Penambangan Timah Liar Di Sungai Perimping Dihentikan

Forumkeadilan.com, Riau Silip – Tim gabungan yang terdiri, Polsek Riau Silip dan Satpol PP serta jajaran Kecamatan Riau Silip,  hentikan penambangan liar di kawasan Sungai Perimping. Penghentian dilakukan karena penambangan, bisa mengancam robohnya jembatan sungai Perimping.

Hal itu diungkapkan Penegak Perundang Undangan Daerah Kabupaten Bangka, Ahmad Suherman, Kamis (12/09/2019) di lokasi penertiban.

Dijelaskan Ahmad Suherman, tim turun lapangan dengan menggunakan dua perahu sped. Setiba dilokasi ditemukan sekitar 30 penambang ilegal apung, melakukan aktifitas pencarian timah, berjarak 200 meter dari jembatan perimping. Tim yang dipimpin langsung kapolsek Riau Silip,  menghimbau agar para penambang menghentikan aktivitas, pertambangan ilegal tersebut,

” Sangat disayangkan kegiatan  penambangan apung, dekat dengan hutan bakau dan jembatan di koordinir  beberapa orang  dengan sebutan PAM,” tuturnya.

Ditambahkan Ahmad Suherman, PAM itulah yang mengatur kegiatan penambangan di Sungai Perimping. Setiap  penambang  di cantiing dari hasil timah tersebut. Dengan alasan utuk di bagi-bagi ke pihak-pihak tertentu.  Mereka ini berkuasa mengatur dan tidak punya rasa takut, untuk melegalkan kgiatan tersebut,

“Memang keterlaluan sekali ulah mereka. Pasalnya papan pengumuman himbauan dari kepolisian, tentang larangan menambang, di robek. Dan  di tulis kata-kata jorok dengan spidol oleh para penambang,” pungkasnya.

 

Memusingkan Aparat

Aktifitas tambang liar yang berjarak hanya ratusan meter dari jembatan Sungai Perimping Kecamatan Riau Silip Kab, Bangka kembali marak, dan bahkan makin menggila. Para penambang terkesan tidak ada rasa takut meskipun sebelum-sebelumnya sering dilakukan penertiban oleh aparat kepolisian.

Kapolsek Riau Silip, Iptu Suhendra saat dihubungi melalui sambungan telpon, Selasa malam (11/09/19) mengaku pusing harus bagai mana cara mengatasi tambang tersebut sebab menurutnya selain personil terbatas sarana untuk menuju lokasi juga terbatas.

“Pusing saya bagaimana cara mengatasi penambang tersebut, melalui himbauan sudah, di usir juga sudah, namun mereka balik lagi-balik lagi, sementara untuk menjangkau lokasi tersebut sarana kita tidak ada, kalau pun  meminjam sped boad dari Tanjung Batu kita tidak enak karena mereka juga mau bekerja, kalau jalan kaki tidak bisa, jalan mobil juga tidak bisa kita, harus bagaimana makanya saya pusing,” ungkap Iptu Suhendra.

Sungai Perimping

Upaya lain yang juga sudah dilakukan, kata Suhendra yakni himbauan melalui pengeras suara namun penambang tersebut tidak mendengarnya karena kuatnya suara mesin. Begitu juga dengan spanduk himbauan, dan bahkan spanduk juga telah di sobek-sobek.

“Kalau saya tahu yang menyobek spanduk himbauan tersebut saya pidanakan, karena itu sudah merusak,”  ancam Suhendra.

Lebih lanjut, Suhendra juga mengaku jika pihaknya sudah kordinasi dengan jajaran pimpinan.

“Pada Sabtu pekan kemaren sudah di lakukan penertiban oleh Ditpolairud Polda Babel dan juga terjadi pembakaran ponton-ponton. Saya juga heran ngak ada puas-puasnya penambang tersebut beraktifitas tidak jauh dari jembatan. Kalau tidak nampak dari jembatan masih mendingan. Karena bukan di depan mata seperti ini. Kalau kayak kemaren-kemarennya itu masih enak kita tau orang yang megang di wilayah tersebut, dan kita telpon orang tersebut, para penambangnya pada berhenti dan pindah dari lokasi tersebut. Tapi kalau sekarang kita tidak tahu siapa orang yang coba bermain di situ makanya kita juga binggung,” kata Kapolsek Riau Silip, Iptu Suhendra.

Sementara itu salah satu warga Sinar Gunung, Sukir saat di temui di jembatan Perimping, Selasa (11/09/19) dirinya juga mengaku bingung dan mengeluh terkait penanganan terhadap aktifitas para penambang tersebut,

“Terus terang saya bingung kalau dengan aparat penegak hukum saja penambang tersebut tidak ada takutnya. Lantas kepada siapa kita harus mengadu, memang saya sendiri seorang petani, akan tetapi kadang kala saya juga memancing ikan dari atas jembatan Perimping ini. Kalau tidak adanya aktifitas tambang sedekat ini hasil pancingan juga lumayan, akan tetapi dengan adanya aktifitas seperti saat ini pasti berkurang,” kata Sukir.

Lanjut Sukir, kalau kondisi sudah seperti ini, dirinya miris melihat alur sungai pada rusak, begitu juga dengan hutan bakaunya, dan tidak menutup kemungkinan dengan beraninya para penambang ini beraktifitas bila tidak ada oknum-oknum yang kuat berada di balik aktifitas tersebut.

“Buktinya pada razia yang di lakukan pada pekan kemarinnya justru aktifitas yang hanya berjarak kurang lebih 150 meter tersebut tetap saja jalan,” kata Sukir,

Kata Sukir lagi, memang ada razia di seputaran pulau Kianak dan Tanjung Sunur yang mana wilayahnya merupakan perbatasan dusun Tanjung Batu.

“Karena wilayah tersebut memang tidak di perbolehkan untuk di tambang. Namun kalau aktifitas yang di jembatan Perimping seperti saat ini. Ini sudah beraktifitas dua mingguan,” ungkapnya.

Sementara itu, pantauan  forumkeadilanbabel.com dari jembatan Perimping, Selasa(11/09/19) terlihat dengan jelas terdapat puluhan ponton yang sedang beraktifitas, begitu juga hilir mudik sped boad yang membawa para pekerjanya dan bahkan juga masih ada beberapa ponton tambang yang sedang di tarik mengunakan perahu menuju lokasi para penambang.

(Heru sudrajat/Bustami)

You might also like