Polisi Panggil Kembali Permadi

Penyidik Badan Reserse Kriminal menjadwalkan pemanggilan kedua untuk politisi Permadi serta aktivis Lieus Sungkharisma pada Jumat (17/5). Ini setelah keduanya tidak memenuhi panggilan hari Selasa.

Permadi dipanggil sebagai saksi atas kasus dugaan makar dan penyebaran berita bohong Kivlan Zen. Sementara Lieus Sungkharisma dipanggil sebagai saksi dugaan makar dan penyebaran berita bohong kasusnya.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Selasa, mengatakan penyidik Bareskrim belum menerima konfirmasi dari pengacara Permadi mau pun Lieus Sungkharisma.

“Dari penyidik telah menyiapkan surat panggilan kedua yang akan dilayangkan hari ini pada yang bersangkutan. Akan dipanggil kembali pada Jumat tanggal 17 Mei 2019 pukul 09.00 WIB,” tutur Dedi Prasetyo.

Sementara itu, Permadi mengatakan tidak mendapatkan informasi yang jelas terkait pemeriksaan kasus hari ini di Bareskrim. “Saya belum tahu Pak Kivlan atau bukan, tidak jelas pemberitahuan polisi ini,” kata dia.

Secara terpisah, Lieus Sungkharisma mengaku tidak menghadiri panggilan pertama Bareskrim Polri karena masih mencari pengacara yang akan membelanya.

Ia yakin saat panggilan berikutnya sudah mendapatkan kuasa hukum yang mendampinginya menjalani kasus itu. “Saya yakin sudah dapat pengacara, saya serius. Saya akan hadir,” tutur Lieus.

Sebelumnya, Permadi juga dipolisikan oleh politisi PDI Perjuangan Stefanus Asat Gusma terkait dugaan tindakan makar, Jumat.

Stefanus melaporkan Permadi ke Polda Metro berdasarkan video yang menyebar di masyarakat. Di sana terlihat Permadi sedang memberikan pendapatnya dalam sebuah pertemuan.

“Memang di video itu sudah jelas-jelas ajakan dan ada seruan menyebut etnis tertentu yakni Cina, kemudian ada ajakan tidak tunduk pada konstitusi, melakukan revolusi,” ujar Stefanus di Polda Metro Jaya, Jumat.

Revolusi, kata Stefanus, menjatuhkan sistem negara, menghancurkan pemerintah yang sah. Apalagi disebutkan dalam Bahasa Jawa akan sisa setengah dari pribumi. “Itu kan kalau bukan pertumpahan darah, makar, merongrong negara, apa lagi,” katanya.

Ketika ditanya mengenai alasannya menggunakan pasal makar bukan ITE, Stefanus mengatakan, karena ingin agar polisi menyelidiki apa yang diucapkan Permadi dalam video tersebut sehingga tak fokus pada penyebar videonya.

Dari kata-kata yang diucapkan Permadi, Stefanus menilai sudah termasuk ajakan untuk melakukan makar.

“Di tengah situasi pascapemilu ada pernyataan terbuka yang kita tahu itu viral dan isinya mengajak orang membuat revolusi. Hal-hal itu menurut kami enggak pas makanya kita laporkan supaya tokoh politik ini berhati-hati menyampaikan sesuatunya,” tuturnya.

Stefanus mengaku melihat video tersebut sekitar 5 Mei atau 6 Mei 2019. Dia mendapatkan video itu dari broadcast dalam aplikasi WhatsApp. Namun, video itu juga sudah menyebar di situs pertemanan Facebook.

Dalam video yang dimaksud Stefanus, terlihat satu kelompok yang sedang duduk layaknya posisi sedang melakukan rapat. Dari sana terlihat Permadi dengan kemeja hitam mengutarakan pendapatnya dan didengarkan oleh orang-orang yang duduk di sekitarnya.

You might also like