Tegakkan Proses Hukum, Damailah Latu – Hualoy

Latu, SBB, Maluku, forumkeadilan.com — Jumat (17/5). Di Ambon, tokoh perdamaian Maluku Dr. Abidin Wakano menemui Kapolda Maluku Irjen Pol Royke Lumoa.Abidin saat itu ditemani Jafar Patty, Hairun Tuny, Abdullah Patty, dan Usman Elly yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Ama Latu (Kekal) Ambon.

Pertemuan dimaksud, menyusul peristiwa di IAIN (Ambon), insiden penembakan dua warga Negeri Latu bernama Taher Pellu dan Sulaiman Patty, serta pembacokan yang menewaskan warga Hualoy bernama Syamsul Lussy, yang menuntut proses hukum.

“Supremasi hukum tetap akan ditegakkan, yakni peristiwa di IAIN (Ambon), insiden yang menewaskan Taher Pellu, Syamsul Lussy, dan terakhir penembakan terhadap Sulaiman Patty,” demikian salah satu butir kesepakatan pertemuan tersebut.

Pada Sabtu 18 Mei di Negeri Latu. Propam Polda Maluku dan Inafis Polres Seram Bagian Barat Barat (SBB), melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) atas penembakan Sulaiman Patty.

Giat itu dipimpin Kasat Reskrim Polres SBB Iptu Richard Hahury. Dikawal pihak Brimob Polda Maluku sekitar 30 angota, tim serse Polres SBB dan angota dari Ramil 08 Kairatu, serta dihadiri Pj Negeri Latu Abubakar Patty, Ketua Badan Pertimbangan Desa (BPD) Negeri Latu Shahri Patty dan staf Hasanudin Patty beserta lima anggotanya.

Menurut sumber FORUM, peristiwa di kompleks IAIN Ambon bermula pada 1 Januari 2019 WIT. Hari itu, rumah H. Hasan Patty, warga Negeri Latu, yang beralamat di kompleks itu, yang dihuni mahasiswa Negeri Latu, di lempari batu oleh orang tak dikenal (OTK).

Besoknya, sekelompok pemuda Hualoy menganiaya dua mahasiswa Negeri Latu. “Pemuda Hualoy itu juga merusak  rumah itu dan membakar ijazah milik salah satu korban penganiayaan atas nama Abdusalam Pellu,” kata sumber FORUM.

Selanjutnya, dinihari 3 Januari, seorang warga Hualoy bernama Haldun S, dibacok di sekitar lorong Amalatu. Atas peristiwa itu, Israfil Mussa, pemuda asal Negeri Latu pun diciduk aparat Polres Pulau Ambon.

Kendatipun pembacokan itu terjadi di Ambon. Dan waktu dari Kota Ambon ke Hualoy sekitar 3 jam waktu normal dengan penyeberangan feri. Selanjutnya Negeri Latu ke Hualoy cuma 10 menit berjalan kaki. Namun itu bukan berarti menghentikan arus konflik kedua warga Negeri.

Asnawi Patty, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Amalatu (Ipmal), korban luka tembak Rabu kelabu 15 Mei. Foto; istimewa

Lihat saja pada 5 Januari, warga Hualoy menyusup ke area perkebunan cengkeh milik warga Negeri Latu. Hari itu mereka menembakkan senjata api organik secara rentet ke pemukiman warga, disertai pelemparan bom rakitan.

“Rentetan tembakan dan letupan bom molotop itu, sempat memicu konsentrasi masa Negeri Latu. Aparat keamanan bersama pemerintah Negeri Latu, berhasil meredam gejolak massa,” jelas sumber FORUM.

Kendatipun Bupati SBB M. Yasin Payapo dan Kapolres SBB AKBP Agus Setiawan, berhasil membuka blokade jalan trans-Seram di Hualoy pada 8 Januari, yang diblokir warga di sana sejak 7 Januari. Bahkan kedua pejabat itu melakukan pertemuan secara bergilir dengan warga Hualoy dan warga Negeri Latu di kampung masing-masing.

Namun pada 9 Januari, perwakilan Hualoy menemui Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-palau Lease. Melalui Abdusalam Hehanussa dan H Hamzah Wakanno, mereka mempertanyakan kejelasan penanganan kasus pembacokan warganya yang terjadi di Ambon.

Fatalnya. Beredar vidio yang isinya penuh fitnah dan propaganda, sesudah pertemuan tersebut. Dalam video itu mereka bilang, warga Negeri Latu sering melakukan pembunuhan di hutan Negeri Latu.

