KPK IKLAN

Pelaku Bom Kartasura Dibaiat Lewat Media Sosial, Orang Tuanya Sempat Diajak

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel menyatakan pelaku peledakan di Simpang Tiga Tugu Kartasura pada Senin (3/6) malam berbaiat dengan pimpinan ISIS Abu Bakar Al Baghdadi melalui media sosial.

“Selanjutnya dia mulai menerima berbagai doktrin, berbagai pencerahan-pencerahan katanya, akhirnya di akhir tahun 2018 di berbaiat kepada Al Baqhdadi,” katanya di Solo, Rabu.

Melalui media sosial juga, katanya, pelaku yang juga korban satu-satunya pada ledakan Kartasura tersebut diajarkan tentang alat-alat kekerasan, termasuk membuat petasan.

“Dia juga diajarkan bagaimana merakit bom dalam skala kecil seperti yang kemarin itu,” ungkapnya.

Ia mengatakan ledakan yang dilakukan pelaku di depan Pos Pantau Polres Sukoharjo Joglosemar tersebut sebagai kegiatan amaliyah yang dilakukan sesuai arahan Al Baghdadi.

“Sehingga dia mengerjakan seperti itu,” ucapnya.

Ia mengatakan dari hasil investigasi terhadap kasus tersebut, pelaku yang menjadi korban yang ditemukan di pinggir jalan tersebut atas nama RA.

“Dia pelaku tunggal, tidak memiliki jaringan. Hasil investigasi sudah terungkap, sudah selesai, dan sudah terungkap,” tuturnya.

Ia mengatakan dari hasil pemantauan rekaman CCTV dan hasil investigasi tim gegana Polri, ledakan yang terjadi tidak sempurna.

“Dia (pelaku, red.) sendiri sepertinya juga kaget, merakit juga tidak sempurna sehingga lukanya hanya di sekitar tempat dia menyimpan bom panci, di perut, dan di tangan. Sejauh ini sudah dilakukan penahanan, kondisi makin baik karena lukanya tidak serius,” ujarnya.

Beli Komponen Bom Minta Duit Orang Tua

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol.Rycko Amelza Dahniel mengatakan bomber Pos Pantau Polres Sukoharjo di simpang Kartasura, Rofik Asharudin (22), membeli komponen yang dirakit menjadi bom menggunakan uang yang diminta dari orang tuanya.

“Beli komponen dari uang minta orang tua, belinya dicicil,” kata dia di Semarang, Rabu.

Menurut dia, komponen bom yang ditemukan di lokasi kejadi sama persis dengan komponen yang diamankan polisi saat menggeledah rumah pelaku di Kranggan Kulon, Wirogunan, Kabupaten Sukoharjo.

Menurut dia, bom yang digunakan pelaku tergolong sebagai “low explosive” dengan bahan baku “black powder”.

“Diledakkan secara manual,” kata dia.

Pelaku juga diketahui belajar sendiri tentang cara membuat bahan peledak dan diaplikasikan sendiri di rumahnya.

Ia menambahkan Rofik merupakan pelaku tunggal yang tidak terkait dengan jaringan teroris mana pun.

Pelaku dibaiat sendiri pada akhir 2018 setelah intensif berkomunikasi dengan pimpinan ISIS di Suriah melalui media sosial.

Ledakan diduga bom bunuh diri mengguncang Pos Pantau Polres Sukaharjo di persimpangan Kartasura pada Senin (3/6) malam.

 

Orang Tua Sempat Diajak Jadi Bomber

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol.Rycko Amelza Dahniel menyebut kedua orangtua Rofik Asharudin (22), bomber Pos Pantau Polres Sukoharjo di simpang Kartasura, sempat diajak ikut dibaiat untuk ikut sebagai pelaku teror bom namun menolak.

“Kedua orangtuanya sempat diajak, namun menolak,” kata Kapolda usai melaksanakan Salat Idul Fitri di Semarang, Rabu.

Menurut dia, kedua orangtua pelaku mengetahui aktivitas yang dilakukannya dan bahkan sempat memperingatkannya.

Anak pasangan Muhtadi dan Sukinem itu diketahui aktif berkomunikasi melalui media sosial dengan pimpinan ISIS di Suriah sejak 2018.

Setelah dibaiat pada akhir 2018, lanjut dia, pelaku memiliki motivasi untuk melaksanakan perintah jihad.

Saat ini, pelaku masih dalam penahanan dan perawatan di Rumah Sakit Prof Awaludin Djamin atau RS Bhayangkara, Kota Semarang.

Kepada para orangtua, Kapolda mengimbau untuk terus mengingatkan kepada anaknya tentang bahaya radikalisme.

Sebelumnya diberitakan, ledakan diduga bom bunuh diri mengguncang Pos Pantau Polres Sukaharjo di persimpangan Kartasura pada Senin (3/6) malam.

You might also like