KPK IKLAN

36 Warga Ditetapkan Sebagai Tersangka Terkait Bentrokan Di Buton Sultra

Sebanyak 36 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus bentrok antara warga Desa Sampoabalo dan Desa Gunung Jaya, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Para tersangka ini bagian dari 82 orang yang sudah ditangkap dalam kasus bentrokan ini.

“Ada 82 otang yang diamankan dari dua lokasi TKP lalu diperiksa jajaran Reserse Kriminal Polda Sulteng dan saat ini sudah ditetapkan 36 yang menjadi tersangka dan yang lainnya masih dalam pendalaman lebih lanjut,” tutur Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin (10/6).

Untuk peran dari 36 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka itu, Asep menuturkan masih dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Selain 36 orang tersebut, sisanya yang ditangkap dan berada di Markas Polda Sultra masih dalam pemeriksaan untuk dicari aktor intelektual, penggerak dan pelaksana di lapangan.

Sementara kondisi di Buton kini disebutnya sudah kondusif dan warga diminta berkomitmen untuk menjaga situasi keamanan di sana. “Dan saat ini teman-teman TNI bersama Polri sedang melakukanupaya pembersihan di sana termasuk Pemda juga sudah menyanggupi untuk melakukan upaya perbaikan akibat kerusakan,” ucap Asep.

Bentrokan yang terjadi antara warga Desa Gunung Jaya dan Desa Sampuabalo di Kabupaten Buton ini bermula dari konvoi pemuda Desa Gunung Jaya menggunakan sepeda motor melintasi Desa Sampuabalo pada Selasa (4/6).

Warga Desa Sampuabalo yang resah atas perilaku para pemuda tersebut bertambah marah, setelah pada Rabu (5/6) seorang pemuda Desa Sampuabalo dipanah oleh pemuda Gunung Jaya.

Akibat kejadian tersebut, terjadi penyerangan oleh warga Desa Sampuabalo ke Desa Gunung Jaya yang menyebabkan puluhan rumah terbakar. Pada keesokan harinya, Kamis (6/6), warga Desa Gunung Jaya melakukan serangan balasan ke Desa Sampuabalo yang menyebabkan jatuh korban luka dan meninggal dunia.

 

Polisi amankan para pelaku bentrokan

 

Kronologi

Knalpot sepeda motor yang bising, menjadi salah satu penyebab bentrokan berdarah antar warga desa di Buton, Sulawesi Tenggara (Sulteng). Selain itu, aksi penyerangan membuat kerusuhan mencapai puncaknya.

Dua orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Puluhan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal lantaran rumahnya dibakar, dan ratusan warga pun memilih mengungsi ke tempat yang aman.

Kepala Biro Penerangan Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan kronologi versi kepolisian dalam peristiwa tersebut. Kata dia, berawal dari massa konvoi warga Desa Sampoabalo pada Selasa (4/6) malam. Sekitar pukul 21:00 WIB, puluhan pemuda dari desa tersebut mengendarai sepeda motor dengan knalpot yang bising melintasi perkampungan di Gunung Jaya.

“Konvoi itu membuat masyarakat resah. Ini (aksi konvoi) awal pemicunya (kerusuhan),” kata Dedi, Jumat (7/6). Tak selesai malam itu, pada Rabu (5/6) siang, seorang pemuda Desa Sampoabalo berkunjung ke salah satu warga di Desa Gunung Jaya. Kata Dedi, saat hendak melintas Desa Gunung Jaya, pemuda asal Desa Sampaobalo itu mendapat serangan. Yaitu berupa aksi pemanahan.

Pemuda tersebut, mengalami luka pada bagian dada. Tak senang mendapat serangan, pemuda itu pun mengadu ke kerabat di kampungnya. Terpancing emosi, ratusan warga dari Desa Sampaobalo, pun menyatroni Desa Gunung Jaya. Warga Desa Gunung Jaya yang tak terima dengan kedatangan warga Desa Samaobalo, melawan. Kerusuhan pun tak terhindarkan. Dari pendataan sementara, Jumat (7/6) kerusuhan antar warga di dua desa tersebut dibayar dengan meninggalnya dua warga setempat.

Tak cuma itu, puluhan warga lainnya juga mengalami luka-luka. Puluhan rumah dibakar dan mengalami rusak parah. Akibatnya, sekitar 800-an warga dari dua kampung tersebut mengungsi ke tempat yang aman. Sebagian diantara yang mengungsi lantaran kehilangn tempat tinggal dan harta benda.

Dedi mengatakan, selama kerusuhan tersebut biang masalah sempat bergeser ke soal sentimen kesukuan. Tak ingin masalah menjadi semakin lebar dan berujung SARA, kepolisian setempat dibantu Tentara Nasional Indonesia (TNI) kerja keras menentramkan situasi. Saat ini, kata Dedi Polri dan TNI bersama tokoh-tokoh masyarakat dan agama dari kedua desa terus mengupayakan rekonsiliasi untuk mencari jalan perdamaian.

