Dugaan Amnesty Internasional Soal Penembak Harun al Rasyid Mengarah Ke Brimob

Pelaku penembakan saat kerusuhan 21-23 Mei di Jakarta belum juga tertangkap. Polri mengaku sedang merekonstruksi sketsa wajah salah satu penembak. Polri diyakini juga memiliki video yang merekam penembakan Harun al-Rasyid.

Amnesty Internasional Indonesia meminta agar Polri tetap menangkap pelaku penembakan. Ia meminta kepolisian, agar mempublikasikan rekaman video yang merekam Harun al-Rasyid saat kerusuhan terjadi.

Menurut Staf Komunikasi Amnesty Haeril Halim, publikasi tersebut agar masyarakat mengetahui pengakuan Polri yang menyebut korban masuk dalam kelompok perusuh.

“Soal CCTV itu, Polri memang pernah menyampaikan kepada kami (Amnesty),” kata Haeril, Senin (15/7).

Amnesty pekan lalu pernah menyambangi Mabes Polri untuk beraudiensi tentang kerusuhan 21-23 Mei. Dalam pertemuan tersebut, Haeril menerangkan salah satunya, Amnesty memang meminta penjelasan Polri tentang label perusuh yang disematkan kepada sembilan korban meninggal dunia saat kerusuhan.

Menurut Haeril, dalam salah satu penjelasan menyangkut tentang Harun, Polri menyatakan, korban 15 tahun itu terekam CCTV saat jatuh tertembak. Polri pun mengatakan, Harun berada di barisan perusuh yang berhadapan dengan Brimob saat kerusuhan terjadi.

“Kami hanya diberi tahu rekaman CCTV itu ada. Tapi tidak diperlihatkan. Kepolisian mengatakan, dari rekaman itu Harun ditembak dari arah samping,” ujar Haeril menambahkan.

Karena tak melihat, kata Haeril, Amnesty meminta agar video tersebut dipublikasikan untuk dijadikan bukti umum keterlibatan korban saat kerusuhan.

Menurut Haeril, ada sangkaan dan pertanyaan terkait posisi Harun di barisan massa perusuh. Posisi dan aktivitas Harun saat sebelum diterjang peluru tajam, akan menjawab dari mana arah tembakan.

Karena, kata Haeril, jika Harun terekam sebagai salah satu perusuh yang melakukan pelemparan ke arah Brimob, dapat diduga pelajar kelas sembilan itu diterjang peluru tajam bukan  dari samping. “Pertanyaan itu kami sampaikan juga ke Polri. Apakah Harun ditembak saat melakukan pelemparan?,” ujar Haeril.

Menurut dia, gerak seseorang yang melakukan pelemparan ke arah depan, spontan membuat gerak tubuh menjadi menyamping, atau sebagai reaksi ancang-ancang sebelum menyasar objek lemparan. Gerakan tubuh korban yang menyamping itu memunculkan dugaan korban dihantam peluru tajam dari arah depan. “Kita tidak bermaksud untuk menuduh. Tetapi posisi dan peran korban saat kerusuhan terjadi ini juga perlu diketahui,” sambung dia.

Selain itu, kata Haeril, meski Polri punya klaim para korban tersebut adalah bagian dari perusuh, tak dapat dijadikan alasan pembenaran bila peluru tajam itu berasal dari laras aparat. “Itu (antara status korban sebagai perusuh dan penembakan) dua kasus yang berbeda. Perusuhnya harus terungkap, dan penembakan yang menewaskan korban sipilnya juga harus diungkap,” sambung Haeril.

Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan, Polri punya rekaman CCTV yang merekam Harun tumbang sebelum ditembak. Dari rekaman tersebut, Polri memastikan remaja 15 tahun itu ditembak orang tak dikenal.

“Di CCTV, cuma terlihat jatuhnya korban (Harun al-Rasyid). Andaikan cctv itu di-slow motion (diperlambat), sangat sulit untuk melihat face recognation  (pengenalan wajah) pelakunya,” ujar Dedi.

Namun penyidik, kata Dedi punya tiga saksi yang mengidentifikasi pelaku penembakan. “Kemarin kan ada dua saksi. Sekarang ada satu saksi lagi yang melihat orang tidak dikenal itu,” sambung Dedi.

Dari hasil kesaksian tiga orang, tim gambar di penyidikan Polri, membuat sketsa wajah pelaku penembakan.  Dari keterangan tiga saksi pelaku penembakan terhadap Harun, adalah laki-laki dengan tinggi kisaran 175-an sentimeter, berambut panjang, dan berbadan kurus.

Harun salah satu dari sembilan korban meninggal dunia saat kerusuhan terjadi antara warga sipil dan Brimob, pada 21-23 Mei.  Siswa kelas sembilan itu, meninggal dunia di Petamburan, saat kerusuhan terjadi. Hasil autopsi meyakini Harun diterjang timah panas dari arah samping yang mengenai lengan kiri dan dadanya.

You might also like