Tak Punya Sertifikat Keahlian, Saksi Sidang IPA Martubung Ditolak

Sidang Dugaan Korupsi IPA Martubung PDAM Tirtanadi

Sidang lanjutan dugaan korupsi pengerjaan proyek Instalasi Pengolahan Air (IPA) Martubung PDAM Tirtanadi berlangsung alot. Penasihat hukum terdakwa Flora Simbolon ST SE menolak tiga saksi yang diajukan tim JPU dari Kejari Belawan. Alasannya, saksi ahli yang diajukan itu tidak memiliki sertifikat keahlian. 

Keterangan diperoleh Senin (11/2/2019), menyebutkan bahwa persidangan diwarnai perdebatan terkait tiga saksi yang tidak memiliki sertifikat keahlian.

“Kami selaku penasihat hukum dengan tegas menolak. Kami minta pengadilan memeriksa, siapa yang berbohong antara supplier beton dan saksi dari USU,” kata Andar Sidabalok SH MH, ketua penasihat hukum terdakwa Flora Simbolon di PN Medan, usai persidangan Kamis lalu.

“Mereka tidak punya kapasitas sebagai saksi ahli. Saksi ahli harus punya sertifikasi sesuai keahlian dan bidang masing-masing. Ibarat dosen fakultas hukum, kalau tidak punya sertifikasi, maka tidak bisa jadi advokat. Sertifikasi dosen itu untuk akademis. Kalau untuk keperluan jadi saksi ahli, harus ada sertifikasi. Ini jelas melanggar UU Nomor 5 Tahun 2017,” sambung Andar.

Lalu soal pertanyaan, siapa berbohong mengenai kualitas beton, menurut Andar Sidabalok memang perlu. Sebab berdasarkan kwitansi, rekanan Kerjasama Operasional (KsO) PT Promits – PT Lesindo Jaya Utama (LJU) melakukan pembelian beton dengan kualitas K300. Ternyata berdasarkan pengakuan saksi dari USU di pengadilan, beton yang mereka periksa tidak sampai K300.

“Sepertinya harus dilakukan pemeriksaan, siapakah di antara mereka yang berbohong. Kalau benar hasil pemeriksaan saksi dari USU itu seperti yang mereka sampaikan dalam sidang, berarti, suplier yang berbohong. Tapi kalau ternyata suplier bisa membuktikan, bahwa beton yang mereka berikan sesuai dengan kualitas yang diminta, berarti saksi yang berbohong,” katanya.

Di awal sidang untuk terdakwa Flora Simbolon itu, sempat terjadi perdebatan soal kehadiran ketiga saksi dari USU yakni Indra Jaya Pandia, Andi Putra Rambe dan Indrajaya. Penasihat hukum langsung mengungkapkan keberatan karena mereka tidak memiliki sertifikasi sesuai keahlian dan bidang masing-masing.

Sejenak majelis hakim diketuai Sapril Batubara SH tampak berunding untuk menyikapi masalah sertifikasi tersebut. Akhirnya sidang diteruskan dengan kapasitas tidak lagi semuanya saksi ahli. Namun keberatan kuasa hukum tadi, menjadi catatan bagi persidangan.

Saksi pertama, Indra Jaya Pandia, mengaku hadir sebagai saksi dengan surat penugasan dari Dekan Fakultas Teknik USU. Demikian juga untuk memeriksa pengerjaan proyek Instalasi Pengolahan Air (IPA) Martubung. Saksi hanya berbekal surat tugas dari Dekan Teknik USU.

Untuk menguji fisik bangunan beton, kata dia, dilakukan metode ‘hammer test’ serta pengambilan sampel dari beton untuk dibawa ke laboratorium. Mereka juga melakukan pengukuran untuk mengetahui volume yang terpasang.

Saksi kedua, Andi Putra Rambe juga berbekal surat penugasan dari Dekan Fakultas Teknik USU ketika menjawab pertanyaan JPU menjelaskan apa saja yang ada dalam sebuah pengolahan air. Dia juga menjelaskan soal cara kerja scada.

Menjawab pertanyaan ketua majelis hakim, saksi mengaku tahu ‘goal’ proyek adalah 200 liter per detik. Tapi belum dapat data soal debit hasil IPA Martubung.

Sementara untuk pertanyaan hakim anggota, saksi ini menyebut, pada pemeriksaan pertama, scada belum bisa menampilkan ‘back up’ data. Soal apakah ada tampilan grafik, saksi mengaku tidak ingat. Dan masalah ini disampaikan ke KsO.

Ditanya soal ahli scada, saksi menyebut, memang sangat jarang karena sangat spesifik. Salah satu yang diketahui ahli scada adalah Mahdi Azis, yang sudah bersaksi juga untuk kasus ini.

Ketika dikonfrontir, Flora mempertanyakan pernyataan Andi Rambe output debit air IPA Martubung. Padahal dalam ‘commissioning test’, soal debit ada disebutkan.

“Di commissioning test memang tidak ada liter per detik. Tapi ada satuan meter kubik per jam. Jadi ada tertulis ada 720 meter kubik per jam. Dan kalau dikonversi ke liter per detik, maka akan muncul 200 liter per detik,” katanya.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.