KPK IKLAN

Koalisi Pendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin Retak

Sekretaris Departemen Pemerintahan DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hanjaya Setiawan menyesalkan “serangan” yang disampaikan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI)Grace Natalie terhadap partai politik nasionalis.

“Sebagai ketua umum partai, seharusnya Grace lebih bijaksana dan cerdas dalam berkomentar, menyerang sesama partai koalisi pendukung capres Jokowi sungguh tidak elok dan tidak etis,” katanya saat dihubungi melalui telepon dari Semarang, Rabu.

Terlebih, lanjut dia, pelaksanaan pemilu tinggal satu bulan lagi sehingga membutuhkan soliditas yang kuat untuk memenangkan pasangan Capres Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Bagi PDIP, kemenangan Jokowi adalah prioritas, serangan dari dalam (partai koalisi) dapat dikategorikan sebagai pengkhianatan,” ujarnya.

Sekretaris Departemen Pemerintahan DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hanjaya Setiawan

Hanjaya mengungkapkan selama ini PSI telah diberi kesempatan yang luas oleh Presiden Jokowi yang notabene merupakan kader PDIP, namun sebaliknya baliho petinggi-petinggi PSI yang berukuran besar-besar dapat dikatakan justru tidak ada yang memasang atau mengampanyekan pasangan Capres Jokowi-Amin.

Menurut dia, Ketum PSI Grace Natalie terlihat kalap dan menempuh jalan pintas dengan menyerang partai koalisi dengan memainkan politik pencitraan serta secara serampangan untuk menyelamatkan diri sendiri dan mendongkrak elektabilitas PSI.

“Manakala Pemilu sudah dekat, ternyata elektabilitas PSI (berdasarkan beberapa survei) masih jeblok. Dana dari pengusaha luar biasa besar, terlihat dari iklan di televisi maupun media luar ruang yang masif,  tidak dapat mendongkrak elektabilitas PSI. PSI masih belum beranjak dari partai nol koma,” katanya.

Sebagai sesama partai nasionalis, kata dia, PSI seharusnya dapat berjuang bersama-sama mewujudkan Indonesia yang plural, toleran, serta nyaman untuk semua orang, bukan malah membanggakan  diri paling hebat, heroik, dan merendahkan partai lainnya.

Hanjaya juga menilai Ketum PSI Grace Natalie memainkan sesuatu yang tabu dalam landskap perpolitikan Indonesia.
“Kesombongan akan membuat tersungkur pada akhirnya,” kata Caleg DPR RI Daerah Pemilihan Jateng I yang meliputi Kota Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, serta Kendal.

Oleh karena itu, ia meminta Ketum PSI Grace Natalie untuk secepatnya meminta maaf secara terbuka agar agenda pemenangan Jokowi tidak terganggu.

Sebelumnya, Ketum PSI melontarkan “serangan” bertubi-tubi ke parpol nasionalis, bahkan yang sama-sama pro Jokowi saat berpidato politik di Medan International Convention Center, Senin (11/3).

Grace menyampaikan kritik tajam ke sesama parpol nasionalis itu saat pidato politik di Medan International Convention Center, Senin, (11/3/2019).

“PSI sebetulnya tidak perlu berdiri jika Partai Nasionalis mengerjakan pekerjaan rumahnya,” ujar Grace dalam siaran pers dari PSI.

“Kepada teman-teman partai lain — termasuk yang ada dalam koalisi TKN, kami mohon maaf, meskipun kita berada dalam perahu yang sama — yang akan membawa Pak Jokowi kembali menang — tapi bukan berarti kita tidak memiliki perbedaan,” ujarnya memberi penegasan.

Ia kemudian mengungkap satu demi satu ‘dosa’ partai nasionalis. Pertama, ia mempertanyakan ada partai nasionalis yang diam-diam mendukung Perda Syariah. Ia mempertanyakan sikap partai politik terhadap kasus Meliana di Tanjung Balai.

