Delapan Pangibar Bendera Bintang Kejora Ditangkap

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan, pihaknya telah menangkap delapan orang Papua terkait pengibaran bendera Bintang Kejora saat aksi unjuk rasa di Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (28/8). Argo menyebut, penangkapan delapan orang itu berdasarkan hasil pemeriksaan sejumlah alat bukti, seperti rekaman CCTV.

“Penyidik Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan artinya mengumpulkan alat bukti seperti rekaman CCTV, foto-foto. Setelah kita lakukan evaluasi, ada delapan orang yang kita amankan,” kata Argo saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Minggu (1/9).

Argo menyebut, saat ini, mereka telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan makar dan tengah menjalani pemeriksaan intensif. Ia menambahkan, salah satu dari delapan orang itu adalah juru bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI West Papua), Surya Anta Ginting.

Namun, Argo belum merinci identitas tersangka lainnya yang diduga terlibat dalam pengibaran bendera Bintang Kejora dalam aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Rabu (28/8). Argo hanya mengatakan, mereka ditangkap di tempat yang berbeda-beda.

“Delapan orang yang kita amankan dari tempat berbeda-beda, ada yang di asrama, ada juga yang sedang unjuk rasa di depan Polda Metro Jaya,” imbuh Argo.

Sebelumnya Polda Metro Jaya menangkap dua orang yang diduga mengibarkan bendera Bintang Kejora saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Rabu (28/8). Dua orang yang ditangkap pada Jumat (30/8) malam itu berinisial AT dan CK.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan, keduanya memiliki peran yang berbeda. AT, kata dia, berperam sebagai koordinator lapangan aksi, menggerakan massa, menyiapkan bendera dan orasi di atas mobil komando.

“CK merupakan koordinator lapangan dari Jakarta Timur dan juga berorasi bersama CK,” ungkap Argo dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (31/8).

Ia menyebut, pihaknya turut mengamankan sejumlah alat yang digunakan pada saat aksi unjuk rasa tersebut. Di antaranya, dua ponsel, satu spanduk, satu kaos dan satu selendan dengan gambar Bintang Kejora, serta satu alat pengeras suara (toa).

30 Orang Tersangka Kerusuhan Papua

Polisi menetapkan 30 tersangka dalam kerusuhan di Jayapura, Papua. Penetapan tersangka itu dilakukan setelah polisi melakukan pemeriksaan saksi-saksi terkait rusuh yang terjadi.

“Penyidik menemukan 30 tersangka terkait kejadian,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo di Jakarta, Sabtu (31/8).

Dedi menyebut para tersangka itu berperan dalam melakukan berbagai tindakan kerusuhan berupa pembakaran, penganiayaan hingga perampokan yang meresahkan masyarakat setempat. Polisi juga mengamankan berbagai senjata tajam.

Dengan demikian, para tersangka dikenai berbagai pasal, seperti Undang-Undang Darurat hingga pasal 160 KUHP bagi para tersangka yang dianggap menghasut atau memprovokasi kerusuhan. Polisi juga masih mencari pelaku yang dianggap terlibat dalam meninggalnya dua warga sipil dan satu aparat TNI di Deiyai.

Penetapan tersangka ini, kata Dedi, juga merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden RI Joko Widodo untuk menindak tegas pihak-pihak yang dianggap polisi sebagai perusuh. Dedi mengklaim, situasi di Papua sudah kondusif dengan adanya 2500 aparat gabungan yang diturunkan.

“Alhamdulilah situasi saat ini sangat kondusif, penebalan pasukan untuk menjamin keamanan Jayapura Papua termasuk di Papua barat. Kegiatan masyarakat sudah jalan dengan normal,” kata Dedi.

Pada Kamis (28/8), kerusuhan pecah di Jayapura. Kerusuhan ini menjadi rangkaian kerusuhan yang terjadi di Papua setelah insiden ujaran rasisme di Surabaya beberapa waktu lalu.

Kerusuhan di Jayapura menyebabkan terbakarnya sejumlah objek vital. Gedung perusahaan telekomunikasi dan gedung Bea Cukai bahkan dibakar massa.

You might also like