen juga sudah dirasa cukup.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang ketika kampanye menentang Peraturan Daerah tentang Syariah ikut angkat suara. Partai ini menyesalkan ceramah UAS karena dianggap dapat menimbulkan ketegangan hubungan antara umat beragama. “Kami mengharapkan mempertimbangkan dengan baik semua hal yang disampaikan. Jangan sampai memicu konflik di masyarakat,” kata Juru Bicara PSI, Azmi Abubakar, dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Senin,19 Agustus 2019.

Sedangkan Sekretaris Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI)  Sahat Martin Philip Sinurat menganggap ucapan UAS ini sebagai ucapan individu, dan bukan mewakili umat Islam di Indonesia yang selama ratusan tahun sudah hidup berdampingan dengan pemeluk agama lainnya. “Namun kami menyayangkan adanya ucapan ini, apalagi UAS selama ini kita kenal sebagai seorang Ulama ternama, juga seorang pendidik berstatus PNS yang kita harapkan bisa menuntun anak bangsa menuju jalan kebaikan dan kedamaian,” terang Sahat.

DPP GAMKI, kata Martin, juga mengajak kepada setiap lembaga agama, baik Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Budha, Konghucu dan aliran kepercayaan lainnya, untuk saling menjaga keharmonisan karena hidup di tengah masyarakat yang majemuk.

Di tempat lain, Rohaniwan Antonius Benny Susetyo mengimbau seluruh umat Katolik tak perlu baperan atas viralnya komentar dari Ustad Abdul Somad dalam sebuah video yang menyinggung simbol salib Gereja Katolik. “Umat Katolik tidak perlu risau dan reaktif terhadap viralnya video tersebut. Ini saatnya kami menerapkan ajaran Kristus, yakni belas kasih, mengampuni sesama,” kata Romo dikutip dari Antara di Jakarta, Minggu 18 Agustus 2019.

Romo Benny menjelaskan bahwa corpus yang disinggung itu merupakan simbol patung tubuh Yesus yang bagi umat Katolik diyakini sebagai penggenapan nubuat para nabi akan Sang Mesias, pengajaran akan keadilan Allah, pengajaran kasih Allah dan pengingat untuk saling mengasihi. “Corpus Kristus itu diimani sebagai pengorbanan Kristus dalam pewartaan, wafat, dan kebangkitan Yesus. Pasalnya, tidak mungkin ada kebangkitan Kristus tanpa sengsara dan wafat-Nya disalib,” ujar Romo Benny.

Untuk meredam potensi ketegangan antarumat beragama akibat pernyataan Abdul Somad tersebut, Benny memandang perlu ada pernyataan maaf dari ustaz lulusan Universitas Al-Azhar Mesir itu.

Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu juga meminta polemik terkait dengan pernyataan Abdul Somad harus segera dihentikan. Hal itu agar tidak menimbulkan perpecahan antarumat beragama di Indonesia.

Karena situasinya kian menghangat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengundang Ustad Abdul Somad  untuk membicarakan persoalan tuduhan penistaan agama yang tengah ramai diarahkan kepadanya. Tuduhan itu bermula saat Somad memberikan ceramah di depan jamaah dan menyebut salib ada jin kafirnya.

Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, Masduki Baidowi menginformasikan pertemuan ini untuk bertabayyun atau mengklarifikasi permasalahan yang sesungguhnya terjadi. MUI tidak ingin situasi terus memanas. “Rapat pimpinan MUI memanggil UAS itu untuk bagaimana jangan persoalan ini eskalasinya makin melebar. Sehingga merusak terhadap persatuan dan kesatuan,” ujar Masduki di kantor MUI Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 21 Agustus 2019

Selain itu, Masduki tak sepakat kasus ini dibawa ke ranah pidana. Karena justru bisa memantik kondisi semakin memanas. Buktinya, saat ini sudah ada pihak yang balik melaporkan pelapor kasus Somad. Di sisi lain, Masduki berpesan kepada seluruh pihak agar tetap menjaga tutur katanya. Jangan sampai pernyataan yang keluar justru memancing terjadinya konflik. “Kami mewakili umat tentu saja harus berhati-hati terkait dengan pembicaraan, berpidato ataupun yang lain. Saya kira ini semuanya bagi peringatan kami bersama-sama. Ambil hikmahnya,” jelasnya.

