PELECEHAN SEKS ANAK

Tak Akan Kubiarkan Indoneisa Dikuasai Non Muslim

 Priyono B Sumbogo

Ketika terjadi aksi terorisme di Bali, yang populer disebut Bom Bali 2002, dunia berduka, marah, dan berdoa. Sekalipun yang tewas pada umumnya adalah kaum dunia gembira (dugem), peminum alkohol, konsumen narkotika, dan pelaku kemesuman.

Bom Bali adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali. Sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan.

Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.

 Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50–150 kg.

 Peristiwa Bom Bali I ini juga diangkat menjadi film layar lebar dengan judul Long Road to Heaven, dengan pemain antara lain Surya Saputra sebagai Hambali dan Alex Komang, serta melibatkan pemeran dari Australia dan Indonesia. Maklumlah banyak turis dari Australia yang jadi korban.

Jumat siang 15 Maret 2019 di Selandia Baru, di negara yang mayoritas penduduknya non muslim, Brenton Tarrant yang berusia 28 tahun dan tiga rekannya, memberondongkan bedil laras panjang ke jamaah masjid Al Noor di pusat Kota Christchurch, dan ke Masjid Linwood di pinggiran kota. Saat itu umat muslim Selandia Baru sedang melaksanakan salat Jumat. Brenton Tarrant adalah warga Australia yang datang ke Selandia Baru, tak jauh dari Australia, untuk membunuh umat Islam.

Komisioner Kepolisian Selandia Baru Mike Bush mengatakan jumlah korban tewas dalam dua serangan di masjid di Christchurch telah bertambah menjadi 49 orang. Sedangkan yang luka belum disebutkan dengan pasti.

Dunia memang heboh. Namun tidak ada doa bersama dari gereja, kuil, atau pagoda di dunia. Para pemimpin dunia kedengarannya memang marah, tapi sepertinya tidak bersedih. Polisi Selandia Baru memang bertindak, tapi tidak mengundang polisi Indonesia untuk ikut mengungkap tragedi ini.

 Baiklah tak apa. Tragedi Selandia Baru kian menegaskan asumsi bahwa bila umat Islam hidup di negeri mayoritas non muslim, mereka akan menderita, ditindas seperti di Cina, dibantai seperti di Myanmar, dan ditembaki seperti di Selandia Baru.

Terus terang saya marah dan terbakar. Ingin rasanya membalas perbuatan Brenton Tarrant dengan menghabisi semua orang Australia di Indonesia. Tapi tentu tidak akan saya lakukan, karena Islam melarang balas dendam dan membunuh. Lagi pula polisi Indonesia tidak akan membiarkan tindakan seperti itu.

Namun saya bersumpah dan akan senantiasa mengajak, menghimbau, serta mendorong umat Islam Indonesia agar senantiasa berbaris untuk mencegah agar jangan sampai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dikuasai non muslim, apalagi menjadi negeri dengan penduduk mayoritas non muslim.

Lewat media sederhana ini, saya akan selalu berbaris bersama umat Islam. Walau saya bukan politisi dan hingga hari ini enggan memasuki politik praktis, tapi saya tidak akan pernah mendukung calon presiden atau calon wakil presiden non muslim. Saya tidak akan pernah mendukung partai yang menentang peraturan daerah (Perda) Syariah. Partai seperti ini adalah ancaman serius bagi umat Islam, bagi agama saya: Islam.

Di negeri ini, umat Islam sudah tertalu toleran kepada warga non muslim, serta hanya menahan jengkel karena non muslim menguasai perekonomian negeri ini. Meskipun ada sekelompok orang yang menodai toleransi itu dengan aksi-aksi terorisme, namum secara umum warga non muslim hidup sejahtera dan aman di Republik Indonesia.

Tapi apa jadinya bila umat Islam menjadi penduduk minoritas di Indonesia. Bagaimana jadinya bila kursi Presiden dan Wakil Presiden ditempati non muslim. Mungkin umat Islam Indonesia akan bernasib sama dengan umat muslim Cina, Myanmar, dan Selandia Baru. Dipenjara, dibantai, ditembaki.

 

 

You might also like