Bukti Visual Sudah Diserahkan Ke Polisi, KPK Pun Akan Jerat Penganiaya Pegawai KPK Dengan Delik Merintangi Penyidikan

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang menjerat pelaku penganiayaan dua pegawainya dengan jeratan merintangi penyidikan sebagaimana diatur dalam pasal 21 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan pihaknya masih melakukan pembahasan terkait pengenaan pasal tersebut.

“Soal adanya tanggapan publik apakah pemukulan itu masuk kategori yang Bisa KPK kenakan menghalangi kerja-kerja KPK dikaitkan dengan Pasal 21 UU Nomor 31 Tentang Tipikor , Nanti KPK pelajari lebih dahulu,” ujar Saut saat dikonfirmasi, Senin (4/2).

Diketahui, Pasal 21 UU Tidak Pidana Korusi (Tipikor) menyatakan, “Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka dan terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 12 tahun dan atau denda paling sedikit Rp150 juta dan paling banyak Rp600 juta.”

Saut mengatakan saat ini KPK sudah menyerahkan kasus penganiayaan dua pegawainya itu kepada kepolisian. Ia mengatakan polisi berkoordinasi dengan baik dalam penanganan kasus ini.

“Saya melihat ada upaya kerjasama yg baik dgn Tim dari Polri dengan biro hukum KPK ini prosenya masih berjalan,” ujarnya.

Saut berharap polisi segera menyelesaikan kasus ini dan membawanya ke tingkat penyidikan. Saat ini kedua petugas KPK itu tengah menjalani operasi retak hidung sebelum dimintai keterangan oleh polisi terkait kasus tersebut.

“Sambil menunggu berapa hari kedepan korban pasca operasi retak hidung bisa dimintai keterangan,” ujarnya.Bu

Sebelumnya KPK  telah memberikan bukti visual kepada Polda Metro Jaya terkait kasus dugaan penganiayaan dua pegawainya di Hotel Borobudur, Sabtu (2/2) malam. Hal itu disampaikan Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Senin (4/2).

“Kami berharap penanganan segera dilakukan karena beberapa informasi visual sudah diberikan. Visum sudah dilakukan dan hasilnya akan disampaikan kepada polisi,” ujar Febri.

Sayangnya, Febri enggan merinci bukti-bukti visual yang diserahkannya kepada pihak kepolisian. Yang jelas bukti visual itu bisa berupa foto maupun bentuk yang lain.

“Mungkin kurang tepat kalau saya sampaikan secara rinci di sini karena itu bagian dari proses investigasi oleh pihak Polri nanti kita tunggu bersama hasil investigasi dari polisi,” kata Febri.

Febri berharap polisi dapat segera mengungkap pelaku di balik penyerangan dua pegawainya itu. Hal itu karena penyerangan tersebut dilakukan di tempat terbuka.

“Karena lokasinya tidak tersembunyi, ada di sebuah hotel dan saksi yang lain banyak dan bukti yang lain, semoga tim dari Polri dapat cepat menemukan pelaku itu,” ujarnya.

Diketahui pegawai KPK diduga mengalami penganiayaan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Sabtu (2/2) malam. Saat itu tengah berlangsung rapat antara Pemprov dan DPRD Papua membahas APBD 2019.

Kedatangan dua pegawai KPK tersebut berbekal laporan dari masyarakat mengenai indikasi korupsi.

Saat menyelidiki laporan di Hotel Borobudur, kedua pegawai KPK tersebut awalnya dihampiri oleh sejumlah orang dan dibawa ke satu tempat di Hotel Borobudur sambil menanyakan beberapa hal.

“Bertanya beberapa hal sampai akhirnya pegawai KPK menyatakan kami ditugaskan secara resmi dan merupakan pegawai KPK. Tapi penganiayaan dan pemukulan tetap dilakukan terhadap mereka,” ujar Febri.

Febri mengatakan kedua pegawai KPK dimaksud sudah menyampaikan bahwa mereka adalah penegak hukum yang sedang bertugas. Akan tetapi penganiayaan tetap terjadi.

“Karena itu kami menyebut kejadian tersebut sebagai penyerangan terhadap penegak hukum yang sedang bertugas,” kata Febri.

You might also like