KPK IKLAN

Kualitas Pendidikan Nasional Dimata Prof Sutrisna Wibawa

Jakarta. forumkeadilan.com – Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 sudah selesai. Tapi perbincangan peradaban cermin budaya bangsa lewat pesta demokrasi tak pernah usai. Sebab, bagaimana pemimpin bangsa masa depan lewat pemilu, harus diakui sangat tergantung pada bagaimana menyiapkan generasi hari ini.

Apalagi, dengan melihat kondisi kita, banyak kejadian yang tidak kita harapkan. Ada siswa yang berani bertindak di muka guru, bahkan ada yang mengancam Presiden seperti yang terjadi belum lama ini.

“Terus terang itu mengusik kita. Itu berarti kan permasalahan pendidikan karakter. Hal-hal seperti itu harus kita siapkan dari sisi guru yang menguasai dan siap melaksanakan pendidikan karakter,” demikian, Profesor Doktor Sutrisna Wibawa, M.Pd., Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam perbincangan singkat dengan FORUM Keadilan, Selasa kemarin (14/5).

Sesudah pelantikan Presiden nanti, pastilah disusul dengan pembentukan kabinet pemerintahan. Sambil membuka keterusterangannya dengan ilustrasi siswa yang berani bertindak di muka guru, Prof Sutrisna juga menggarisbawahi kondisi umum pendidikan di Indonesia, kalau mau menjadi perhatian pemerintahan lima tahun ke depan. Terutama pendidikan Dasar dan Menengah.

“Belum optimal,” akuinya singkat. Demikian juga LPTK sebagai penghasil guru mesti mendapatkan perhatian khusus. Pengakuan tersebut dibuktikan dengan hasil survei PISA (Programme for International Student Assessment) yang dilakukan untuk mata pelajaran sains, matematika, dan membaca pada 2015 bersama 72 negara.

“Dari 70 negara, untuk sains kita di peringkat 62. Untuk matematika kita diperingkat 64 dari 70 negara, reading kita diperingkat 63 dari 70 negara. Itu masih memprihatinkan, kan di bawah Vietnam. Idealnya kita harus di 10 besar, kalau ini kan 10 dari bawah.”

Padahal, menurut Sutrisna, pemerintah sudah mengalokasikan dana untuk pendidikan 20%. Makanya, di sini, Sutrisna ingin melihat UNY sebagai LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan) yang meluluskan guru.

Publik memang tak boleh mengabaikan peran UNY sebagai LPTK yang meluluskan guru. “Peran guru adalah bagaimana mendonkrak kemampuan sains, matematika, reading yang diukur melalui PISA, supaya bisa naik rangking. Itu peran guru,” jelasnya.

Kita ingat. Ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II, yang ditanyakan oleh Kaisarnya adalah, ‘masih ada berapakah guru?’ Bukan penduduknya masih berapa atau industrinya, tapi gurunya.

“Artinya apa? Pendidikan! Jadi pendidikan itu penting untuk memajukan bangsa. Inilah peran penting UNY sebagai LPTK menghasilkan guru. Guru yang dihasilkan oleh UNY itu berbagai bidang studi. Kita punya 37 program studi untuk menghasilkan guru yang berkualitas,” tambahnya.

Sampai sekarang, menurut Sutrisna, UNY tetap dipercaya sebagai penyelenggara PPG (Profesi Pendidikan Guru).

“Alhamdulillah kita selalu terdepan, selalu diperingkat pertama dinilai sebagai penyelenggara yang terbaik. Artinya apa? Pelaksananya baik menghasilkan guru yang baik. Inilah peran besar kami itu. Mudah-mudahan guru yang dihasilkan ini bisa mendonkrak peringkat yang kita hadapi.”

Sutrisna mengaku. Tidak mungkin pendidikan itu langsung diketahui hasilnya. Kita tidak melihat sekarang, tapi paling nggak kita melihat lima tahun ke depan. Satu lagi; Inpres no. 9 (Instruksi Presiden) Tahun 2016 tentang Pendidikan Vokasi), yang ditugaskan ke Kementerian Dikti untuk penyiapan guru, UNY memiliki andil menghasilkan guru SMK produktif.