“Ke mana kalian — Partai Nasionalis — pada September 2018 ketika Ibu Meliana, korban persekusi yang rumahnya dibakar pada saat dia dan anak-anaknya ada di dalamnya, justru divonis bersalah penjara dua tahun oleh pengadilan,” ujar Grace seraya mengungkap upaya PSI melindungi Meliana.

“Kenapa kalian bungkam, ketika pada 27 September lalu, tiga gereja disegel Pemerintah Kota di Jambi karena adanya ancaman dan desakan sekelompok orang. Hanya PSI yang mengecam. Sedang apa kalian ketika 13 Januari lalu terjadi persekusi atas jemaat GBI Philadelpia yang sedang beribadah di Labuhan Medan? Kenapa hanya PSI yang memprotes itu?” ujarnya terus mencecar partai nasionalis.

Ia lantas mempertanyakan di mana partai nasionalis ketika pada 17 Desember nisan kayu salib dipotong dan prosesi doa kematian seorang warga Kristen ditolak massa. “Cuma PSI yang menyampaikan kecaman atas peristiwa sedih itu. Lagi-lagi, hanya PSI yang pada 12 Oktober lalu mendesak polisi mengusut peristiwa teror atas upacara sedekah laut di Bantul, Yogjakarta,” sambungnya.

Serangan Grace tak hanya berhenti di situ. Ia mempertanyakan kenapa partai nasionalis di Senayan turut membahas RUU Pesantren dan Pendidikan Agama. PSI mempersoalkan rancangan ini karena berpotensi membatasi praktik sekolah minggu, yang selama ini diatur secara otonom oleh gereja.

“Mana suara Partai Nasionalis ketika 1 Maret lalu, NU membuat rekomendasi bersejarah untuk tidak menggunakan istilah “kafir” kepada kelompok non-Muslim? Bukankah ini keputusan penting untuk menghapus praktik diskriminasi? Kenapa cuma PSI yang mengapresiasi NU? apa sikap Partai Nasionalis lain? Kenapa takut bersuara? atau kalian memang tidak perduli?” katanya.

Bagi Grace, Persatuan Nasional tidak cukup ditegakkan dengan hanya meneriakkan kata “Merdeka” sebelum berpidato. “Saya tidak akan pernah berteriak merdeka sebelum semua warga negara betul-betul merdeka beribadah. Saya tidak akan berteriak merdeka sampai rakyat Indonesia bebas dari persekusi!” tegasnya.

Grace tak menyebut nama satu parpol nasionalis pun yang jadi sasarannya. Namun ia terus melontarkan serangan, kali ini soal partai politik yang men-caleg-kan eks koruptor, tak memberi sanksi anggota dewan yang suka bolos.

Ia menegaskan hanya PSI yang tak mencalegkan mantan koruptor. “Hanya PSI yang secara terbuka, tanpa mahar. Kanidat kami diuji olehh para tokoh independen dan berintegritas seperti Pak Mahfud MD, Pak Bibit Samar Rianto, Ibu Marie Elka Pangestu dan tokoh-tokoh lainnya. Seleksi yang ketat telah menghasilkan para caleg berkualitas,” ungkapnya.

Tersisa 33 hari lagi sebelum masa tenang datang. PSI berharap KPU, civil society atau media massa memfasilitasi debat antar partai agar publik bisa menilai kualitas dari partai yang akan mereka dukung.

“Bagi kami debat ini penting untuk memastikan kualitas DPR mendatang tidak lebih buruk. PSI sendiri siap berdebat dengan partai manapun untuk menjelasan visi politik yang kami tawarkan,” tegasnya.

“PSI berbeda dengan Partai Nasionalis lainnya. Bersama PSI kita akan kubur istilah mayoritas dan minoritas; pribumi dan non pribumi. Semua adalah warga negara yang setara. Hanya PSI yang akan setia berjuang dengan rakyat demi kebebasan beragama dan beribadah. Tidak akan ada lagi penutupan paksa rumah ibadah di negeri ini,” pungkasnya.

You might also like