Ketika Harga Tiket Pesawat Menjerat Leher Rakyat

Melambungnya harga tiket pesawat terbang rute domestik membuat sebagian warga memilih rute internasional yang lebih ekonomis. Ini belum lagi penerapan aturan bagasi berbayar oleh maskapai perbangan berbiaya murah.

Holti Simanjutak mengaku tak punya banyak pilihan. Uangnya yang pas-pasan, sementara dia harus segera sampai Jakarta untuk sebuah urusan, membuat dia harus memutar otak untuk mendapatkan harga tiket pesawat dengan harga terjangkau.

Dia pun akhirnya harus ‘melipir’ ke Kuala Lumpur sebelum akhirnya sampai di Jakarta. Dengan rute Banda Aceh – Kuala Lumpur (Malaysia) – Jakarta, dia hanya membutuhkan uang Rp 1 juta untuk beli tiket. Sementara, kalau dia memakai penerbangan domestik, Holti harus merogoh kocek sampai Rp1,8 juta.  Jadi, singgah di Kuala Lumpur dinilai sangat menghemat anggaran tiket pesawat dan bisa dipergunakan untuk kebutuhan lainnya.

“Tiketnya lebih murah, pakai Air Asia dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur sekitar Rp 500.000 dan Kuala Lumpur ke Jakarta Rp 500.000,” kata Hotli Simanjuntak seperti dikutip dari Merdeka.com.

Harga tiket pesawat memang sedang menjadi pembahasan nasional. Beragam isu disorot masyarakat mulai dari bagasi berbayar maskapai low-cost carrier hingga cerita warga Indonesia yang harus transit di Kuala Lumpur dan akhirnya mengundang banyak warga yang mengurus paspor ke luar negeri.

Pada awal Januari 2019 diketahui banyak warga Aceh yang membuat paspor di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh. Kepala Seksi Lalu Lintas Keimigrasian kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh, Muhammad Hatta menyampaikan adanya peningkatan warga yang mengajukan permohonan pembuatan paspor. Pihak imigrasi biasanya mengeluarkan 100 formulir per hari, namun sejak Januari 2019 mencapai 200 formulir per harinya.

“Ini salah satu penyebabnya banyak warga yang ingin transit di suatu Negara sebelum berangkat ke suatu daerah lainnya dalam negeri. Rata-rata mengaku saat petugas bertanya, hendak transit di Kuala Lumpur” kata Muhammad Hatta, Minggu 13 Januari 2019 di Banda Aceh.

Foto http://marialydiap.blogspot.com

Rupanya, bukan hanya tiket Banda Aceh –Jakarta yang harganya melambung. Hal serupa berlaku pada penerbangan Batam ke Jakarta. Sebagai perbandingan, untuk penerbangan Batam-Jakarta dengan jadwal penerbangan pada 15 Januari 2019, berada di atas Rp 1 juta. Sementara penerbangan dari Batam-Kuala Lumpur, Malaysia, di hari yang sama justru lebih murah, tepatnya Rp 767 ribu.

Kejadian tak jauh beda terjadi untuk harga tiket pesawat domestik rute Pekanbaru tujuan Jakarta. Hal ini pula yang membuat warga Pekanbaru memilih transit ke Malaysia dan Singapura terlebih dahulu, baru menuju Jakarta.

Sebagai bentuk protes mewakili masyarakat di Riau terhadap tingginya harga tiket pesawat domestik itu, salah satu agen perjalanan tidak lagi menjual tiket penerbangan domestik.

Pengakuan pemilik agen tiket dan perjalanan di Jalan Kartini Kota Pekanbaru itu, Ibnu Mas’ud, mengaku tidak menjual tiket penerbangan domestik dalam tiga hari ke depan agar menjadi pertimbangan bagi maskapai nasional.

“Baru pertama yang tidak melakukan penjualan, sudah diberitahukan kepada pelanggan melalui selebaran di depan travel ini,” kata Ibnu, 16 Januari 2019.

Sebelum kenaikan luar biasa harga tiket pesawat domestik, sebut Ibnu, masyarakat hanya perlu merogoh kocek Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu untuk sampai ke Jakarta. Sekarang, naik beberapa kali lipat hingga mencapai Rp 1,1 juta lebih.

