Karena Ulah Oknum Polisi, Polres Jombang Didemo Warga

Sekitar ratusan orang berdemo di Polres Jombang, Kamis (1/8/2019). Massa yang tergabung dalam Forum Rembuk Masyarakat Jombang (FRMJ) ini mendesak Kepolisian setempat bekerja secara profesional, obyektif dan transparan. Mereka juga mendesak agar Kapolres menindak oknum polisi nakal.

Begitu tiba di depan Mapolres, massa langsung melakukan orasi secara bergantian. Mereka juga membentangkan sejumlah poster yang berisi tuntutan mereka. Demontrasi semakin dinamin, karena massa aksi juga membawa pertunjukan seni bantengan. Tetabuhan dan iringan tarian yang rancak terlihat di depan Mapolres.

Koordinator aksi, Joko Fatah Rochim mengatakan, tuntutan yang ia suarakan itu menyusul perlalukan tak wajar yang diduga dilakukan oleh dua orang oknum anggota Polres Jombang kepada Iwan Arif Mustaqim (43) warga Dusun Kramat, Desa Tanggungkramat, Kecamatan Ploso. Oknum polisi tersebut berinisial BS Anggota Reskrim Polsek Ploso dan AW yang merupakan penyidik di Satreskrimum Polres Jombang.

Menurut Fatah, Iwan pernah secara tiba-tiba ditangkap oleh oknum polisi tersebut dan dimasukkan ke dalam sel tahanan Polsek Ploso pada 2017. “Perkara sudah kami laporkan ke Divisi Propam Polda Jawa Timur. Kami mendesak kepada Kapolres untuk menindak tegas oknum anggota yang bekerja melanggar Undang-Undang dan peraturan Kapolri,” ungkapnya.

Joko Fattah menambahkan, ada dua laporan yang masuk ke Propam Polda Jatim. Itu lantaran Iwan pernah dijebloskan ke sel tahanan polisi tanpa melalui proses pemeriksaan pihak kepolisian setempat dan tidak diterbitkannya SP3 (Surat Penghentian Penyidikan).

Serta terkait laporannya tentang pemalsuan tanda tangan yang diduga dilakukan Agus Hadi Suroso dalam permasalahan jual beli tanah sebagaimana disebutkan dalam Surat Laporan Nomor: LPB/97/lll/Res.1.9/2019/JATIM/RES JBG, tertanggal 29 Maret 2019. Dia melaporkan kasus ini beserta bukti-bukti yang sudah dikantongi dari Iwan.

Sementara, persoalan yang menimpa Iwan ini bermula saat Iwan ditahan di Polsek Ploso. Di dalam surat perintah penahanan yang dikeluarkan Polsek Ploso, Iwan yang disangkakan melakukan tindak pidana penipuan, dijerat pasal 379 KUHP, pada tanggal 29 Mei 2017.

Saat itu, lanjut Fattah, menurut keterangan Polisi yang melakukan penjemputan dan penahanan di rumahnya, Iwan ditahan karena tidak bisa membayar hutang. Padahal, dia sudah melakukan pembayaran uang angsuran untuk melunasi hutang tersebut. Penahanan Iwan ini berlangsung total selama 6 hari. “Ditahan di Polsek Ploso selama tiga hari, dan di Polres Jombang tiga hari,” tambahnya.

Hingga akhirnya, pada 3 Juni 2017, keluar surat perintah penangguhan penahanan dari Polres Jombang. Disebutkan pada bukti surat perintah penangguhan penahanan Nomor : SPP/07.D/VI/2017/Reskrim, penanggugan penahanan dijamin Agus Hadi Suroso selaku Kepala Desa Tanggungkramat.

Meski Iwan telah keluar dari tahanan, dirinya hingga kini belum menerima Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dari pihak kepolisian. Sehingga, masa mendesak adanya kejelasan terkait status hukum terhadap Iwan.

“Yang pertama saudara Iwan ini harus mendapatkan SP3 atas perkaranya, karena ini jelas kriminalisasi, dan perkaranya juga sudah kita laporkan ke Propam Polda Jatim,” kata Fattah.

Yang kedua, sambung Joko Fattah, perlu dipertanyakan juga kapasitas pihak yang menjamin penangguhan penahanan Iwan. “Agus Hadi Surono sebagai penjamin penangguhan Iwan tidak ada hubungan keluarga dengan Iwan, tapi kok bisa menjamin penangguhan penahanan,” tanya Fattah.

Sementara, Wakapolres Jombang, Kompol Budi Setiono mengatakan, pihaknya akan melihat pokok permasalahan dan bakal mencarikan solusi terhadap persoalan yang melibatkan dua anggotanya tersebut. Sementara, menanggapi adanya laporan yang dilayangkan Iwan ke Propam Polda Jatim, Wakapolres menegaskan bahwa persoalan ini secepatkan akan ditindak lanjuti oleh Polda.

“Infornasi yang kami dapat masih belum dilaporkan baru konsultasi dan minta petunjuk ke Polda, informasi yang kami dapat dari pelapor seperti itu, laporan tentunya pasti akan ditindak lanjuti oleh Polda,” pungkas Fattah.

You might also like