KPK IKLAN

Tiga Pecatur Cilik Ini Begitu Lihai Memainkan Bidak Catur

Jakarta, forumkeadilan.com – Turnamen catur memperebutkan Piala 3M yang digelar di GOR Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu (26/1), menyisakan cerita menarik. Ya, terdapat beberapa pecatur cilik yang begitu lihai memainkan bidak catur.

Pertama, bocah berusia sembilan tahun yang diketahui bernama Morado tampak tidak canggung menggerakkan tangannya untuk menggeser bidak catur sembari menekan jam catur di hadapannya.

Kemampuan bermain catur Morado, yang berasal dari Bekasi, ternyata tidak main-main untuk anak seukuran usianya. Terbukti, dia mampu mengalahkan lawan-lawannya dengan mudah. Bahkan, dia hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit untuk menuntaskan permainan.

“Saya belajar catur sejak usia 6 tahun. Dulu ikut kursus, terus latihan tiap hari Selasa, Rabu, dan Jumat,” kata Morado sembari memainkan biduk catur di tangannya.

Dengan keuletannya berlatih main catur, Morado pun kerapkali memenangkan laga catur untuk kategori ana di bawah usia 12 tahun. “Saya juara sudah lebih 10 kali,” tegasnya.

Pemandangan lain, terdapat juga dua pecatur cilik yang cukup menonjol, yakni Amira dan Ardi. Amira, gadis cilik berusia 8 tahun, terlihat cekatan juga dalam menggerakkan buah-buah catur.

Namun, berbeda dengan Morado yang mendapatkan ilmu dari kursus atau sekolah catur, gadis asal Pamulang, Tangerang Selatan itu mengenal dan bermain catur dari orang tuanya. “Saya belajar dari Ayah, dia seorang wasit catur,” ketus gadis berjilbab itu.

Sama seperti Amira, Ardi juga memperoleh ilmu bermain catur dari orang tuanya sendiri. “Bapak saya memang pemain catur. Jadi saya belajar ke Bapak,” tandas bocah asal Tangerang Selatan, yang mengaku sudah pernah memenangkan turnamen catur cilik sebanyak dua kali ini.

Ketiga bocah tersebut merupakan sedikit dari para pecatur yang berkompetisi di Turnamen Catur 3M, yang total pesertanya 850 orang. Turnamen yang diinisiasi tiga politisi Misbakhun, Maruarar Sirait, serta mantan anggota DPR R,I M Hatta Taliwang itu terbagi dalam sejumlah kategori.

Kategori master diikuti 150 orang dengan perincian satu Grand Master, 13 Master Internasional, 24 Fide Master, dan 82 Master Nasional. Sedangkan peserta Nonmaster sebanyak 560 orang. Kategori lainnya adalah kelompok usia (KU) 12 tahun sebanyak 70 dan KU-16 tahun 46 orang. Turnamen ini juga diikuti 24 wasit dari 20 provinsi. Dan satu yang cukup menyita perhatian adalah adanya peserta dari luar negeri, yakni dari Filipina. Mereka memperebutkan hadiah berupa uang tunai total Rp119.400.000 dan trofi juara.

Hatta Taliwang mengaku cukup kaget dengan kuantitas peserta yang luar biasa ini. Apalagi, kata dia, turnamen kali ini diikuti oleh para pecatur master internasional. “Saya kira ini rekor, kita bisa mengumpulkan 150 master,” ucap Hatta di sela-sela pertandingan catur.

Dia memaklumi dengan gairah yang sangat besar dari para pecatur di Tanah Air. Menurutnya, hal ini terjadi karena catur merupakan olahraga otak yang tidak memerlukan biaya mahal.

“Dengan makin meningkatnya peminat catur di seluruh Indonesia, kita berharap perhatian pemerintah di seluruh daerah untuk ikut setiap PON atau Porda,” kata Hatta, yang juga berharap pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah dapat meningkatkan anggaran untuk olahraga catur.

Selain pemerintah, BUMN atau perusahaan-perusahaan swasta juga diharap bisa mendukung perkembangan catur dengan mensponsori kejuaraannya. “Bayangkan mereka dari luar daerah berlomba-lomba, padahal kalau mengejar hadiah, mereka belum tentu dapat. Ini artinya motivasi mereka semakin meningkat,” tukasnya.

“Ya, target kegiatan ini ujungnya adalah peningkatan prestasi, bagaimana Indonesia bisa lebih baik di dalam pertandingan catur internasional,” pungkas Hatta Taliwang.

You might also like