Guru pendidikan vokasi yang ditugaskan ke kementerian, otomatis dilaksanakan oleh LPTK, di mana UNY sebagai salah satu LPTK dari 12 LPTK negeri, karena UNY memiliki perhatian yang cukup untuk melaksanakan penyediaan guru pendidikan vokasi. Ke depan, selain meningkatkan kualitas lukusan sarjana pendidikan yang siap menjadi  guru SMK,  untuk menghasilkan guru SMK Produktif, UNY akan menyiapkan secara khusus program PPG kolaboratif bersama Politeknik dan universitas lain yang menghasilkan  Sarjana Saintek yang dibutuhkan bidang keimuannya oleh SMK.

Karena tugas guru bukan saja mentransfer ilmu tetapi juga harus mentransformasi nilai kepada siswa. Maka di UNY, aku Sutrisna, itu duanya-duanya ditekankan, yakni, bagaimana menyiapkan guru yang siap mentransfer ilmu dan guru yang siap mentransformasikan nilai pada siswanya.

“Kita tekankan kedua-duanya di UNY, dan tak mau terjebak hanya di transfer ilmu. Kalau guru yang berkemajuan, guru yang baik, itu otomatis akan memberi pengaruh bagi para siswanya. Intinya itu,” tunjuk Doktor ilmu flsafat UGM, Yogya 2013 ini.

Dalam pembangunan, Sutrisna menggarisbawahi masalah sumberdaya manusia (SDM). Masuk akal, kenapa Presiden Joko Widodo mencanangkan untuk fokus ke SDM mulai 2019. Sebab, pembangunan tak bisa menkesampingkan SDM.

Karena pelaksana–pelaksana pembangunan, tambah Sutrisna, itu unsur SDM sangat penting; bagaimana pemeliharaannya dan memanfaatkan pembangunan dengan baik, itu kan SDM.

“Nah, SDM itu salah satu tugas bidang pendidikan, lewat pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan. Karena itu balai-balai latihan kerja musti disiapkan. Mungkin kepada lulusan SMA yang tidak melanjutkan studi, atau luluas-lulusan SMK yang belum siap kerja terampil,” urainya.

Kembali ke kondisi yang ditandai dengan banyaknya kejadian yang tak kita diharapkan. Guru, menurut Sutrisna, tidak hanya pintar, tapi juga harus memiliki pendidikan karakter, yang moralnya bagus. Ini keunggulan UNY. UNY yang memiliki moto “Leading in Caracter Education” menyiapkan calon guru mukai dari moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), sampai pada moral action (pelaksanaan moral). Dalam ajaran Ki Hajar Dewantara dikenal dengan ngerti (mengerti), ngasa (merasakan), dan nglakoni (melaksanakan). Jadi pendidikan karakter itu harus dibiasakan, dibudayakan, dan dilaksanakan.

Sekarang, mengenai konsep reading sudah menjadi luas pengertiannya tidak sekedar kemampuan membaca tetapi menjadi literasi; yang berkembang menjadi literasi baca tulis, literasi sains, literasi numerasi, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya, bahkan dengan revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 sudah lebih jauh dari literasi dasar tersebut.

“Sehingga itu sangat penting dan disebut sebagai ilmu dasar,” jelas tokoh publik berbahasa terbaik (Tokoh Akademis) dari Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, November 2018 ini.
Soal dana pendidikan 20%, menurut Sutrisna yang juga 1 dari 73 figur berprestasi Indonesia 2018 versi Men’s Obsession, itu sudah menunjukkan perhatian Negara, untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

“Sekarang tinggal bagaimana pelaksana-pelaksana dunia pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.” Pastilah, jalan masuk ke dalam ladang pemimpin bangsa masa depan. (Luthfi Pattimura)

You might also like