Penanganan Perkara Kasus Ilegal Fishing, Terdakwa Thian Huat Cs Terkesan Diistimewakan

3 Terdakwa Kasus Ilegal Fishing saat menjalani sidang perdananya, Kamis (29/2)

Forumkeadilan.com, Pangkalpinang – Perkara kasus Ilegal Fishing dengan 3 terdakwa masing masing Thian Huat nahkoda KM Marga Mulya, Junaedi Anak dari Limtoguan Nahkoda KM HKS Makmur, dan Andi anak dari Hok Siong nahkoda KM Ariana mulai disidangkan di PN Pangkalpinang, Kamis (29/2) sore.

Ketiga terdakwa tersebut didudukkan di kursi pesakitan dengan majelis hakim diketuai I Nyoman beranggota hakim Hotma EP Sipahutar dan Iwan Gunawan.

Pelaksanaan sidang kasus pidum ini terkesan istimewa. Pasalnya digelar di ruangan Tipikor yang memiliki fasilitas lengkap. Seperti pendingin ruangan, luas dan nyaman. Para terdakwa pun terlihat berpenampilan keren dengan berpakain kemeja lengan panjang-putih bersih dan celana hitam kain tanpa didampingi pengacara masing-masing.

JPU Nur Sricahyawijaya dari Kejati Babel dalam dakwaannya kepada 3 terdakwa menyatakan, kehadiran dari kapal-kapal tersebut ke Perairan Sadai, Bangka Selatan, hanya untuk berteduh dan faktor cuaca buruk. Namun menurut dia para terdakwa dinilai memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera Indonesia melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia dan/atau di laut lepas, yang tidak memiliki SIPI sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat (1).

Akibat perbuatan ilegal fishing tersebut, tidak mewujudkan pemanfaatan sumber daya ikan yang bertanggung jawab, optimal dan berkelanjutan serta mengurangi konflik pemanfaatan sumber daya ikan berdasarkan prinsip pengelolaan sumber daya ikan yang ada di perairan Kabupaten Bangka Selatan.

Bahwa perbuatan para terdakwa tersebut diatur dan diancam pidana sebagaimana dalam pasal 93 ayat (1) Undang-Undang RI no 45 tahun 2009 tentang perikanan.

Selain digelar di ruang sidang Garuda, kejanggalan lainnya, saat sebelum sidang, sejumlah wartawan berupaya untuk mengambil gambar ke tiga terdakwa. Namun ketiganya belum terlihat sama sekali.

Sehingga beberapa wartawan terutama televisi sempat mendumel akibat 3 terdakwa tak terlihat di sekitar ruang sidang Garuda ketika sejumlah wartawan sedang menunggu jadwal sidang. Lalu anehnya saat sejumlah wartawan telah masuk  ke ruangan sidang, tiba-tiba 3 terdakwa dimunculkan petugas. Para terdakwa duduk di bangku paling belakang seraya menanti sidang yang akan segera dimulai.
“Mestinya janganlah ‘dibegitukan’ bener. Banyak terdakwa yang gak ditahan tetapi perlakuanya gak sampai segitu-gitunya,” kesal seorang wartawan.

 

Kekesalan senada juga disampaikan oleh wartawan online, Firman. “Kental sekali…. Sejak awal tak ditahan, terus perlakuan istimewa sekali dalam persidangan. JPU-nya mondar-mandir terkesan mengintip-intip wartawan jangan sampai menyorot terdakwanya. Aneh sekali,” sebut Firman yang juga berdarah Toboali, Bangka Selatan.

Sementara itu JPU Nur Sricahyawijaya membantah bila pihaknya telah memperlakukan para terdakwa secara istimewa. Namun dia justru mengelak untuk menjelaskan dimana para terdakwa saat sebelum sidang. “Kan ada di depan (ruang tunggu.red) itu mereka tadinya,” elaknya.

Namun saat dibantah oleh awak media dengan mengatakan jika wartawan televisi memiliki bukti. Jaksa Cahya sapaan akrabnya berdalih kalau para terdakwa lagi izin makan siang. “Ooo, mereka lagi makan siang tadinya,” kilahnya.

Terkait penanganan 3 terdakwa  pelaku ilegal fishing ini sebelumnya sempat  memicu gejolak pada warga nelayan tradisional Toboali-Bangka Selatan.

Mereka menyesalkan tim terpadu yang dikomando Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bangka Belitung, pihak penuntut Kejaksaan Tinggi tidak melakukan penahanan di rumah tahanan (Rutan) terhadap 3 terdakwa tersebut. Namun begitu dikatakan oleh salah satu tokoh nelayan Toboali, Kodi Midahri, harapan penahanan tersebut belum terlambat ada di pihak majelis hakim Pengadilan Negeri Pangkalpinang yang akan mengadili.

“Adanya penangkapan 3 kapal dan nahkoda yang sudah ditetapkan  terdakwa itu berawal dari aksi protes dan demontrasi besar-besaran yang telah kami lakukan selama ini. 3 kapal dan nahkoda yang ditangkap itu telah meresahkan dan merugikan nelayan kecil dan tradisional bertahun-tahun lamanya. Dengan adanya penindakan tegas tersebut, kita berharap tak ada lagi aktivitas kapal besar yang menjarah wilayah tangkap nelayan kecil dan tradisional seperti kami ini,” kata Kodi.

Majelis hakim menurutnya jangan setengah hati dalam mengadili perkara ini. Sebab nasib nelayan kecil yang sudah teraniaya selama ini sudah saatnya dibela oleh “sang wakil Tuhan” di muka bumi ini. “Kita berharap agar majelis hakim menahan di Rutan terhadap para terdakwa. Hanya dengan sikap tegas itulah luka-luka hati yang dirasakan nelayan selama ini dapat sedikit terobati,” ujarnya lirih.

Penanganan perkara ini janjinya akan dikawal oleh warga nelayan. Nelayan ingin mengetahui sejauh apa keseriusan dalam penegakan hukum. “Kami akan kawal kasus ini hingga tuntutan dan putusan, jangan sampai ada ketidakadilan. Kami terus hadir,mengikuti dan mengawal persidangan, apalagi pemilik 3 kapal tersebut adalah pemodal-pemodal besar,” ucapnya.

Tiga kapal tersebut disampaikan oleh Kodi, merupakan kapal yang kerap terpantau melanggar hukum di perairan Selatan. Bahkan pernah dilaporkan nelayan ke aparat berwajib lalu ditangkap namun akhirnya lepas di tengah laut. “Namun akhirnya setelah kita aksi demo besar-besaran berhasil juga ditangkap. Maka dari itu kita akan kawal ini semua di peradilan,” tukasnya.

 

You might also like