Bupati Batubara: “Pengelolaan Masjid Harus Ditangani Bersama”

Lembaga Takmir Masjid (LTM) PW Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Utara menggelar pendidikan dan pelatihan manajemen mesjid. Pelatihan ini digelar selama dua hari diikuti ratusan pengurus masjid di Kabupaten Batubara, Tanjungbalai, Labuhanbatu Utara dan Kota Padangsidempuan.

Panitia pelatihan ini dipercayakan kepada PC NU Batubara, dilaksanakan sejak Selasa (19/3/2019) hingga Rabu (20/3/2019). Pelatihan yang mengusung thema: “Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid Sebagai Pusat Pelayanan dan Pemakmuran Jamaah” itu digelar di aula RM Banyuwangi, Kecamatan Lima Puluh, Batubara.

Dalam laporannya, ketua panitia drg H Abdul Halim MPPM menyebut peserta pelatihan manajemen masjid mencapai 200 orang. Mereka rata-rata pengurus dan pengelola mesjid di Batubara, Tanjungbalai, Labuhanbatu Utara dan Kota Padangsidempuan. “Kita berharap peserta pelatihan ini dapat menambah wawasan dalam tata kelola administrasi manajemen mesjid guna peningkatan pelayanan dan pemakmuran jamaah,” tuturnya.

Abdul Halim juga menghimbau seluruh peserta dapat mengambil manfaat pelatihan dalam upaya  menjadikan fungsi mesjid sebagai tempat ibadah, ukhuwah, tarbiyah dan dakwah, dengan tujuan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa. “Diklat Manajemen Mesjid ini diharapkan dapat memberi pemahaman kepada seluruh pengelola mesjid akan pentingnya penataan manajemen sekaligus meningkatkan kerukunan berbangsa dan bernegara,” ucap Abdul Halim yang juga pengurus Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) ini.

Wakil Ketua PW NU Sumatera Utara, Drs HM Adlin Damanik MAP, mengapresiasi antusias peserta pelatihan yang datang dari empat kabupaten/kota di Sumatera Utara. Menurutnya, pendidikan dan pelatihan manajemen masjid sudah menjadi agenda rutin PW NU Sumatera Utara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan tata kelola administrasi manajemen mesjid, dan peningkatan peran serta fungsi mesjid dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Hal senada disampaikan Bupati Batubara, Ir H Zahir MAP. Menurutnya, pengelolaan masjid harus ditangani secara bersama, tidak hanya mengandalkan pengurus saja, tetapi juga melibatkan aparat desa. Sebab, masjid merupakan salah satu aset desa yang dapat menjadi sentral kehidupan umat Islam. “Mesjid merupakan sentral kegiatan umat. Pengelolaan dan penataannya mesti melibatkan semua pihak, tidak hanya pengurus mesjid, tapi juga melibatkan aparat desa. Untuk pengembangan atas peran dan fungsi mesjid diperlukan pemikiran serta gagasan inovatif, sekaligus kemauan semua pihak, terutama para pengurus masjid,” ujarnya.

Mengelola masjid di zaman sekarang ini, ucap Zahir, memerlukan ilmu dan keterampilan manajemen. Kegiatan diklat manajemen masjid, merupakan upaya memberikan pembinaan di bidang dakwah dan pengkajian, pemberdayaan organisasi dan pengembangan SDM, kesehatan, lingkungan hidup dan kepemudaan, pengembangan ekonomi umat dan iptek, hukum dan wakaf serta zakat, infaq dan shadaqoh. “Kegiatan diklat manajemen masjid, selain sebagai wadah silaturahmi, juga untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas SDM bagi para pengurus masjid. Melalui kegiatan ini, saya harapkan menjadi kunci terciptanya kualitas masjid yang lebih baik dan memiliki arti luas seperti masalah keindahan, kebersihan termasuk masalah kemakmuran jamaah masjid,” harapnya.

Zahir juga mengingatkan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. “Islam itu Rahmatan lil alamin. Islam tidak mengajarkan perpecahan. Jangan sempat mesjid dijadikan tempat untuk agenda politik yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa,” sebutnya seraya meminta semua pihak untuk tidak terprovokasi dengan berita-berita hoax.

Pembukaan Diklat Manajemen Masjid ini diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh H Nasrullah, dilanjutkan doa ustadz Syahrul SPdI. Acara juga diisi dengan upah-upah sejumlah kader dan tokoh NU yakni drg H Abdul Halim MPPM, Suriono ST (mewakili masyarakat Jawa), Pardamean Siregar SP MAP (mewakili masyarakat Batak), Arizal SH MH (tokoh muda professional), ustadz Syahrul SpdI (mewakili ulama), Hj Yanti Sofyan (mewakili kaum perempuan), Ir H Zahir MAP (Bupati Batubara), KH Masdar Mas’udi (pengurus pusat DMI), H. OK Zulkiflie (PWNU Sumut), Mohammad Masrof MPd (PCNU Batubara), Muklis BN (mewakili etnis Melayu) dan H Ichwan SE MSi (mewakili masyarakat Talawi).

Hadir dalam acara itu Rois Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi yang juga Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Wakil Ketua PP DMI KH Ibnu Hazen yang juga Sekretaris LTM PBNU), Wakil Ketua MUI Pusat KH Muiz Aly Murthado yang juga Wakil Sekretaris LTM PBNU), Wakil Ketua LBM PBNU KH Mahbub Ma’afi, Kyai Ali Sobirin, Kyai Syarif Hidayat, Ketua MUI Batubara KH Ghazali Yusuf Lc, Ketua Syuriyah PWNU Sumut H Abrar Dawud Faza MA, Wakil Ketua PWNU Sumut OK Zulkiflie, unsur mustasyar, syuriyah, dan tahfidziyah PCNU Batubara.

You might also like