Bupati Nonaktif Purbalingga Dihukum 7 Tahun Penjara

Terbukti Gratifikasi Terima Duit Kontraktor Rp 1,19 Miliar

Tasdi tak kuasa menahan sedih. Bupati nonaktif Purbalingga ini lesu ketika majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang, menjatuhkan vonis 7 tahun penjara dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi.

Putusan yang dijatuhkan hakim ketua Antonius Wijantono itu, lebih ringan dari tuntutan jaksa selama 8 tahun penjara. “Menyatakan terdakwa terbukti bersalah, menjatuhkan hukuman selama 7 tahun penjara,” tegas hakim Antonius Wijantono, Rabu (6/2/2019).

Selain hukuman badan, hakim juga menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp300 juta yang jika tidak dipenuhi maka akan diganti dengan kurungan selama empat bulan.

Hakim juga menjatuhkan hukuman tambahan berupa pencabutan hak untuk dipilih dalam jabatan publik selama 3 tahun, terhitung sejak terdakwa selesai menjalani pokok hukuman.

Dalam putusannya, hakim menyatakan Tasdi terbukti melanggar Pasal 12 huruf a dan Pasal 12B Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 yang telah diubah dan ditambahkan dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Terdakwa terbukti menerima suap sebesar Rp115 juta dari pengusaha Hamdani Kosen. Suap tersebut merupakan komitmen fee yang diberikan oleh kontraktor pemenang proyek Islamic Center Purbalingga itu.

Total gratifikasi yang diterima terdakwa selama kurun waktu 2017 hingga 2018 mencapai Rp1,19 miliar.

Hakim juga menyatakan terdakwa tidak pernah melaporkan pemberian yang patut diduga berkaitan dengan jabatannya sebagai bupati itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Atas putusan tersebut, baik terdakwa maupun jaksa penuntut umum masih menyatakan pikir-pikir.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.