Asyik, Bongkar muat Kontainer IPC Makin Meningkat

Jakarta, forumkeadilan.com – Perbincangan saya bersama Rizal Ariansyah, Direktur SDM dan Hukum PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) – Indonesia Port Corporation (IPC) yang sering disingkat Pelindo II, dan Sekretaris Perusahaan itu, Shanti Puruhita, sudah selesai.

Tapi pesan perbincangan yang berlangsung pada Kamis pekan lalu di Kantor Pusat IPC yang beralamat di Tanjung Priok, Jakarta, masih berlanjut.

Umpamanya, bagaimana cerita produksi bongkar muat kontainer IPC, yang meningkat dari 6,9 juta TEUs pada 2017 menjadi 7,6 juta TEUs pada 2018.

Sebelum Rizal dan Shanti merinci cerita itu. Dalam rangka meningkatkan standar pelayanan konsumen, menurut Rizal dan Shanti, IPC juga secara berkala melakukan monitoring, dalam menindaklanjuti permintaan atau keluhan yang diterima dari pelanggan.

Digitalisasi IPC di sisi pelayanan konsumen, meliputi penerapan sistem pengelolaan customer berbasis IT yang disebut Customer Relationship Management (CRM) yang di dalamnya terdapat 6 modul yakni:
Master Customer Data, Customer Survey, Customer Service, Customer Visit Management, Customer Profiling, dan Pencatatan Peluang Bisnis.

Melalui sistem tersebut diharapkan IPC dapat meningkatkan standar pelayanan konsumen di era digital seperti saat ini. Digitalisasi di sisi keuangan, IPC melakukan transformasi yang signifikan, yaitu seluruh transaksi di pelabuhan berbasis elektronik atau Cashless Payment System.

Jadi tidak ada lagi pembayaran secara tunai dan pola yang IPC lakukan ini tentu berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan menjadi lebih cepat, lebih terdata, lebih transparan dan lebih akurat.

Hal ini tentu memberikan dampak yang signifikan, selain meningkatkan standar pelayanan pelanggan. Dari sisi perusahaan juga meningkatkan produktivitas dan revenue korporasi karena semua tercatat dengan baik.
Sekali lagi; itu merupakan cikal bakal untuk transformasi IPC menjadi pelabuhan yang disebut Digital Port atau pelabuhan yang berbasis digital.

Nah, supaya dapat beradaptasi dalam pemanfaatan semua platform layanan berbasis digital, IPC terus mensosialisasikan kepada para pemangku kepentingan yang ada dalam ekosistem kepelabuhanan untuk beradaptasi memanfaatkan semua platform layanan berbasis digital yang telah disiapkan.

Adaptasi itu dibutuhkan agar digitalisasi pelabuhan yang sedang diterapkan bisa dilakukan secara total dan menyeluruh.
Salah satunya dengan melakukan sosialisasi untuk aplikasi digital yang sedang go-live dan juga melalui pertemuan-pertemuan khusus seperti stakeholder gathering.

Uji coba penerapan e-pass atau pass elektronik dalam implementasi Gate Pass System di Pelabuhan Tanjung Priok. Ini merupakan program IPC yang diterapkan secara bertahap di seluruh cabang pelabuhan yang dikelola IPC.

Untuk tahap pertama, implementasi Gate Pass System dilaksanakan di Cabang Pelabuhan Tanjung Priok. Pemberlakuan IPC Smart Card ini sebelumnya telah dilakukan sosialisasi kepada Internal IPC Group dan stakeholder pelabuhan  baik Instansi Pemerintah, TNI dan POLRI maupun Para Asosiasi beserta anggotanya.

Dalam upaya mewujudkan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai Pelabuhan Kelas Dunia, IPC mendukung misi pemerintah menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Hal ini tentunya dimulai dari Tanjung Priok sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia.

Menjadi pelabuhan kelas dunia, IPC memulai dengan membuat kebijakan strategi tertentu untuk membawa Pelabuhan Tanjung Priok menjadi logistic hub di Asia Tenggara.