Nilai itu belum termasuk pembayaran bagasi yang mulai diterapkan sejumlah maskapai, Lion Air misalnya. Di mana bagasi 30 kilo harus membayar Rp 900 ribu, 20 kilogram membayar Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu.

“Ini kan tidak masuk akal, kasihan masyarakat jadinya. Makanya tidak kami jual tiket domestik, ini bentuk protes dan juga menyampaikan keluhan masyarakat,” sebut Ibnu.

Dia menjelaskan, maskapai Lion Air sempat mengumumkan akan menihilkan tarif untuk bagasi di bawah 20 kilogram. Namun, hal itu tidak direalisasikan, bahkan konsumen diwajibkan membayar enam jam sebelum penerbangan.

“Kian menyulitkan masyarakat, sudah mahal (tiket) malah dibuat susah,” tegas Ibnu.

Ibnu menyebutkan, dalam beberapa hari terakhir banyak pelanggannya menunda perjalanan. Rombongan wisatawan juga membatalkan perjalanan karena tiket domestik mahal sehingga tidak sesuai hitungan awal anggaran perjalanan.

Akibat mahalnya tiket ini, Ibnu menyatakan yang mendapat keuntungan adalah Malaysia dan Singapura. Pasalnya banyak orang Pekanbaru ataupun Riau pada umumnya yang ke Jakarta memilih lewat Kuala Lumpur.

“Misalnya Air Asia tujuan Kuala Lumpur hari ini penuh karena penumpang tujuan Jakarta lewat sana. Ini sama saja maskapai nasional,” jelasnya.

Dia menyebut, harga tiket ke Malaysia masih terjangkau karena berkisar antara Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan harga yang lebih murah dari itu, yakni Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Total, Pekanbaru-Malaysia-Jakarta hanya Rp 800-900 ribu, tanpa penambahan biaya bagasi pada batas tertentu. “Bagasinya juga gak mahal, ada pembatasan sehingga terjangkau,” ucap Ibnu.

Keluhan melambungnya harga tiket pesawat domestik juga melahirkan sebuah petisi di situs change.org pada 18 Desember 2018. Isinya, permintaan kepada pemerintah dan maskapai penerbangan untuk menurunkan harga tiket pesawat yang melambung tinggi.

Hingga Jumat 18 Januari 2019 pukul 01.00 WIB sebanyak 233.129 orang telah menandatangani petisi tersebut. Tak heran jika isu ini akhirnya menjadi perhatian para pihak terkait, baik regulator maupun maskapai.

Para penumpang pesawat menunggu antrian (Metro-Online.co)

Gaduh akibat ramainya keluhan para pengguna jasa penerbangan akhirnya pekan lalu seluruh maskapai nasional yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier Association (INACA) menurunkan harga tiket pesawat. Ini berlaku untuk penerbangan domestik sejak Jumat, 11 Januari 2019. Penurunan tiket pesawat diklaim menukik 20 hingga 60 persen.

Ketua Umum INACA I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra (Ari Askhara) menyebutkan keputusan tersebut berdasar hasil kesepakatan bersama antar beberapa pihak terkait.

“Kami mendengar keprihatinan masyarakat atas tingginya harga tiket nasional. Dan atas komitmen positif dari stakehokder, khususnya AP 1, AP II, Airnav dan Pertamina,” kata dia.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia Airlines (GIA) ini menyebutkan, meski maskapai-maskapai di tanah air tengah dalam kondisi tak menguntungkan, namun keputusan untuk menurunkan tarif tetap harus diambil demi kepentingan masyarakat. Ia pun mengungkapkan mendengar suara masyarakat terkait tiket pesawat.

“Walaupun di tengah kesulitan maskapai nasional yang ada, tapi kami lebih mendnegar keluhan masyarakat atas tingginya harga tiket. Kami tidak begitu saja tidak mempedulikan,” ujarnya.

Dia menyebutkan, beberapa tarif penerbangan domestik yang telah turun sejak Jumat 11 Januari antara lain rute Jakarta-Denpasar, Jakarta-Yogyakarta, Bandung-Denpasar, dan Jakarta-Surabaya.

