PELECEHAN SEKS ANAK

Kenapa KBUMN Harus Bermetamorfosa Menjadi Super Holding, Ini Maksudnya

Jakarta, Forumkeadilan.com – Begitu besarnya impian Hambra. Dalam kosmos persaingan global, pembinaan dunia usaha Indonesia dan berpikir bersaing ke luar adalah keharusan.

“Kalau gak ada sebuah kekuatan besar yang membina, susah. Akhirnya konglomerat yang besar berjalan terus,” kata Hambra, Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis-Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada Sukowati Utami dan Luthfi Pattimura dari FORUM Keadilan di Jakarta, Jumat (5/4).

Impiannya itu seperti mengirim semacam signal, untuk menahan gelombang politik misalnya yang tampak bekerja di belakang dunia UKM (Usaha Kecil Menengah).

Kalau gak ada sebuah kekuatan besar untuk membina, “Yang UKM dari waktu ke waktu cuma berdebat terus secara politik, UKM harus naik,” tambahnya.

Semua orang tahu BUMN cuma dari singkatannya. Tapi tidak semua orang tahu apa fungsi BUMN.

“Dari dulu BUMN punya dua fungsi, yakni agen pembangunan dan fungsi penciptaan nilai, atau korporasi. Tapi dari masa ke masa itu penekanannya berbeda-beda,” ujarnya.

Menurut Hambra, penekanan pada korporasi itu sangat menonjol pada jaman sebelum pemerintahan sekarang.

“Karena saat itu fukus ke bagaimana BUMN sehat dan seterusnya. Sekarang fokusnya pada BUMN sebagai agen pembangunan. Itu ditingkatkan. Makanya pertumbuhan bagus, dan BUMN hadir di tengah masyarakat pun kelihatan,” urainya.

Hambra mengaku. Dalam sejarah pembinaan BUMN ada momentum-momentumnya. Itu bisa dilacak ke peristiwa misalnya yang terjadi pada tahun 1998 dan tahun 2003.

Pada 1998, ada dua PP (Peratruan Pemerintah) yang keluar. Satu, soal BUMN dari departemen-departemen yang berada di bawah Departemen Keuangan. Kedua, Pembentukkan Kementerian Negara Pendayagunaan BUMN/Kepala Badan Pembinaan BUMN, dengan menterinya waktu itu Tanri Abeng.

Hambra, Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis-Kementerian BUMN ( Luthfi Pattimura)

“Jadi kalau mau dibilang BUMN sebagai korperasi baru dibangun pada 1998 itu. Nah, di 2003 kita lahirkan UU (Undang-undang) BUMN. Waktu DPR mengetuk palu UU BUMN, waktu itu saya sujud syukur. Bagaimanapun, dari nol (UU itu),  termasuk dari tangan saya. Saya eselon IV waktu itu,” akuinya.

Kendati pun UU BUMN sudah didesain sebagai korperasi. Dengan membawa sebahagian misi Pemerintahan. Namun perdebatan juga membuntuti statusnya; apakah keuangan BUMN termasuk keuangan Negara atau bukan. Apakah asset BUMN termasuk asset Negara atau bukan.

“Ini yang bikin kegalauan di BUMN. Kenapa? Kita bekerja, kita berpaham bahwa ini harus korporasi. Tapi ada yang melihatnya dengan menggunakan hukum publik. Diskusi masalah ini memang bukan baru,” ujarnya.

Di tengah perubahan UU BUMN yang kini dalam proses, ia bercita-cita, “Harapan saya, cita-cita besar saya, kalau mau merubah UU BUMN, maka kita harus benar-benar murnikan korporasi BUMN dari sisi tata kelola. Harus perjelas fungsi dia sebagai korporasi itu seperti apa, dan sebagai agen pembangunan itu seperti apa. Itu harus dipertegas dalam UU.”

Karena membina BUMN dengan baik itu kadang butuh modal besar. Maka Kementerian BUMN, harus bermetaforfosa menjadi super holding.

Selama belum menjadi super holding, akui Hambra, kita gak akan bisa membina BUMN sebagai korperasi dengan baik. “Nanti kalau udah jadi super holding, kita udah bisa berpikir bersaing ke luar. Di dalam negeri kita cuma berpikir pembinaan. Pembinaan apa? Ya, pembinaan dunia usaha Indonesia,” jelasnya.

Memang sudah ada kebijakan Menteri BUMN, tentang dana progam kemitraan (PK) bagi pembinaan UKM secara terstruktur.

“Ibu Menteri punya kebijakan. Yaitu dana PK di setiap BUMN,  itu sebahagian dialihkan ke UKM untuk melakukan pembinaan secara terstruktur,” jelas Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis, yang juga deputi supporting terhadap deputi lain di KBUMN ini.

Deputi supporting itu, misalnya, terhadap bidang hukum, bidang SDM, bidang IT-data, dan supporting dibidang CSA (Control Self Assessment), di KBUMN.

Akhirnya. Selalu ada yang besar di antara amanat di pundak. Dalam kosmos persaingan global, pembinaan dunia usaha Indonesia dan berpikir bersaing ke luar memang keharusan. Semoga KBUMN bermetamorfosa menjadi super holding, bukan sekedar impian. (Sukowati Utami, Luthfi Pattimura).

You might also like