Ustadz Babakbelur Dianiaya Warga Tionghoa Gara-gara Tegur Jangan Sembarangan Lepas Anjing Peliharaan

Ustadz Nursarianto ketiban sial. Guru madrasah ini, dianiaya hingga berdarah-darah. Ia babak belur dikeroyok wanita Tionghoa hanya lantaran memberi nasihat agar tidak melepas anjing sembarangan. 

Kasus penganiayaan bersama sama ini dilaporkan Nursarianto ke Polsek Percut Seituan, Kamis (7/2/2019) malam. 

Bukan hanya melapor ke polisi, Nursarianto juga memposting kasus pengeroyokan itu ke media sosial facebook. Dalam postingannya ia bercerita kronologi penganiayaan yang dilakukan perempuan Tionghoa terhadap dirinya.


Kejadiannya sekitar pukul 17.00 WIB, Kamis (7/2/2019). Saat itu ustadz Nursarianto baru saja mengikuti rapat pelaksanaan Pekan Olahraga dan Seni Diniyah se-Medan Tembung di Madrasah Muhammadiyah Jalan Mandailing Kelurahan Bantan Timur, Kecamatan Medan Tembung. Namun, karena ada berkas yang tertinggal, Nursarianto pun pulang untuk mengambilnya kelengkapan berkasnya.
Ketika melintas di Jalan Pukat I dahulu disebut Jalan Mandailing, Nursarianto kaget melihat murid murid madrasah Nadhlatul Ulama (NU) berlarian karena dikejar kejar anjing peliharaan warga Tionghoa. Murid murid madrasah itu menjerit histeris ketakutan.
Melihat itu, Nursarianto pun menghentikan sepedamotornya. Ia pun menasihati warga Tionghoa pemilik anjing agar tidak melepas hewan peliharaannya sembarangan. Nasihat ustadz ini disambut wanita Tionghoa dengan emosi. Sang ustadz malah diributi. Pertengkaran pun tak terhindarkan. Para pemuda setempat menyarankan agar ustadz Nursarianto pergi.
Atas saran para pemuda, ustadz Nursarianto pun pergi menghindari pertengkaran. Ia pergi ke tepi Jalan Mandala, namun sepedamotornya tertinggal. Ia bermaksud mengambil sepeda motor jika suasana sudah reda. “Karena saran pemuda setempat saya mesti pergi, saya menghindar ke Jalan Mandala dan sepeda motor saya tertinggal.  Maka saya tunggu reda,”  katanya.
Tanpa disangka, wanita Tionghoa itu datang bersama keluarganya menyerang Nursarianto. Mereka menganiaya sang ustadz sampai babak belur. Nursarianto tak melakukan perlawanan. Ia pasrah dianiaya hingga kepalanya terluka dipukul benda keras.
Dalam kondisi berdarah darah, Nursarianto melapor ke Polsek Percut Seituan. Ia pun melakukan visum di RS Haji Medan. Kasus penganiayaan itu sepertinya dilimpahkan Polsek Percut Seituan ke Polrestabes Medan.


Kasus penganiayaan itu disikapi oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Prof Dr Moh Hatta dengan mendatangi ruangan penyidik Polrestabes Medan tempat N diperiksa. Di ruangan tersebut, Prof Hatta kemudian merekam videonya dan menyampaikan harapannya agar pihak kepolisian menangani kasus ini dengan baik.

“Saat ini saya sedang di ruang reskrim Polrestabes Medan, dimana petugas sedang memeriksa N yang menganiaya ustad Nursarianto . Beliau sedang ditangani pihak Polrestabes Medan. Kita berharap agar kepolisian dapat menangani ini dengan sebaik-baiknya. Kita percayakan kepada aparat kepolisian untuk menyelesaikan masalah hukum ini dengan sebaik-baiknya,” kata Prof Hatta yang juga mantan Dekan Fakultas Dakwah IAIN Sumut, Jumat (8/2/2019).
Kasus penganiayaan yang dilakukan N terhadap ustad ini sempat membuat heboh warga yang bermukim di lokasi kejadian. Hal ini karena aksi pemukulan terjadi hanya karena N tidak terima atas teguran sang ustad.

Polisi pun langsung turun ke lokasi dan mengamankan N dan membawanya ke Polrestabes Medan untuk diperiksa.

“Yang bersangkutan sudah kita amankan dan saat ini masih diperiksa di Polres,” sebut Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha Prawira.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.