Hal ini juga sejalan dengan fokus ketiga roadmap sustainable yaitu dengan menjalankan global expansion. Melalui strategi ini IPC mengembangkan sayap dengan menjajaki potensi kerja sama IPC menjadi operator pelabuhan di negara-negara lain seperti Philipina, Vietnam, Bangladesh dan sebagainya yang rencananya akan dilakukan melalui anak-anak perusahaan IPC.

foto: Bagian Humas IPC

Visi menjadi world class port pada 2020 tentu kami targetkan melalui sejumlah tahapan yang kami sebut dengan roadmap.
IPC kemudian menyusun strategi dan roadmap perusahaan yang berfungsi sebagai panduan untuk mencapai target world class port tersebut. Tahun 2016, roadmap IPC fokus untuk melakukan penyesuaian infrastruktur di semua area (fit in infrastructure).

Memasuki tahun 2017, roadmap IPC bergerak ke arah peningkatan bisnis korporasi (enhancement). Pada tahun 2018, IPC sampai pada tahap establishment dengan kinerja perusahaan yang unggul. Kemudian roadmap IPC pada tahun 2019 ditargetkan pada tahap sustainable dimana IPC akan mengintegrasikan bisnis yang berkelanjutan.

Dari sinilah IPC bergerak sesuai roadmap yang didesain sejak tahun 2016 dan langkah IPC akan bergerak mengikuti roadmap hingga mencapai puncaknya pada tahun 2020.

Selain di cabang Tanjung Priok, IPC menargetkan seluruh 12 cabang tahun ini sudah memiliki sistem digital yang setara walaupun dengan skala yang berbeda-beda, bergantung pada aktivitas di setiap pelabuhan.

Beberapa aplikasi penting sudah terinstalasi di seluruh cabang, seperti VMS, VTS, AIS, dan TOS. Namun, aplikasi yang lain, misalnya MOS, hanya untuk pelabuhan yang disandari kapal-kapal besar.

IPC meyakini pengguna jasa, khususnya kapal-kapal yang sandar di pelabuhan IPC, memetik setidaknya tiga manfaat dari digitalisasi yang dilakukan perseroan, yakni transparansi, kecepatan pelayanan, dan biaya logistik yang ekonomis.

Transparan karena tarifnya sudah ada di sistem, cepat karena digital, dan ongkos lebih murah karena terkontrol. Kecepatan proses itu turut memangkas masa inap barang (dwelling time).

Meminjam data INSW, rata-rata dwelling time di Tanjung Priok yang 3,77 hari per Desember 2016 turun menjadi 3,25 hari per Desember 2018.

Dari sisi arus barang, produksi bongkar muat kontainer IPC meningkat dari 6,9 juta TEUs pada 2017 menjadi 7,6 juta TEUs pada 2018.

Bagaimana kaitan digitalisasi IPC saat ini dengan kapal-kapal yang sandar di pelabuhan Tanjung Priok?

Digitalisasi menjadi inisiasi awal bagi IPC untuk menarik kapal-kapal besar sandar di Pelabuhan Tanjung Priok. Pelabuhan Tanjung Priok saat ini menjadi salah satu pusat transhipment terbesar di Asia. Posisi itu sekaligus mendorong peningkatan volume lalu lintas petikemas.

Adapun rute layanan langsung atau direct call yang ditawarkan antara lain tujuan Eropa Utara, Pantai Barat Amerika Serikat dan Intra-Asia yang dilayani oleh perusahaan pelayaran CMA CGM. Hebat.

Siapa yang bisa memastikan bahwa produksi bongkar muat kontainer IPC yang terus meningkat, tak ada kaitannya dengan kebijakan strategis IPC dalam merespon trend kekinian?

Kita hanya terlambat menemukan hubungan; dari sisi arus barang, produksi bongkar muat kontainer IPC yang terus meningkat dengan Digital Port sebagai nukleus layanan IPC, seolah tidak berkaitan.

Luthfi Pattimura

You might also like