PELECEHAN SEKS ANAK

Divonis Lepas, Terdakwa Penipuan Rp1 M Paiman “Tersenyum”

Usai divomis lepas, terdakwa penipuan Rp1 miliar berkedok jual beli minyak sawit curah (CPO), Rabu (10/4/2019) “tersemyum” melenggang keluar dari ruangan Cakra 9 Pengadilan Negeri (PN) Medan, menyusul majelis hakim diketuai Aimafni Arli SH dan langsung menuju ruangannya di gedung sebelah.

Dalam amar putusannya majelis hakim menyatakan terdakwa Paiman alias Amin (42), lepas dari segala dakwaan/tuntutan pidana.

Segala tuntutan hukum atas perbuatan terdakwa memang telah terbukti secara sah dan meyakinkan, akan tetapi, terdakwa tidak dapat dijatuhi pidana, karena perbuatan tersebut bukan merupakan ruang lingkup tindak pidana, melainkan perdata.

Menurut majelis hakim, Paiman tidak bisa dimintai pertanggung jawaban hukum disebabkan adanya putusan Pengadilan Niaga menyatakan perusahaan milik terdakwa yakni CV Anugrah Jaya Perkasa, pailit. Putusan dari awal hingga akhir dibacakan hakim ketua Aimafni.

Perkara penipuan menjerat  warga Sunggal Perumahan Somerset Blok C-18 Kelurahan Sunggal Kecamatan Medan Sunggal 3 pekan terakhir sempat menjadi perhatian warga pencari keadilan sebab terdakwa sebelumnya harus dikeluarkan dari Rumah Tahanan Negara (Rutan) Tanjung Gusta Medan karena masa tahanannya telah berakhir.

Khawatir salah mengutip, awak media akhirnya menanyakan kembali apa isi amar putusan yang baru dibacakan sebab pada saat kalimat mengadili dan seterusnya, volume suara hakim ketua mengecil nyaris tak terdengar.

“Putusannya tadi terdakwa lepas dari segala tuntutan hukum. Perbuatannya ada tapi bukan tindak pidana melainkan perdata,” kata Aimafni tersipu sembari meninggalkan kerumunan wartawan.

Secara terpisah usai persidangan penuntut umum Jacky Situmorang SH menyatakan kemungkinan akan melakukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung (MA) atas vonis lepas majelis hakim tersebut.

Ketika ditanya soal putusan Pengadilan Niaga yang menyatakan perusahaan terdakwa pailit sekaligus menjadi dalil atau alasan kuat majelis hakim melepaskan terdakwa dari jeratan pidana, imbuhnya, sampai sesi pembacaan putusan tersebut belum pernah ditunjukkan di persidangan.

“Ketika berkasnya dilimpahkan ke pengadilan, kami tidak tahu menahu soal  putusan pailit dari pengadilan niaga. Masalah perusahaan terdakwa pailit memang pernah disebut- sebut ketika pemeriksaan terdakwa. Namun tidak bisa ditunjukkan petikan putusannya di persidangan,” tutur Jacky.

‘Keanehan’ lainnya, bagaimana
mungkin korban atas nama Satria Purnama misalnya tidak tergiur, karena dijanjikan dapat keuntungan bila menanamkan investasi Rp1 miliar akan mendapatkan keuntungan Rp70 juta per bulan (7 persen) padahal namanya usaha jual beli CPO dari kacamata bisnis berfluktuasi.

Saksi korban sempat mengecap keuntungan selama 5 bulan dan kemudian mengajak kerabatnya bernama Elfrida untuk turut menanamkan investasi Rp2 miliar namun keuntungan 5 persen. Bukan cuma pembagian keuntungan macet, modal pokok investasi kedua korban pun tidak kembali.

You might also like