KPK IKLAN

Misteri Massa Aksi Tertembak Dan Temuan Peluru Tajam Di Mobil Polisi

Dalam aksi demonstrasi yang berujung ricuh, beredar video-video pendek di media sosial. Tampak dalam salah satu rekaman, seorang pendemo memperlihatkan lima butir peluru dan menyebut peluru itu dari senjata polisi yang menembaki Ustaz Mancung dari Sawangan.

Satu lagi video pendek berisi seorang dengan darah di leher, tengah terbaring. Perekam menyebut pria itu korban penembakan Brimob.

Menjawab itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo sebagaimana dilansir dari Detik mengatakan, itu bukan dari polisi.

Menurutnya, aparat keamanan dalam pengamanan pengunjuk rasa, tidak dibekali dengan peluru tajam dan senjata api.

Dia menambahkan, pihaknya telah mengingatkan soal adanya potensi pihak ketiga yang memanfaatkan situasi untuk mencelakai.

“Kita sudah sampaikan jauh-jauh hari, bahwa akan ada pihak ketiga yang memanfaatkan situasi unjuk rasa tersebut,” ujar Dedi sebagaimana dilansir dari Detik.

Sampai saat ini kata dia, polisi sudah mengamankan 20 lebih terduga provokator. Mereka sudah diamankan di Mapolres Jakarta Pusat untuk diproses lebih lanjut.

Kerusuhan di depan gedung Bawaslu

Massa Aksi Temukun Peluru Di Mobil Polisi

Massa aksi 22 Mei menemukan ratusan peluru tajam dari mobil Brimob yang terparkir di ruas jalan Brigjen Katamso, Jakarta Barat, Rabu (22/5) siang, tepatnya di dekat fly-over Slipi Jaya arah Kemanggisan.

Massa menemukan peluru tersebut di mobil Toyota Rush milik Brimob yang diletakkan dalam sebuah peti kayu. Peluru itu lantas disita massa, namun tidak sedikit juga yang berserakan di jalan raya. Sebagian peluru juga banyak diambil warga yang melintas.

“Bisa kalian lihat sendiri peluru tajam semua. Pantas pada mati warga. Ya buat menembak warga ini peluru,” kata salah satu orang di lokasi.

Selain menyita peluru, massa juga menjarah beberapa peralatan kepolisian seperti tameng dan amunisi untuk gas air mata.

Semula,  Mabes Polri saat dikonfirmasi terpisah menyatakan bakal mengecek temuan peluru tersebut.

“Masih dicek. Yang perlu disampaikan bahwa aparat keamanan dalam pengamanan unjuk rasa tidak dibekali oleh peluru tajam dan senjata api,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo.

Peluru Brimob

Akhirnya  Dedi Prasetyo mengatakan peluru tajam yang diklaim ditemukan massa aksi di dalam mobil polisi di ruas Jalan Brigjen Katamso, Jakarta Barat, Rabu (22/5) siang, tepatnya di dekat flyover Slipi Jaya arah Kemanggisan.

Massa yang berada di dekat mobil itu mengaku menemukan peluru tersebut di mobil Toyota Rush milik Brimob yang diletakkan dalam sebuah peti kayu. Peluru itu lantas disita massa, tapi tidak sedikit juga yang berserakan di jalan raya.

Dedi menjelaskan mobil tersebut merupakan mobil danki (komandan kompi) Brimob. Berdasarkan SOP, Dankie Brimob boleh membawa peluru tajam untuk kepentingan peleton antianarki dan harus melalui kontrol yang ketat dari danyon (komandan batalion) atau atasan serta langsung melaporkannya kepada Kapolda untuk penggunaannya.

Warga memunguti peluru dari mobil Brimob

“Mobil itu mobil danki (komandan kompi) Brimob. Sesuai SOP, danki Brimob diizinkan membawa peluru tajam. Peluru tajam kegunaannya hanya untuk peleton antianarkisme,” tutur Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (22/5).

“Peleton anti-anarki dikendalikan langsung oleh Kapolda Metro dalam rangka melakukan penegakan hukum secara tegas dan terukur kepada para perusuh yang nyata-nyata sudah melakukan aksi anarkis yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat, aparat dan telah melakukan perusakan properti-properti masyarakat dan aparat,” sambungnya.

Peleton antianarki, kata Dedi, dibutuhkan untuk memitigasi kerusuhan massa yang sangat masif.

“Peleton antianarki itu dibutuhkan untuk memitigasi kerusuhan massa yang sangat masif. Kalau misalnya itu kondisi damai, nggak boleh dibagikan, tetap di bawah kendali dan pengamanan Polri. Untuk melakukan penegakan hukum secara tegas dan terukur untuk para perusuh yang secara nyata dan terbukti melakukan tindakan anarkis yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat dan aparat, serta perusuh yang melakukan perusakan secara masif terhadap properti, barang baik milik masyarakat maupun aparat,” tutur Dedi.

Meski demikian, Dedi menegaskan Polri dan TNI tidak menggunakan senjata api dan peluru tajam dalam melakukan pengamanan aksi unjuk rasa. Pengamanan hanya dibekali dengan tameng, gas air mata, dan water cannon.

Jika terjadi tembakan dari senjata api dan peluru tajam, Dedi memastikan, hal tersebut bukan dari TNI dan Polri.

“Dalam penggunaannya juga izinnya sangat ketat, berlapis. Mulai dari izin danyon, lalu ke kapolda,” tutur Dedi.

Lalu mengapa peluru-peluru tajam itu bisa berserakan? Menurut Dedi, ada salah satu oknum yang sengaja membongkar mobil tersebut saat asrama Brimob diserang.

“Pada saat kejadian, mobil itu terparkir dekat kompleks Brimob, diduga masyarakat mengepung mobil itu dan mengambil isi di dalam mobil,” tutur Dedi.

You might also like