Sembilan Warga Minang Tewas Di Wamena, Ketua Adat Minangkabau Himbau Tak Balas Dendam

Kerusuhan di Wamena, Papua, memakan banyak korban jiwa. Sembilan di antaranya adalah perantau asal Sumatera Barat (Sumbar). Berdasar data yang diperoleh Pemprov Sumbar, terdapat sembilan warga asal Ranah Minang yang meninggal dunia akibat kerusuhan tersebut.

Kepala Biro Humas Pemprov Sumbar Jasman Rizal mengatakan, atas nama masyarakat dan pemerintah daerah menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya sembilan warga Sumbar di Wamena. “Kita mendoakan para korban husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dalam menghadapi keadaan ini,” kata Jasman kepada JawaPos.com, Selasa (24/9).

Lebih lanjut Jasman menuturkan, kini warga Sumbar lainnya di Wamena telah diungsikan ke Jayapura. Terutama para perempuan dan anak-anak. Sedangkan untuk laki-laki masih bertahan. “Kepada warga Sumbar yang masih bertahan di Wamena kami imbau agar berupaya dengan berbagai cara untuk menyelamatkan diri dan jangan terpancing dengan hal apa pun yang dapat mengganggu keselamatan,” imbuh Jasman.

Adapun warga Sumbar yang menjadi korban jiwa di Wamena atas nama Syafriyanto, 36; Putri, 30, (istri Syafrianto); Rizky, 4, (anak Syafrianto). Lalu, Jefry Antoni 23; Hendra, 20; Ibnu, 8; Iwan, 24; Nofriyanti,40;  dan Yoga Nurdi Yakop,28). Semua korban tercatat berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan.

Atas musibah ini Pemprov Sumbar memberikan bantuan dengan menanggung sepenuhnya proses pemulangan jenazah ke kampung halaman. “Seluruh biaya peti mati ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov Sumbar. Ambulans sudah disiapkan di BIM (Bandara Internasional Minangkabau) untuk mengantarkan jenazah ke kampung masing-masing korban,” imbuh mantan Kadisparbud Kabupaten Solok itu.

Berdasar data Ikatan Keluarga Minang (IKM) Papua, jumlah perantau Minangkabau di Bumi Cenderawasih mencapai sekitar 1.200 jiwa. Sementara itu, dalam kondisi saat ini Pemprov Sumbar terus berkoordinasi dengan Korem 172/Praja Wira Yakthi (PWY). Sebab, sebagian besar warga Sumbar di Wamena mengungsi di Markas Kodim di wilayah Korem 172/PWY.

“Pemprov Sumbar selalu berkomunikasi dengan pihak pihak terkait guna memantau perkembangan kondisi masyarakat Sumbar di Wamena, sambil mengambil langkah langkah yang dianggap penting dan perlu untuk keselamatan warga Sumbar di Wamena,” terangnya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut, hingga Selasa (24/9) tercatat 26 masyarakat sipil dipastikan tewas akibat kerusuhan di Wamena. Mayoritas masyarakat pendatang. “22 orang adalah masyarakat pendatang,” ujar Tito dalam konferensi pers di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa (24/9).

Masyarakat pendatang yang menjadi korban kerusuhan ini, kata mantan Kapolda Papua itu, umumnya bekerja di Papua sebagai tukang ojek, pekerja ruko, karyawan retoran, dan lain sebagainya. Mereka tewas dengan luka bacok, tertembus panah dan kekerasan lainnya.

Untuk menjamin keamanan warga di Wamena, terutama warga pendatang, Tito telah menambah jumlah pasukan keamanan. Namun, dia tidak menyebutkan pasti angka penambahannya. “Masih banyak pendatang yang mengungsi di kantor kodim, kantor polres, di kantor aparat-aparat keamanan yang ada di sana. Sehingga kita berusaha menjamin dulu keamanan dengan memperkuat, mempertebal jumlah personel,” pungkasnya.

 

Ketua Adat Minang Hinvau Tak Ada Balas Dendam

Ketua Mahkamah Adat Alam Minangkabau (MAAM) Tengku Irwansyah mengimbau kepada semua elemen di Minangkabau, untuk bisa sabar dan ikhlas. Himbauan ini terkait dengan tragedi di Wamena yang menimpa warga Sumbar.

Irwansyah meminta agar tidak ada provokasi melakukan agitasi serta memobilisasi anak nagari Minangkabau untuk melakukan  tindakan balas dendam. Dalam momen seperti ini, menurut Irwansyah, saatnya warga Minangkabau mempraktekkan nilai-nilai keminangkabauan. Yaitu filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK).

“Mengimbau dengan tulus kepada semua pihak, niniek mamak, alim ulama dan cadiek pandai, Tungku Tigo Sajarangan di Minangkabau untuk bisa sabar dan ikhlas menerima cobaan ini. Jangan melakukan tindakan balas dendam,” kata Irwansyah usai melakukanb pertemuan dengan Komandan Korem 032/Wirabraja Brigjen Kunto Arif Wibowo di Padang, Senin (30/9).

Irwansyah mengatakan, Pemerintah Provinsi Sumbar dan sejumlah pihak terkait telah menangani warga perantau Sumbar di Wamena, yang masih mengungsi pascakejadian di Wamena. TNI/Polri juga sudah melakukan tindakan pengamanan agar kejadian serupa tidak lagi terulang di Wamena.

MAAM juga mengingatkan warga Sumbar agar hati-hati menyikapi informasi yang simpang siur di sosial media. Terlebih informasi yang memuat ujaran kebencian dan hasutan untuk membalas kejadian di Wamena. MAAM kata Irwansyah tidak mau Indonesia tercabik-cabik oleh ulah provokator. “Biarkan aparat kepolisian yang menindaklanjutinya,” ujar Irwansyah.

Danrem Kunto Arif Wibowo siap mendukung upaya tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk meredam provokasi pasca tragedi Wamena. Menurut Kunto menyebut perlu kerja sama semua pihak untuk menangkal isu-isu yang bersifat provokatif agar situasi pascakejadian Wamena tidak semakin ‘panas’.

Danrem 032/Wirabraja mengatakan, aparat TNI dan Polri saat ini sudah membuat kondisi di Wamena berangsur membaik. Kunto mendapat informasi bahwa semua warga Wamena saat ini bersama-sama ingin memulihkan keadaan di kota tersebut supaya kembali aman, normal seperti semula. “Bahkan, orang-orang Wamena pun ikut serta berupaya menenangkan situasi,” kata Kunto.

You might also like