Soal keamanan, kata Dedi Polri sudah menerjunkan tiga SSK Brimob. Dari TNI satu SST pun ikut terlibat membantu keamanan. Para personel keamanan tersebut berjaga-jaga di dua desa, dan di antara perbatasan dua kelompok warga bertikai. “Itu untuk memastikan kerusuhan tidak terjadi kembali. Kepolisian dibantu TNI masih berjaga-jaga dilokasi,” kata Dedi menambahkan.

Dedi melanjutkan, saat ini (7/6) situasi di dua perkampungan tersebut kondusif meski masih tampak adanya ketakutan di dua warga desa. Namun kata dia, proses rekonsiliasi untuk berdamai terus dilakukan demi menghindari konflik susulan. “Proses perdamaian yang kita dahulukan supaya bentrokan tidak terjadi lagi,” sambung dia. Salah satu upaya perdamaian yang saat ini dilakukan adalah soal ganti rugi dari rumah rusak dan terbakar. Keterlibatan pemerintah setempat menjadi penjamin pengganti rugi rumah tinggal yang rusak dan terbakar.

Dari lokasi kejadian, Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Holdenhurt memastikan, Kapolda Sultra Brigjen Iriyanto, sampai Jumat (7/6) masih berada di perbatasan kedua desa untuk menjamin keamanan. Kata dia, mediasi antar warga, bersama tokoh-tokoh masyarakat kedua desa dan agamawan terus dilakukan. “Yang menjadi pekerjaan kita sekarang ini, untuk memastikan kerusuhan tidak terulang lagi. Supaya masyarakat bisa meredam emosinya,” ujar dia saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (7/6) petang.

Penangkapan para pelaku kerusuhan Boton

Harry mengatakan, meski rekonsiliasi untuk berdamai menjadi prioritas utama, memang penegakan hukum tak bisa ditanggalkan. Hanya menurut dia, proses tersebut ada waktu yang tepat setelah usaha berdamai pungkas. “Sambil kita mengupayakan perdamaian, penegakan hukum tetap kita lakukan. Kita (Kepolisian) saat ini sedang bekerja untuk membuat situasi yang damai dan memberikan keamanan bagi kedua warga,” kata dia. Soal pelaku dan provokator tawuran, Harry menegaskan tetap dalam proses penyelidikan.

 

600 Warga Mengungsi

Sebanyak 600 warga korban kerusuhan akibat bentrok antardesa Sampoabalo dan Desa Gunung Jaya Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, mengungsi. Warga yang mengungsi itu tidak hanya korban yang kehilangan rumah karena terbakar, tetapi ada juga yang menghindar untuk mengamankan diri akibat kejadian itu.

“Kalau jumlah Kepala Keluarganya (KK-nya) saya belum bisa pastikan. Tapi kalau yang dievakuasi dari jam 9 malam sampai jam 8 pagi saat hari kejadian itu sebanyak 600-an orang, karena saya sendiri yang evakuasi,” kata Kepala Bagian Umum dan Protokoler Pemkab Buton, Ramli Adia, melalui telpon seluler, Jumat (7/6).

Ia menjelaskan warga yang dievakuasi dan diungsikan itu terdiri atas anak-anak, orang tua dan ibu-ibu yang sudah berumur diatas 50 tahun. Warga yang diungsikan tersebut, kata dia, terpusat di Kantor Desa Laburunci, Kecamatan Pasarwajo, dan beberapa tempat seperti di Ponimbe dan di Kelurahan Kombeli yang berdekatan dengan Desa Laburunci.

“Kalau yang mengungsi secara resmi itu dipusatkan di Pasarwajo. Tapi saya dengar yang terakhir ada juga yang mengungsi di tempat lain yang kami tidak tahu. Mungkin mereka mengungsi sendiri menginap di rumah keluarganya,” katanya.

Ramli mengatakan dalam upaya membantu para korban bentrok tersebut Pemkab Buton sejak awal telah menyalalurkan bantuan berupa pakaian dan makanan setiap harinya. “Sejak kejadian dan evakuasi warga, Pemkab Buton menangani pengungsi. Sejak saat itu sudah mulai ada bantuan untuk pengungsi, kemudian berlanjut oleh BNPB, pemadam kebakaran, Dinas Sosial sudah siap terkait masalah pengungsi ini,” katanya.

Dia juga belum bisa memastikan kapan warga tersebut dipulangkan, karena situasi belum benar-benar kondusif. Pihak keamanan masih melakukan pengamanan pada dua desa yang bertikai itu.

“Kemarin Kapolda dan Danrem bersama Bupati Buton sudah melakukan mediasi antara dua kubu. Jadi masih dalam proses,” ujarnya.

You might also like