Kivlan Zen Diadili Dengan Dua Dakwaan

Mantan kepala staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen mengikuti pembacaan dakwaan atas kasus kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Berdasarkan pantauan, Kivlan Zen hadir menggunakan jaket hitam panjang dan celana berwarna abu.

Mukanya terlihat pucat, tetapi tetap mendengarkan dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum. “Saya mengikuti aturan Yang Mulia,” kata Kivlan kepada hakim Hariono yang bertugas memimpin sidang usai ditanyai seputar kesehatan dan siap mengikuti sidang di Ruang Kusuma Admaja 1, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (10/9).

Sebelumnya, Kivlan Zen ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus makar dan kasus kepemilikan senjata api untuk rencana pembunuhan tokoh nasional. Atas kedua kasus tersebut, Kivlan ditahan di Rumah Tahanan Militer Guntur, Jakarta Selatan.

Kasus dugaan kepemilikan senjata api yang menjerat Kivlan ini berkaitan dengan penetapan enam tersangka yang menunggangi aksi unjuk rasa menolak hasil Pilpres 2019 di Jakarta pada 21-22 Mei 2019. Enam tersangka tersebut berinisial HK, AZ, IR, TJ, AD, dan AF.

Kivlan Zen dijerat dengan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang senjata api yang memiliki ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Ia pernah mengajukan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan namun ditolak.

Kuasa Hukum Kivlan Kaget Ada Dua Dakwaan

Kuasa hukum Kivlan Zen, Tonin Tachta mengaku terkejut ada dua dakwaan yang disampaikan dalam sidang perdana pembacaan dakwaan terhadap Kivlan yang dilakukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tonin menilai banyak hal dipaksakan dalam kasus kliennya.

“Sebenarnya kami kaget dengan adanya dua dakwaan, harusnya tadi hanya ada satu dakwaan perkara juncto 55 dan 56 itu hanya pemberat saja, ternyata itu dipisah,” kata Tonin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (10/9).

Menurut Tonin, kasus yang didakwakan kepada Kivlan Zen merupakan kasus yang berat bagi kliennya yang sudah berusia lanjut itu. Tonin juga mengatakan banyak hal yang dipaksakan dalam kasus Kivlan Zen.

“Yang kita ketahui di masyarakat rencana apa? Membeli senjata untuk membunuh. Tadi pembunuhan tidak ada sama sekali. Jadi senjata untuk apa? Ya tidak ada, jadi sangat banyak celah-celah untuk eksepsi,” kata Tonin.

Karena itu, Tonin dan tim kuasa hukum lainnya mengajukan keberatan atau eksepsi yang dijadwalkan pada 26 September 2019. Kondisi kesehatan Kivlan yang tidak baik menjadi alasan Hakim Ketua Hariono mengizinkan sidang eksepsi dijadwalkan 16 hari setelah sidang pembacaan dakwaan.

You might also like