Selain Divonis 12 Tahun Penjara, Pemerkosa Dihukum Kebiri

Untuk kali pertama, hukuman kebiri kimia akan dijalankan di Mojokerto. Ini setelah putusan pidana 12 tahun kurungan dan kebiri kimia terhadap Aris (20) sudah inkrah berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya.

Berdasarkan putusan pengadilan, terpidana kasus pelecehan dan kekerasan anak juga harus mendekam di penjara selama 12 tahun. Selain itu, pemuda asal Dusun Mengelo, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini juga dikenakan denda Rp100 juta, subsider 6 bulan kurungan.

Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto, Nugroho Wisnu mengatakan, vonis hukuman pidana bagi predator anak itu tertuang dalam Putusan PT Surabaya dengan nomor 695/PID.SUS/2019/PT SBY, tertanggal 18 Juli 2019.

“Putusannya sudah inkrah. Kami segera melakukan eksekusi. Untuk wilayah Mojokerto, ini yang pertama kali. Kalau untuk pidana kurungannya sudah bisa dilakukan eksekusi. Namun untuk kebiri kimia, kami masih mencari rumah sakit yang bisa,” ungkapnya, Senin (26/8/2019).

Jaksa penuntut umum (JPU) dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, menuntut terdakwa dengan hukuman penjara 17 tahun dan denda Rp100 juta, subsider 6 bulan kurungan. Terdakwa divonis bersalah melanggar Pasal 76 D juncto Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sementara pengadilan memutuskan Aris bersalah melanggar Pasal 76 D junto Pasal 81 Ayat (2) Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pemuda tukang las itu dihukum penjara selama 12 tahun dan denda Rp100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Selain itu, Aris dikenakan hukuman tambahan berupa kebiri kimia. Hukuman kebiri merupakan pertimbangan dan keputusan para hakim di PN Mojokerto. Putusan perkara perkosaan yang menjerat Aris, naik banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya.

JPU menilai putusan 12 tahun penjara yang dijatuhkan hakim PN Mojokerto, terlalu ringan dibanding tuntutan yang diajukan jaksa. PT Surabaya akhirnya menjatuhkan putusan yang memperkuat putusan PN Mojokerto. Muh Aris sebelumnya didakwa melakukan perkosaan terhadap sembilan anak gadis di wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto.

Aksi pemuda itu dilakukan sejak tahun 2015 dengan modus mencari korban usai pulang kerja. Salah satu aksi pelaku teredam CCTV pada, Kamis (25/10/2018) di wilayah Prajuritkulon Kota Mojokerto sebelum akhirnya diringkus polisi pada 26 Oktober 2018.

 

Terpidana Pilih Hukuman Mati

Terpidana kasus pelecehan dan kekerasan anak, Aris (20) menolak hukuman pidana tambahan berupa kebiri kimia yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Tukang las asal Dusun Mengelo, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini lebih memilih hukuman mati.

Pelaku pemerkosaan 9 anak ini menempati sel isolasi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Mojokerto bersedia ditemui setelah mendapatkan izin dari Kepala Lapas Klas IIB Mojokerto, Tendi Kustendi. “Kalau disuntik, saya menolak. Karena itu dampaknya seumur hidup. Kata teman-teman juga seperti itu,” ungkapnya, Senin (26/8/2019).

Masih kata terpidana, ia akan menerima hukuman hukuman apapun, kecuali hukuman kebiri kimia. Termasuk hukuman maksimal penjara seumur hidup bahkan hukuman mati. Terpidana juga mengaku tidak melakukan penganiayaan terhadap korbannya dalam setiap aksinya, namun dilakukan dengan memberikan iming-iming jajan.

“Saya pilih dihukum mati saja dari pada disuntik (kebiri kimia). Atau dihukum seumur hidup saya tidak apa-apa. Kalau boleh minta, hukuman 20 tahun. Saya cari dulu keliling begitu. Setelah ketemu, saya iming-imingi jajan. Tidak pernah menganiaya, ya tidak saya paksa. Kemudian (saya bawa) ke tempat sepi. Iya pernah di Masjid, tapi di luarnya,” katanya.

Dipilihnya korban anak-anak, ini lantaran ia mengaku karena tak mampu untuk ‘jajan’ sehingga ia kemudian menyasar anak-anak sebagai tempat pelampiasan syahwat. Biasanya, nafsu birahinya memuncak setelah dirinya sudah meliha video porno.

“Saya suka lihat film porno. Saya juga tidak punya uang untuk ‘jajan’ (sewa PSK). Saya kerja jadi tukang las, penghasilan hanya Rp280 seminggu jadi tidak cukup. Saya menyesal sudah melakukan perbuatan itu. Saya siap dihukum, tapi kalau disuntik kebiri, saya tetap menolak,” tegas anak ke empat dari empat bersaudara ini.

Terpidana memilih hukuman mati ketimbang harus menjalani pidana tambahan kebiri kimia. Ia mengaku menolak menandatangi surat eksekusi terkait pidana tambahan kebiri kimia tersebut.

You might also like