Tes Tulis Bakal Calon Kepala Desa Dipungli Panitai Pilkades Sampai Rp 3 Juta

Nurhasyim salah seorang dari dua bakal calon kepala desa (Bacakades) Rejoagung, Kecamatan Srono yang mengaku dimintai sejumlah uang oleh oknum panitia pilkades di desanya berinisial ‘G’ saat akan melakukan uji tes tulis. Uang tersebut dimaksudkan untuk dapat memberi jalan agar dirinya lolos dalam tes maju ke calon kepala desa.

“Awalnya itu ketua panitia (pilkades) ‘G’ (inisial) di tingkat desa. Dia itu mencari saya seharian tidak ketemu, akhirnya sore nyari saya lagi tidak ketemu. Kemudian malamnya saya ke rumahnya. Terus saya tanya, ada apa Mas ‘G’?,” Ungkapnya.

Akhirnya, percakapan dimulai. Hingga, ‘G’ menyebutkan niat dan meminta jumlah nilai uang yang harus dibayar.

“Kini Pak Nur, ada masalah soal pelolosan calon kades. Saya baru saja ikut rapat di Banyuwangi tadi dengar, kusak-kusuk ada uang kalau mau lolos,” ucap Nur menirukan pernyataan ‘G’.

Lalu, kata Nur, dirinya kaget saat mendengar adanya uang itu. Lantas dia menanyakan untuk apa dan berapa jumlahnya.

“Lho kok gitu, kok ada uang-uangan, katanya kan anti. Tapi itu kalau jadi keputusan kan repot. Akhirnya dia tak tanyai, berapa jumlahnya, dia menjawab Rp 3 juta, tak tawar Rp 1 juta, akhirnya sepakat Rp 1,5 juta. Lalu dia bilang kalau bisa memberi uang Rp 1,5 dijamin lolos,”

“Lho kalau itu namanya kan gak etis to, lha wong namanya kita sudah mau berantas korupsi kok gitu. Tapi kata dia, kalau gitu kan gak bisa lolos tanpa itu,” ungkapnya.

Usai percakapan itu, Nurhasyim memutuskan pulang ke rumah. Pertemuan dilanjutkan keesokan harinya.

“Lalu saya pulang, kemudian paginya saya datang ke rumahnya. Saya beri uang Rp 1,3 juta, tapi niat saya bukan nyuap. Saya haram untuk menyuap, tapi karena dia ini syarat untuk lolos jadi saya ingin lolos. Saya tidak ada niat untuk nyuap,” terangnya.

Tapi anehnya, setelah ujian tes tulis berlangsung panitia seleksi Pilkades Kabupaten Banyuwangi memutuskan Nurhasyim tidak lolos menjadi calon kepala desa. Lalu, apa arti dari uang yang diberikan tersebut?

“Tahu-tahu setelah tes, saya dinyatakan tidak lolos,” ujarnya.

Justru, Nurhasyim mendapat ancaman agar tidak memberitahukan mengenai transaksi uang itu kepada siapapun. “Awas Pak Nur, jangan kasih tahu kepada siapapun, hanya sampean sendiri lho, kata dia. Saya demi njenengan,” katanya.

Ternyata, Nurhasyim tidak sendirian. Salah seorang temannya bernama Agus yang juga Bacakades Rejoagung, Kecamatan Srono juga mendapat perlakuan yang sama.

“Ternyata teman saya Agus juga dimintai uang Rp 1,5 juta. Dan diberi juga dan gak lolos juga,” akunya.

Menurut pengakuan Nurhasyim, bacakades di desanya yang dimintai uang hanya dua orang. Yaitu dirinya sendiri dan Agus temannya.

“Kalau di desa saya ya saya sama Mas Agus saja. Kalau calon yang lain ndak tahu saya. Di desa saya ada 8 calon,” ungkapnya.

Atas kejadian ini, Nurhasyim kemudian datang ke Kantor Bupati Banyuwangi. Tujuannya untuk menemui pantia Pilkades Kabupaten dan mencari pertanggungjawaban. Akan tetapi, sayang niatnya bertemu panitia pilkades terhenti karena pihak yang dimaksud tidak ada di tempat.

“Kalau saya, kita kam kasihan masyarakat. Banyak masyarakat yang golput, saya kan gak mau golput. Sudahlah, kalau memang gak nyalahi aturan sudahlah calon delapan biarkan maju semua, biar yang menentukan masyarakat,” tegasnya.

Sekedar diketahui, uji tes tulis Bacakades di Banyuwangi dilaksankan Kamis (29/8/2018) lalu. Ada 305 Bacakades dari 41 desa yang turut dalam tes.

Tes dilakukan bagi desa yang memiliki Bacakades lebih dari 5 orang. Jumlah keseluruhan Bacakades yang mendaftar sebanyak 621 dari 130 desa di 24 kecamatan. (rin)

Ket : Nurhasyim Bacakades Rejoagung, Kecamatan Srono saat mendatangi Kantor Bupati Banyuwangi.

You might also like