Terang saja.  Warga Negeri Latu meminta bukti atas pernyataan Abdusalam Hehanussa di video, dengan melakukan protes pada 13 Januari, dalam aksi blokade jalan trans-Seram. Tapi aksi itu tidak berlangsung lama. “Sebab dalam waktu singkat, aparat kepolisian berhasil mengatasinya hari itu juga,” tambah sumber FORUM.

Kendatipun perwakilan Negeri Latu sudah menyampaikan tuntutan kepada Kapolres SBB. Agar menelusuri kepemilikan senjata api organik yang dipakai warga sipil Hualoy. Bahkan meminta kepolisian segera memproses hukum Abdussalam Hehanussa dan Hamzah Wakanno atas pernyataan fitnahnya di video yang beredar.

Namun pada 20 Februari, warga Hualoy dan Tomalehu menyusup ke perkampungan Negeri Latu. Hari itu, puluhan pohon cengkih milik warga Negeri Latu ditebang habis. Bukan cuma itu. Warga Negeri Latu ditembaki dengan senjata api organik dan bom rakitan. Suasananya seperti dicerita film.

Setelah Hualoy-Tomalehu dipukul mundur. Kelompok pemukul dihujani peluru senapan organik dari gedung SMP PGRI, SD Negeri dan TK Tumalehu —tempat Hualoy-Tomalehu berlindung. Hari itu. Satu diantara kelompok pemukul dari Negeri Latu bernama Tahir Pellu langsung meninggal.

Sayang sekali, mata kanan, alat kelamin dan lidah korban, dicungkil dan dipotong kemudian dibakar, sebelum akhirnya berhasil dievakuasi aparat yang datang ke lokasi. Prilaku biadab terhadap jasad korban inilah, yang bikin warga Negeri Latu mengunci semua instrument perdamaian. Termasuk pendekatan adat-kekeluargaan.

Bagaimanapun, secara pemerintahan adat, seperti diakui Herry Patty, cucu Raja Negeri Latu-Raja Subuh Patty, bahwa “Pejabat pertama di Hualoy bernama Abdullah Tubaka, itu diangkat dan dilantik oleh Raja Negeri Latu bernama Raja Subuh Patty selaku Ketua Latu Patih Kecamatan Piru, di mana waktu itu perlu ada pejabat di Hualoy, maka diangkatlah Abdullah Tubaka sebagai pejabat pertama Hualoy.”

Aksi teror penembakan rumah warga Negeri Latu di kota Ambon, minggu 12 Mei 2019. Foto; istimewa

Secara kekeluargaan, “Orang Hualoy itu 40% berdarah Latu. Sebaliknya, 30% orang Latu itu berdarah Hualoy, karena saling kawin sejak dulu. Kenapa musti hidup dengan saling dendam dan tidak melalui proses hukum,” tanya Bupati SBB M. Yasin Payapo kepada FORUM.

Tapi instrument adat-kekeluargaan bukanlah pintu masuk ke dalam damai. Pada 4 Mei 2019, seorang warga Hualoy bernama Syamsul Lussy (38), dibacok di hutan Negeri Latu sebagai korban balas dendam. Ia menghembuskan nafas terakhir sebelum tiba di rumah sakit.

Warga Hualoy kembali beraksi. Hampir seminggu mereka menutup jalan trans-Seram. Jalur di mana jantung perekonomian Maluku melalui Kabupaten SBB, Kabupaten Seram Timur (SBT), dan Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) bergerak. Mereka bahkan mengancam akan menutup trans-Seram secara permanen, jika polisi tidak menangkap pelaku pembacokan Syamsul.

Hingga Rabu kelabu 15 Mei lalu; Detasemen B Pelopor Brimob Amahai, Maluku Tengah, memuntahkan peluru ke arah warga Negeri Latu dan menewaskan Sulaiman Patty, hanya lantaran petani itu meminta keadilan hukum ditegakkan.

Kendatipun banyak pihak menyayangkan, konflik ini akibat proses hukum yang tidak sungguh-sungguh ditegakkan sedari awal. Mulai dari kasus pembacokan 3 Januari di lorong Amalatu, Ambon, pernyataan fitnah dan propaganda Abdussalam Hehanussa lewat videonya. Hingga penelusuran kepemilikan senjata api organik yang dipakai warga sipil Hualoy.

Namun pertemuan Dr. Abidin Wakano dalam Kekal Ambon bersama Kapolda Maluku Irjen Pol Royke Lumoa, yang bersepakat menegakkan supremasi hukum. Diharapkan menjadi pintu masuk ke dalam perdamaian hakiki antara Latu-Hualoy.

(Luthfi Pattimura).

You might also like