Bagai Membingungi Penista Agama Yang Dipuja

Priyono B. Sumbogo

 Suatu kali kita merasa tak terwakili oleh wakil rakyat yang duduk di kursi kayu jati sambil bicara itu-ini. Kita dijuluki wakil rakyat, tapi tidak tahu siapa sesungguhnya yang kita wakili. Terkadang kita justru terkatung-katung dan jadi bingung bila berada di dekat polisi, padahal polisi disuruh jadi pelindung di kota dan di kampung. Kita tahu bahwa kita disebut pelindung dan pengayom, tetapi mengapa rakyat malah ketakutan bila mendengar polisi sedang bicara

Adalakalanya kita berpikir lebih baik main hakim sendiri, padahal kita tahu ada hakim berpalu kayu. Kita memegang erat-erat palu kayu ini, tapi kita ragu apakah sudah kita ketukkan dengan merdu. Di hari Jumat kita yakin akan aman menjalankan salat di masjid para polisi berbaju cokelat bersisir rapi, tapi siapa sangka kita luka parah karena bom bunuh diri yang meletus tak tahu diri.  Di ujung yang tersembunyi kita berpikir, apakah Tuhan akan memberi kita anugerah mati syahid bila bom–bom ini kita ledakkan lagi di tempat lain.  

Pada malam sepi kita duduk sendiri di balkon rumah sembari merenungi peristiwa tadi pagi dan gerimis malam ini. Begitu besar untung yang kita peroleh dari ekspor tenaga kerja wanita Indonesia. Sepuluh tahun tak akan habis. Dan masih akan ditambah akses fee. Tapi mengapa tiba-tiba hati menjadi perih mengingat bangsa sendiri dihamili di rantau negeri. Apakah kita harus bertanggungjawab jadi bapak dari bayi yang akan lahir nanti, padahal bukan kita yang menghamili. Sudah tentu kita tak mau. Selain rugi, sudah pasti kita dikemplang istri, karena disangka ikut membuahi sebelum TKI pergi.

Ada kegelisahan di hati kita, ada keraguan pada posisi kita, ada ketidakpercayaan pada fungsi-fungsi lembaga negara kita, ada ketidakpastian pada langkah yang kita tempuh, ada kegamangan pada pertimbangan-pertimbangan kita, ada kecemasan yang tak kita ketahui asal-usulnya. Kadang kita gelisah buat apa jadi pegawai negeri bila tiap hari dicibiri penduduk negeri. Dan tiba-tiba kita merasa tak percaya diri, mengapa jadi tentara malah dibenci. Sekonyong-konyong kita pun mulai tak meyakini untuk apa menulis berita setiap hari, memukul ke kiri ke kanan, tapi apakah kita sendiri sudah berbenah diri. Kalimat-kalimat suci kita sampaikan pada beribu jemaah dari panggung yang tinggi, tapi mengapa tiba-tiba kita merasa tak dipedulikan. Lalu memluncur pertanyaan mengapa justru penista agama yang dielu-elukan.

Mengapa ada perasaan hampa pada diri kita. Ada rasa tak berguna bercampur putus asa. Apakah kita sedang dilanda turbulensi karena ada yang kacau (chaos) di dalam diri maupun di luar sana. Jiwa dan perasaan kita bagaikan gumpalan asap rokok yang berpencar secara liar. Bagai hukum yang mengalami kehampaan hukum. Bagai penista agama yang dielu-elukan.

Bagai kekuasaan politik yang mulai kehilangan legitimasi. Bagai sistem ekonomi dengan fluktuasi moneter tak terkendali. Bagai wakil rakyat yang justru menonton video porno selagi sidang paripurna. Bagai kunjungan kerja ke luar negeri yang dihabiskan untuk berpiknik menyusuri lekuk-lekuk kulit putih putri salju.

            Kita sedang berada dalam situasi ketidakstabilan, kekacauan, dan keacakan. Ada energi-energi tertentu yang menarik dan mengaduk-aduk kita ke sana ke mari. Ada energi-energi aneh yang membawa dan menyasarkan kita ke arah yang tidak menentu. Kita terbanting ke pusaran-pusaran gelap tanpa selatan tanpa utara. Kita diserang rasa takut tapi entah apa yang membuat takut.

            Di luar sana, di sekeliling kita, ada teman-teman kita yang dihantui oleh teror, kekerasan, kejahatan, kerusuhan, tetapi tidak tahu harus berlindung ke mana. Mereka mengira tidak ada lagi yang dapat dipercaya, baik penguasanya, aparat keamanannya, maupun petugas hukumnya. Mereka dan kita semua berada di sebuah wilayah negara, tapi kita merasa tergeletak di daerah tak bertuan. Kita bagaikan berada di sebuah tapal batas antara memerlukan negara dan tidak memnutuhkan negara. Kita berada di garis antara membutuhkan hukum dan tidak memerlukan hukum. Kita merasa mengambang di antara dua tepi jurang, tapi tidak jatuh juga tak sanggup ke tepi. Kita berada di batas antara ingin menyanyi dan menjerit histeris.

            Kita bagaikan sedang bersembunyi di sebuah goa di gurun pasir untuk menghindari musuh-musuh berkuda. Kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan padahal musuh sudah begitu dekat. Kita berharap seekor laba-laba membuat sarang di mulut goa agar mereka mengira kita tak di sini. Kita bagaikan sedang berada di antara keikhlasan untuk dipaku di tiang salip dan keinginan untuk berlari sambil membenci.

            Kita sudah saatnya memilih. Tetap bersembunyi atau maju membela diri. Disalip atau berlari. Dan sudah saatnya kita meyakinkan diri untuk memilih membela diri walaupun akan disalip dengan ngeri. Sebab, keraguan, kegamangan, kegelisahan, tak akan membuat apapun berjalan sendiri.

 

 

You might also like