Sikap MUI tergambar lewat Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI, Masduki Baidowi menegaskan bahwa lembaganya tak menghakimi UAS pasca-dakwahnya yang viral dengan menyinggung salib.

Ustad Abdul Somad menyampaikan ceramahnya yang dihadiri ribuan jamaah Masjid Agung Sungailiat yang memadati ruangan dan halaman Masjid Agung Sungailiat, Kamis (7/12/17) subuh.(Bangka Pos/ Edwardi)

Masduki sudah menyangka bahwa ucapan UAS di Masjid An Nur, Pekanbaru tahun 2016 atau tepatnya tiga tahun lalu itu akan viral kemana-mana. “Memang satu diskusi di internal tadi. Itu jangan masuk ke wilayah yang sifatnya bisa menyinggung orang lain,” kata Masduki di Gedung MUI, Jakarta Pusat, Rabu 21 Agustus 2019.

Masduki melanjutkan, soal patung meski ada di dalam Al Aquran, namun hal itu bisa menyinggung ajaran agama lain meski disampaikan dalam forum kajian agama yang tertutup sekalipun. “Nah persoalan seperti itu kita menginginkan ustad Abdul Somad tidak masuk dalam wilayah seperti itu. Apalagi misalnya menyinggung persoalan ke agama lain,” jelas Masduki.

Masduki melanjutkan bahwa MUI saat ini fokus meredam isu ini dan bisa membuat suasana kondusif kembali. “Ya harapannya supaya tidak ada gugatan balasan dari pihak yg lain, dan kemudian kalau dicabut ya lebih bagus,” jelas Masduki.

Sedangkan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain menganggap pernyataan UAS tidak bisa dianggap menghina agama lain.

Pertama, penggalan video tersebut bukanlah sebuah ceramah. Melainkan tengah menjawab pertanyaan jamaah. “Itu bukan ceramah beliau, tapi menjawab pertanyaan jamaah di Masjid An-Nur Pekanbaru,” ucap Tengku Zulkarnain, Senin 19 Agustus 2019

Waktu kejadian pun sudah lama, lebih dari tiga tahun yang lalu. Bahkan, jawaban pertanyaan yang disampaikan UAS dilakukan di dalam Masjid yang tertutup dan eksklusif. “Kejadian sudah lebih tiga tahun lalu. Jawaban pertanyaan itu dilakukan di Masjid An-Nur secara tertutup dan khusus jamaah kaum Muslimin, 100 persen tidak ada jamaah agama lain,” imbuhnya.

Yang terakhir, kata Tengku, jawaban yang disampaikan UAS bukanlah menghina agama lain. Oleh karena itu, UAS tidak bisa dituduh menghina agama lain, karena Islam memang mengajarkan begitu.

Ustad Somad sudah menjelaska isi ceramahnya dan tak mau meminta maaf. Menurut dia membahas salib saat itu bukan tema kajian rutin subuh di Masjid Agung An Nur Pekanbaru, Riau, melainkan terjadi saat sesi tanya jawab. “Ketika itulah ada masyarakat yang bertanya lalu saya menjawab, maka video itu adalah menjawab pertanyaan,” kata Somad.

Selain itu, materi yang disampaikan tersebut disiarkan hanya di tengah komunitas tertentu dan di area tertutup. “Bukan tablig akbar di tanah lapang, stadion sepak bola, bukan di waktu ramai sampai seratus ribu orang, tapi pengajian,” imbuhnya.

Ustad lulusan Kairo, Mesir itu menyebut kajiannya sebatas menjelaskan aqidah umat islam. Bahwa memang di ajaran Islam apabila di dalam sebuah rumah ada patung, malaikat enggan masuk. Sebab, di dalam islam patung adalah salah satu tempat tinggal jin. “Oleh sebab itu penjelasan itu saya jelaskan untuk menjaga aqidah umat islam, saya tidak sedang kapasitas perbandingan agama, atau berdebat, atau berdialog, tapi menjelaskan aqidah umat islam,” tukas Somad.

