Pengacara: “Kesaksian Helpandi Serahkan Uang ke Hakim Merry Purba Tidak Cukup Bukti”

Soal Kasus Suap Dugaan Tamin Sukardi

Sidang lanjutan terdakwa Tamin Sukardi di Pengadilan Tipikor Jakarta memasuki babak baru menyusul tidak adanya bukti yang cukup untuk menguatkan keterangan saksi panitera pengganti Pengadilan Negeri Medan Helpandi yang mengaku telah menyerahkan uang kepada hakim Merry Purba.

Ketiadaan bukti yang cukup tersebut terungkap saat saksi Helpandi tidak tahu jenis mobil yang digunakan hakim Merry Purba saat menyerahkan uang. Selanjutnya, Helpandi juga mengaku tidak bicara apapun dengan orang yang ada di dalam mobil tersebut.

Pengacara Tamin Sukardi, Junaidi Albab Setiawan menyatakan kesaksian ini cukup aneh karena seharusnya Helpandi mengetahui jenis mobil yang digunakan Merry Purba jika saksi mengaku telah menyerahkan uang tersebut.

“Anehnya lagi saksi tidak bicara apapun dengan orang di dalam mobil, sementara pengakuannya uang itu diserahkan kepada Merry Purba di mobil. Jenis mobilnya pun saksi tidak tahu, kesaksian seperti apa ini,” kata Junaidi Albab kepada wartawan di Medan, Minggu (10/2/2019).

Junaidi menyatakan seharusnya majelis hakim mempertimbangkan keterangan saksi Helpandi yang tidak cukup dijadikan sebagai bukti. Junaidi menambahkan hal ini semakin menguatkan bahwa Merry Purba tidak pernah menerima uang dari Tamin Sukardi.

Hal senada disampaikan Tamin Sukardi bahwa dirinya tidak pernah memberi uang suap kepada Merry Purba, apalagi dengan menggunakan kode “Danau Toba” hingga “Ratu Kecantikan”. Tamin menegaskan tidak pernah melontarkan kode suap tersebut.

“Saya tidak pernah saya bilang itu, tidak ada memerintahkan itu,” kata Tamin Sukardi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (7/2).

Tamin juga membantah kode ‘pohon’ yang disebut dalam dakwaan jaksa artinya uang. Tamin mengaku pohon itu untuk inisial orang.

“Soal pohon saya maksudnya itu dua orang. Di sini mungkin kesalahannya, dua pohon itu dia (Helpandi) pikir Rp 2 miliar,” ujar Tamin.

Merry Purba merupakan salah satu hakim adhoc Pengadilan Tipikor Medan yang ditangkap KPK karena diduga menerima suap dari pengusaha Tamin Sukardi. Merry dituding menerima uang dari Tamin Sukardi melalui Helpandi, yang turut ditangkap KPK bersama Hadi Setiawan. Mereka ditangkap KPK pada 28 Agustus 2018 atau sehari pasca majelis hakim membacakan putusan perkara Tamin Sukardi yang dihukum enam tahun penjara.

Pengacara Hadi Setiawan, Aldres Napitupulu mengakui klienya ada memberi uang kepada Helpandi sebesar 280 ribu dolar Singapura atau setara Rp 3 miliar. Namun, kata Aldres, kliennya curiga uang tersebut tidak diserahkan Helpandi kepada majelis hakim yang menangani perkara Tamin Sukardi. Aldres menceritakan kecurigaan itu muncul saat kleinnya bertemu dengan salah satu hakim bernama Wahyu yang menyebut bahwa perkara Tamin Sukardi tidak bisa dibantu.

“Dari sini timbul kecurigaan bahwa Helpandi makan uang tersebut, karena uang itu rencananya untuk diserahkan ke majelis hakim,” ujar Aldres.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.