Lebaran Menyedihkan Muslim Uighur Di Cina

Dalam merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1440 H, tidak semua umat muslim menikmatinya dengan bebas dan tenang.

Muslim Uighur di provinsi Xinjiang, Cina yang merayakan Idul Fitri dengan pengawasan ketat aparat keamanan, detektor metal, dan kamera CCTV yang dipasang di dalam masjid.

Dikutip dari Asia One, Kamis (6/6/2019), sekitar masjid Idkah dipenuhi aparat polisi dan sejumlah pria berpakaian tanpa seragam. Mereka memantau setiap tindakan orang.

Masjid terbesar di China ini merupakan salah satu tempat umat Muslim yang mendapat restu dari pemerintah. Sementara sekian banyak masjid lainnya dihancurkan.

Tak hanya masjid Idkah, tapi di sejumlah masjid yang dibuka, para umat harus melewati detektor metal dan di dalam masjid telah dipasang kamera pemantau.

“Situasi di sini sangat ketat, membuat hati saya hancur. Saya tidak pergi kemana-mana. Saya ketakutan,” kata seorang Muslim Uyghur tentang ketakutannya pergi ke masjid.

Selain mengawasi perayaan Idul Fitri dengan ketat, pemerintah China juga membatasi banyak hal untuk umat Muslim Uighur.

Di kota Kashgar yang dulu sebagai kota Jalur Sutra, azan subuh yang sebelumnya menjadi salah satu tujuan wisata turis asing, sudah tidak terdengar lagi menggema di seluruh kota.

Bahkan selama bulan suci Ramadan, satu-satunya masjid yang tersisa dari sekitar 150 masjid di kota itu pada hari Jumat kosong. Sementara Sholat Jumat merupakan salah satu kewajiban umat Muslim.

Pengajar di Universitas of Washington yang fokus pada budaya Uighur Darren Byler mengatakan, Umat Muslim di Xinjiang juga sudah dilarang mengucapkan salam dan berpuasa secara terbuka.

Namun pemerintah kota Xinjiang mengklaim melindungi kebebasan beragama dan warga dapat merayakan Ramadan dalam ruang lingkung yang diizinkan oleh hukum.

Tidak dijelaskan secara detail ruang lingkup yang diperbolehkan pemerintah untuk masyarakat melaksanakan ritual keagamaan di kota negara komunis itu.

You might also like