Bendungan Way APO Berdayakan Masyarakat Lokal

Ambon, forumkeadilan.com – Siapa pun yang tinggal atau pernah ke Pulau Buru, Maluku, tentu mengenal sungai Way Apu. Sebuah sungai alami yang terletak di Kecamatan Waelata dan Kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru. Total panjangnya 77,28 km.

Oleh karena selalu waspada dengan banjir bila kelebihan air dari sungai ini. Dan jangan ada kekeringan di Pulau Buru bila kekurangan air. Sekarang, di sana sedang dibangun sebuah bendungan oleh Direktorat Jenderal Sumberdaya Air (Ditjen SDA)-Kementerian PUPR, melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku. Bernama Bendungan Way Apu.

Dari hulu sampai ke bendungan Way Apu, sungai mengalir melalui daerah  pegunungan, dengan kemiringan sungai sekitar 1,88%, lebar sungai antara 2,00–50,00 m. Sedangkan dari bendungan Way Apu ke muara, kemiringan sungai sekitar 0,26%, lebar sungai antara 50,00–80,00 m, dengan bantaran sungai yang lebar..

Daerah aliran sungai (DAS) Way Apo adalah 450 km2, luas daerah genangan 273,79 ha, dengan sejumlah tampungan maks, tampungan efektif, dan tampungan mati. Bendungan Way Apu merupakan sebuah bendungan dengan tipe urugan random batu inti tegak. Tinggi 72 m (dari pondasi), dan lebar puncak 11 m. Kemiringan hulu 1:3,00, dan kemiringan hilir 1: 2,50.

Selain itu, juga bangunan pengelak dengan tipe terowongan tapal kuda, bangunan pelimpah, dengan tipe kombinasi (pelimpah samping pelimpah berpintu), dengan elevansi ambang pelimpah samping, dengan panjang konstruksi 316,50 m.

Menariknya, kalau ada yang bertanya tentang manfaat pembangunan bendungan tersebut. Bukan saja manfaat secara apa, tapi juga bagaimana peluang pemberdayaan masyarakat yang ada di sekitar lokasi bendungan, apakah menjanjikan?

Haryono Utomo, Kepala Balai Wilayah Sungai Maluku, tidak memberikan janji yang tinggi ketika ditanya FORUM soal manfaat bendungan Way Apu dibangun. Tetapi bendungan Way Apu, menurut Haryono, adalah, “Wujud infrastruktur penyedia air baku, pembangkit tenaga listrik, dan pengendali banjir, dengan luas daerah irigasi 10.000 ha.”

Pembangunan bendungan Way Apu dengan manfaat sebagaimana dikemukakan, tak terpisahkan dari semangat kebangkitan Indonesia melalui Kementerian PUPR, dalam menaiki tangga pertumbuhan.

Antara lain dengan meningkatkan jumlah tampungan air. Terutama di tengah keprihatinan ketersediaan air bersih, seiring konsumsi air yang dari waktu ke waktu kian meningkat. Pastilah, termasuk ketika sumber ketahanan pangan harus terus digerakkan.

“Pada saat bendungan ini nanti selesai beroperasi, akan ada pemberdayaan masyarakat yang ada di sekitar lokasi bendungan,” kata Haryono. “Biasanya,” lanjut Haryono, “Yang memberi manfaat itu lebih banyak bagi masyarakat yang di hilir. Tapi yang di lokasi bendungan, untuk jangka panjang mereka juga akan diberdayakan.

“Bendungan Way Apu, nanti juga ada zoning-zoning di sekitarnya, yang nanti ada peran serta masyarakat sekitar. Misalnya untuk pariwisata, dan manfaat lain yang ada kaitannya dengan peran serta masyarakat.

Haryono juga mengaku pihaknya sedini ini, selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat, untuk bisa in line.

“Setelah bendungan ini fungsional, tentunya semua aspek dari zoning, manfaat dan sebagainya termasuk peran serta masyarakat setempat terus kita galakkan. Terutama terhadap eksistensi masyarakat adat setempat yang pendekatannya agak lain,” ujarnya.

Sebelumnya, juga sudah dibangun Bendung Way Dafa di Pulau Buru, yang dicanangkan pada 2014 dan berfungsi pada Desember 2018. Bendung Way Dafa dibangun, menyusul upaya memotong spiral ketergantungan pangan dari luar, di mana Pulau Buru dicanangkan sebagai lumbung pangan provinsi Maluku.

Selain untuk pengendalian daya rusak air. Infrastruktur SDA bagaimanapun juga erat kaitannya dengan masalah konservasi, yang manfaatnya jangka panjang. Seperti bendung, bendungan, embung, atau tampungan-tampungan air yang ada di permukaan, di mana ada efek konservasi sehingga dalam waktu yang panjang, baru bisa dirasakan manfaatnya.

Makanya itu, pengelolaan irigasi lewat jaringan harus diakui tidak bisa hanya oleh satu pihak. Selain pemerintah Pusat melalui BWSM, pemerintah daerah dan instansi terkait beserta seluruh komponen masyarakat juga harus sama-sama memikul rasa tanggungjawab.

Sejak 2015, Kementerian PUPR menaikkan jumlah tampungan air, dengan menyelesaikan pembangunan 29 bendungan, dari 65 bendungan yang diprogramkan. Kementrian PUPR memang punya pandangan yang kuat ikhwal programnya.

“Saat ini dari 7,3 juta hektar lahan irigasi, hanya 11% yang mendapatkan jaminan air dari bendungan. Dengan selesainya 65 bendungan nanti diharapkan bisa meningkat menjadi 19-20%”, kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

“Tidak hanya bendungan, Kementerian PUPR juga membangun jaringan irigasinya termasuk bendungan lama yang belum ada jaringan irigasinya juga akan kita bangun,” tambah Menteri Basuki.

Dari kejauhan, peran lokal penting lainnya dari pembangunan Bendungan Way Apu adalah pemberdayaan masyarakat yang ada di sekitar lokasi bendungan. Satu lagi; Bendungan Way Apu adalah satu di antara 65 bendungan yang ditargetkan selesai tahun 2023. Luthfi Pattimura

You might also like