PELECEHAN SEKS ANAK

Tikus Putih Berbulu Halus

 

 

Priyono B. Sumbogo

John B.Watson (1878 – 1958) adalah seorang ahli psikologi berkebangsaan Amerika yang memperkenalkan aliran behaviorisme dalam psikologi. Behaviorisme berkeyakinan bahwa manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, benar atau salah. Berdasarkan bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk pola-pola tingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas dari kepribadiannya. Manusia juga mampu berefleksi atas tingkah lakunya, dan menangkap apa yang dilakukannya, mengatur dan mengontrol perilakunya sendiri.

Selain itu, behaviorisme percaya bahwa manusia sanggup memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkah laku yang baru melalui proses belajar. Manusia pun dapat mempengaruhi perilaku orang lain. Sebaliknya dirinya dipengaruhi oleh perilaku orang lain.

Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus (rangsangan) yang diterimanya dari lingkungan sekitar.  Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia yang buruk,  penakut, curang, dan semacamnya. Sementara, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia yang baik, pemberani, jujur dan sebagainya.

Dalam memandang kodrat manusia, John B.Watson seirama dengan persepektif agama, bahwa ketika dilahirkan manusia dalam keadaan putih bersih  bagai kertas. Orang tua dan masyarakat di sekitarnyalah yang mengubah anak tersebut (Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian teoritik. Jakarta : Rineka Cipta, 2009).

Watson mengadakan eksperimen terhadap Albert seorang bayi berumur 11 bulan. Pada mulanya Albert adalah seorang bayi yang gembira yang tidak takut terhadap binatang seperti tikus putih berbulu halus. Albert senang sekali bermain bersama tikus putih yang berbulu cantik itu. Dalam eksperimen ini, Watson memulai proses pembiasaannya dengan cara memukul sebatang besi dengan sebuah palu setiap kali Albert mendekati dan ingin memegang tikus putih itu, dan juga terhadap kelinci putih. Setiap kali besi dipukul Albert terkejut dan tidak jadi memegang tikus atau kelinci. Lambat laun Albert pun berubah menjadi takut pada binatang.

Dalam wacana psikologi dikenal istilah perlaku politik sosial (people’s social behavior), sebagai perwujudan kepribadian individu yang melakukan tindakan-tindakan politik. Hatta Albanik dari Fakultas Psikologi Universitas Panjajaran, sebagaimana disebarluaskan oleh Sosio Politica (Februari 2011), menyajikan tulisan menarik tentang perilaku politik menyimpang.

Menurut tulisan tersebut perilaku politik menyimpang dapat diartikan sebagai perilaku politik yang menimbulkan gangguan mental bagi dirinya sendiri atau orang lain. Atau perilaku politik yang dirasakan sebagai gangguan atau mengganggu diri sendiri atau orang lain. Perilaku politik korupsi, kolusi, nepotisme jelas merupakan perilaku menyimpang karena dirasakan sebagai gangguan atau menimbulkan gangguan pada orang lain.

Perilaku politik menyimpang juga dirasakan sebagai gangguan bagi pelaku sendiri karena menimbulkan dampak tekanan (stress), tension, maladjustment, dan lain sebagainya.

Suatu proses rekrutmen yang keliru dalam kepemimpinan partai sehingga menempatkan seseorang berkecerdasan rendah sebagai pimpinan partai, akan menyebabkan kader tersebut mengalami gangguan psikis karena ketakmampuannya. Di lain pihak masyarakat akan merasa terganggu pula karena masalah yang dihadapinya tidak mampu diatasi dengan cerdas dan memadai sehingga justru mendatangkan penderitaan pada dirinya dan orang lain.

Romahurmuzi adalah Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dia diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena terlibat jual beli jabatan di Kementerian Agama. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin adalah kader PPP. Dengan demikian dia dalah anak buah Romahurmuzy atau Romi. Sebagai anak buah, yang keberadaannya di kementerian ditentukan pula oleh partai – kendati ditunjuk Presiden –  Lukman Hakim berpotensi untuk dicampuri oleh Romahurmuzy.

Dari sudut pandang psikologi, tindakan seperti itu tergolong perilaku politik menyimpang sebagaimana disebutkan di atas. Namun bukan hanya mereka yang menyimpang. Sejumlah pimpinan partai lain seperti Setya Novanto dari Golkar dan Taufik Kurniawan dari Partai Amanat Nasional (PAN) adalah politisi-politisi menyimpang yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.  Atau Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat.

Tapi juga bukan hanya mereka yang menyimpang. Telah banyak kader partai ditangkapi dan dijebloskan KPK ke bui. Jumlah mereka yang akan menghuni penjara mungkin akan terus bertambah. Sebab penyimpangan itu sudah menjadi tradisi yang dianggap biasa. Dan mereka telah menjadi tikus putih berbulu halus yang dipelihara.

 

You might also like