KPK IKLAN

Lagi-Lagi Ada Anak Durhaka Tebas Leher Ibu Kandung

Kasus penganiayaan yang melibatkan anak dan ibu kandung juga terjadi di wilayah hukum Polres Mojokerto Kota. Kasus penganiayaan tersebut dialami Soning (62) warga Dusun Sumber Dadi, Desa Gunung Sari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Kapolsek Dawarblandong, AKP Supriyadi mengatakan, penganiayaan tersebut terjadi pada, Rabu (14/3/2019). “Sekira pukul 00.10 WIB, korban keluar rumah dengan luka pada leher. Korban minta tolong dan ditolong Kadus setempat,” ungkapnya.

Masih kata Kapolsek, Kepala Dusun (Kadus) Sumber Dadi, Sumardi kemudian meminta bantuan dua warga untuk membawa korban ke Puskesmas Dawarblandong. Sementara pelaku yang merupakan anak kandung korban pasca kejadian masih berada di dalam rumah.

“Kebetulan Pak Kadus masih ada hubungan saudara dengan korban dan bertetangga. Korban dibawa ke Puskesmas Dawarblandong namun dirujuk ke ke RS Walisongo Balongpanggang, Gresik. Karena tak sanggup korban dirujuk ke RS Teksi Waluyo, Kota Mojokerto,” katanya.

Kapolsek menambahkan, pelaku atas nama Muhammad Ikyu Aviyanyo (22) yang merupakan anak kedua korban. Pelaku merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, setiap harinya korban tinggal bersama dengan pelaku.

Untuk mengamankan pelaku pembacokan ibu kandung, Polsek Dawarblandong harus melibatkan anggota Sabhara Polres Mojokerto Kota. Pasalnya, pelaku Muhammad Ikyu Aviyanyo (22) membawa senjata tajam (sajak) saat hendak diamankan.

Kapolsek Dawarblandong, AKP Supriyadi mengatakan, pelaku diamankan di rumahnya di Dusun Sumber Dadi, Desa Gunung Sari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. “Dia berhasil diamankan sekira pukul 06.45 WIB,” ungkapnya, Rabu (13/3/2019).

Masih kata Kapolsek, pasca melakukan penganiayaan terhadap ibu kandungnya, Soning (62), pelaku masih berada di dalam rumah. Namun untuk mengamankan pelaku, Polsek Dawarblandong terpaksa meminta bantuan anggota Sabhara Polres Mojokerto Kota.

“Saat diamankan, pelaku membawa parang dan mencoba membacok anggota yang akan mengamankan. Akibat bacokan parang tersebut, mengenai jendela rumah. Saat ini, pelaku sudah diamankan di Polsek Dawarblandong dan mengamankan dua senjata tajam,” katanya.

Dua senjata tajam (sajam) yang berhasil diamankan tersebut yakni parang dan pisau. Kapolsek belum bisa memastikan sajam jenis apa yang digunakan menganiaya korban, korban sendiri saat ini berada di RS Rekso Waluyo, Kota Mojokerto.

Sebelumnya, warga Desa Madumulyorejo, Kecamatan Dukun, Gresik digegerkan adanya kasus pembunuhan. Korban Ranis (60) ditemukan tidak bernyawa setelah ditebas lehernya oleh anak kandungnya, Rozikin (28) dengan sebilah celurit.

Kasus pembunuhan ini berawal saat Ranis mengalami sakit demam. Namun, sebelumnya korban diduga memarahi anak kandungnya (cekcok). Usai dimarahi, pelaku menaruh dendam dan emosi terhadap sang ibu.

Rupanya emosi pelaku semakin menjadi-jadi. Pelaku kemudian menebaskan celurit ke leher ibunya. Saat itu Ranis sedang tiduran di ruang tamu. Dalam sekali tebas, leher korban nyaris putus dan meninggal di tempat kejadian perkara (TKP).

Usai membunuh ibu kandungnya, pelaku melarikan diri dan bersembunyi di rumah keduanya sambil menyembunyikan celurit yang digunakan untuk membunuh. “Saya tega membunuh ibu sendiri karena dimarahi terus-menerus. Sehingga, emosi menjadi-jadi lalu saya bunuh dengan sebilah celurit,” ujar Rozikin di depan penyidik Polsek Dukun, Minggu (10/3/2019).

Tanpa penyesalan Rozikin terus mengomel sewaktu diperiksa. Bahkan, dengan nada datar dia mengaku tidak sedih setelah membunuh ibu kandungnya sendiri. “Gak sedih blas wes mari mateni ibuku dewe (Tidak sedih sama sekali setelah membunuh ibu sendiri,” ungkapnya.

Terkait dengan kejadian kasus ini, Kapolres Gresik AKBP Wahyu Sri Bintoro menuturkan, diduga pelaku mengalami gangguan jiwa. Sebab, pelaku yang merupakan anak ketiga korban tidak ada rasa sedih sama sekali melakukan tindakan sadis itu. Sebelum ditangkap memang ada laporan dari Babinkamtibmas. Yakni, ada laporan pembunuhan yang dilakukan oleh anak kandungnya sendiri.

“Ada dugaan pelaku ada gangguan jiwa. Kendati demikian kami tetap melakukan pemeriksaan dengan membawa pelaku ke rumah sakit jiwa,” tuturnya.

Sementara Kepala Desa (Kades) Madumulyorejo Matrozim menyatakan sebelum membunuh pelaku memang mengalami depresi. Malahan sama keluarganya pernah diperiksakan ke rumah sakit. “Kondisi kejiwaan pelaku labil. Meski saat ditangkap tidak melakukan perlawanan,” pungkasnya

You might also like