Kamudian, ia mengutip surat Al-Maidah ayat 73 yang menegaskan keyakinan untuk tidak perlu meminta maaf. Menurutnya, jika dirinya minta maaf, ia mengatakan bahwa ayat itu mesti dibuang.

“Dalam islam mengatakan; Laqad kafarallazina qalu innallaha salisu salasah, wa ma min ilahin illa ilahuw waid, wa il lam yantah ‘amma yaqlna layamassannallazina kafar min-hum ‘azabun alim, sesungguhnya ‘maaf’ kafirlah orang yang mengatakan Allah itu 3. Saya jelaskan itu di tengah umat Islam, lalu orang yang mendengar itu tersinggung atau tidak? Tersinggung. Apakah perlu saya minta maaf? Kalau saya minta maaf, berarti ayat itu musti dibuang. Nauzubillah,” tegasnya usai memenuhi panggilan MUI di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu 21 Agustus 2019.

Bukan cuma kali ustad atau ulama diserang karena menjelaskan pandangan Islam tentang Salib dan patung Yessus. Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustaz Fahmi Salim menuturkan, apa yang dialami UAS kali ini hampir mirip dengan pengalaman yang pernah diutarakan Buya Hamka. Hamka menceritakan persekusi yang dialami oleh KH SS Djam’an, ulama masyhur pada dekade 1960-an, saat memberikan pengajian di rumah salah satu warga. Kiai Djam’an menjelaskan tafsir firman Allah ayat 4-5 Surah al-Kahfi tentang makna tauhid yang murni dan menyesatkan paham trinitas.

Rupanya, kalangan nonmuslim ada yang menguping pengajian Kiai Djam’an ketika itu. Selepas pengajian, saat hendak pulang, Kiai Djam’an dikepung sekumpulan pemuda Kristen berbadan kekar dam sangar, sambil meneriakkan kalimat “Anda anti-Pancasila!”.

“Dan, kita disuruh toleransi. Toleransi dengan tafsiran bahwa kita jangan atau dilarang menerangkan akidah kita. Siapa yang berani menerangkan akidah kita, maka rumahnya bisa dikepung  atau bisa diproses,” sindir Hamka, mencontohkan kejadian yang menimpa Kiai Djam’an.

Ustaz Fahmi Salim mengatakan, pada1960 Hamka pernah berkhutbah di Masjid Agung al-Azhar Jakarta bahwa di Indonesia saat ini Islam dalam bahaya, akibat wabah intoleransi dan tudingan anti-Pancasila oleh organ-organ Nasakom kepada partai Islam, ormas Islam, dan tokoh-tokoh ulama Islam. Rupanya khutbah Hamka itu sampai juga ke telinga Soekarno, presiden dan pemimpin besar revolusi yang ditabalkan oleh Nasakom.

Soekarno lalu bereaksi dan menyatakan dalam sambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di istana negara bahwa ada orang yang mengatakan Islam dalam bahaya di republik ini, sebenarnya orang yang berkata itu sendirilah yang sekarang dalam bahaya. Tak lama kemudian, pada 1964, Hamka ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh rezim Nasakom dengan tuduhan hendak menggulingkan pemerintah, berencana membunuh presiden dan menteri agama, dan kontra-revolusi.

“Rupanya, kata-kata bapak presiden itu adalah isyarat bahwa Hamka sudah diincar dan jadi target persekusi dan kriminalisasi ulama di era kejayaan komunis di bawah naungan rezim Nasakom,” ujar Ustaz Fahmi Salim kepada Indonesia Inside di Jakarta, Minggu 18 Agustus 2019.

Kini, tampaknya sejarah kembali berulang. Dan Ustad Fahmi memaklumi bila tidak sedikit umat Islam yang mengkhawatirkan Islam dalam bahaya.

 

Hamdani

 

 

 

 

 

 

 

You might also like