PELECEHAN SEKS ANAK

Forwaka Babel Dibentuk Khusus Wartawan Kejaksaan, Bukan Untuk ‘Kaleng-kaleng’

 

PANGKALPINANG, Forumkeadilan.com – Forum Komunikasi Wartawan Kejaksaan Bangka Belitung (Forwaka Babel) yang belum lama resmi disahkan oleh pimpinan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Babel yang sengaja dibentuk untuk wartawan yang biasa atau sehari-hari meliput di lingkungan kejaksaan.

Meski baru seumur jagung, keberadaan Forwaka Babel melesat bak meteor hingga menimbulkan kerikil-kerikil kecil dari segelintir insan pers yang mengatakan mosi tidak percaya terhadap organisasi yang didelegasikan langsung pihak Kejagung RI melalui Kejati Babel agar kembali membentuk Forwaka yang sudah lama vakum.

Terkait pemberitaan segelintir media yang mengatakan mosi tidak percaya kepada Forwaka Babel dan meminta revisi kepengurusan karena dianggap banyak mudaratnya atau terkesan otoriter.

Ketua Forwaka Babel, Ngadianto Asri angkat bicara dengan maksud ingin meluruskan persoalan yang sebenarnya hanya kesalahpahaman saja.

“Saya sebagai ketua Forwaka Babel ingin meluruskan kepada teman-teman diluar pengurus atau anggota kalau organisasi yang dibentuk oleh institusi kejaksaan memang untuk wartawan yang biasa atau sehari-hari meliput kegiatan pemberitaan di kejaksaan,” ungkapnya, Senin (24/6/2019).

Dijelaskan Ngadianto, keberadaan Forwaka Babel memang sudah sesuai juknis dari Kejagung RI dan sesuai AD/ART, organisasi institusi kejaksaan dan ini sudah resmi disahkan oleh pejabat Kejati Babel dalam hal ini Asintel.

“Jadi jika ada kawan-kawan kita diluar sana mengatakan Forwaka tidak sah itu tidak benar. Organisasi ini sudah diresmikan dan sesuai aturan yang ada. Kami tidak ingin nama baik atau marwah Forwaka ini rusak dengan wartawan yang mau ikut bergabung tapi tidak sesuai prosedur,” tegas Ngadianto.

Untuk menjadi anggota Forwaka, sambung Ngadianto, ada beberapa syarat yang harus dilalui. “Saya sebagai ketua tidak mau membatasi atau juga memonopoli. Silahkan bagi yang belum terakomodir kami akan tampung. Syaratnya harus aktif meliput kegiatan di kejaksaan, aktif di organisasi, menyertakan surat tugas yang ditujukan ke Kasi Penkum dan terakhir harus menjaga marwah Forwaka Babel, ” jelasnya lagi.

Ditegaskan Ngadianto, sebenarnya dirinya berkeinginan sebanyak-banyaknya menampung teman-teman agar ikut dalam organisasi. “Tapi kami harus merujuk ke Forwaka Kejagung kalau disana saja anggotanya tidak lebih dari 20 wartawan yang benar-benar eksis atau sehari-hari meliput di kejakaaan. Bukan wartawan yang baru nonggol tiba-tiba mau ikut bergabung, ada beberapa syarat yang harus terpenuhi, ” imbuhnya.

Ditegaskannya juga jika tudingan yang dilontarkan segelintir media terkait sumber dana Forwaka Babel tidak jelas dan tidak transparan adalah tudingan tidak berdasar alias fitnah.

“Itu fitnah. Saya harap kawan-kawan satu profesi jangan hanya karena tidak terakomidir bergabung di Forwaka Babel lalu kemudian menyebarkan berita hoaks. Itu bahaya, bisa berujung ke ranah hukum karena ini menyangkut soal marwah,” tandasnya.

Berkaitan dengan mosi tidak percaya sejumlah wartawan ke Kejati Babel, Senin (24/6/2019), sejumlah pengurus dan anggota Forwaka Babel yang resmi, juga mendatangi Kasi Penkum, Roy Arland SH MH.

“Memang benar ada sejumlah wartawan datang menemui saya tadi siang. Intinya kehadiran mereka ingin meminta revisi kepengurusan Forwaka dan meminta ketua yang sekarang diganti. Yang saya dengar salah satu dari mereka ada yang ingin menjadi ketua, ” ungkap Roy.

“Saya hanya menyarankan agar pengurus Forwaka yang sudah sah dibentuk agar membangun komunikasi kembali kepada mereka, siapa tau diantaranya ada yang ikut menjadi anggota. Ajak ngopi la mereka, ” saran Roy ditemui di ruang kerjanya, Senin (24/6/2019).

Sementara itu, Romli Muhtar selaku Sekjen Forwaka Babel sangat menyayangkan sikap teman-teman yang mengatakan organisasi ini tidak sah.

“Patut disayangkan sebelum resmi terbentuk kawan-kawan sudah diumumkan di grup WA Kejati Babel, jika ada yang mau ikut bergabung dalam Forwaka Babel datang dan kita rapatkan. Giliran sudah terbentuk baru terlihat merasa tidak dilibatkan,” sesal Romli.

Terakhir Romli mewakili organisasi dan pengurus serta anggota, jika Forwaka Babel tetap berjalan normal dan tidak ada konflik internal. “Biarkanlah orang diluar mau ngomong apa soal Forwaka, kami tetap eksis dan bertindak positif dengan kemajuan organisasi. Silahkan bagi teman-teman yang mau membuat organisasi diluar Forwaka, itu mereka,” tutupnya.

Mengutip perkataan Wakajati Babel, Sumardi SH MH, organisasi Forwaka adalah organisasi yang sah buat institusi kejaksaan. “Diluar organisasi Forwaka, wartawan lain kami anggap tamu, ” ujarnya belum lama ini. (Red)

 

You might also like