Rentang penurunan harga tiket pesawat yang dilakukan tiap maskapai berbeda-beda dan variatif, yakni pada kisaran 20 persen sampai 60 persen. Penurunan harga ini, tambahnya, dilakukan untuk menyesuaikan permintaan dari masyarakat terhadap tiket pesawat yang mulai kembali normal.

“Mulai Jumat sudah diturunkan untuk 6 rute, dan ini akan terus berlanjut. Kita menyesuaikan demand dan kebutuhan dari masyarakat di masing-masing daerah yang berbeda,” ujar dia.

Dia juga menegaskan meski ada penurunan harga tiket pesawat namun layanan yang akan diberikan tidak mengalami perubahan. “Kalau ada penurunan harga tiket domestik ini, kita tetap akan berkomitmen tinggi menjaga safety penumpang dan terus meningkatkan,” tegasnya.

Sekretaris Jenderal INACA, Tengku Burhanudin menyebut, Garuda Indonesia memangkas harga tiket pesawat hampir separuhnya, dari Rp 3,2 juta menjadi Rp 1,6 juta. Batik Air pun begitu.

“Terus Batik Rp 2,8 juta mungkin akan Rp 1,5 juta,” ujarnya, di kawasan SCBD, Jakarta.

Lalu, benarkah harga tiket pesawat domestik memang sudah turun? Berdasarkan pantauan FORUM melalui situs agen perjalanan terkemuka berbasis online, Traveloka, memang ada sedikit perubahan harga tapi tidak terlalu banyak. Misalnya saja untuk tarif tiket pesawat rute domestik Jakarta – Banda Aceh yang banyak dikeluhkan beberapa hari lalu karena dianggap terlalu mahal.

Dalam penelusuran FORUM di laman Traveloka pada Kamis 17 Januari, untuk penerbangan domestik tiket rute Jakarta – Banda Aceh dengan transit di Bandara Kualanamo yang termurah adalah Lion Air untuk penerbangan Senin, 21 Januari 2019 adalah Rp 1.643.000 untuk penerbangan pukul 17.25WIB. Itu berarti harganya turun hanya sekitar Rp 200 ribu. Lalu, ada Citilink dengan harga tiket Rp 2.343.000 untuk jam 05.00.

Pesawat Lion Air dengan Nomor penerbangan JT 610/Breakingnews.co.id

Untuk penerbangan pada Kamis, 24 Januari 2019, tiket pesawat termurah masih dari maskapai Lion Air dengan harga Rp 1.643.500 untuk jam 11.50, lalu disusul Batik Air untuk penerbangan langsung dengan harga Rp 1.938.000 untuk penerbangan di jam 07.45.

Harga-harga tersebut dengan catatan belum termasuk harga bagasi yang dimulai Rp 174.320 per 20 kilogram. Itu berarti harganya turun hanya sekitar Rp 200 ribu.

Adalah Safaruddin, salah seorang warga Aceh yang sering bolak balik Aceh-Jakarta mengaku telah mengecek perubahan harga tiket di salah satu situs penyedia jasa penjualan tiket. Namun, belum ada perubahan berarti.

“Sepertinya belum ada perubahan sebagaimana yang tersiar bahwa sudah ada penurunan harga sampai 50 persen, bahkan harganya juga masih jauh lebih murah dengan menggunakan air Asia dengan transit KL,” ungkapnya, Senin 14 Januari 2019.

Safaruddin pun meminta pihak terkait melakukan pengecekan di situs-situs penyedia jasa penjualan tiket untuk mengecek langsung kebenarannya. Menurutnya, harga tiket masih sama seperti sebelumnya.

“Sebelum kenaikan saya cek tiket Banda Aceh ke Surabaya sekitar Rp 2,4 juta per orang, setelah kenaikan jadi Rp 4 juta, dan sekarang pun saya cek masih 4 juta. Sementara, dengan Air Asia, transit KL Rp 1 juta,” sebut pria yang mengaku bisa berhemat Rp 18 juta untuk 6 tiket yang belum lama ini dipesannya.

Ombudsman mengamati perilaku konsumen yang protes tingginya harga tiket pesawat belakangan ini. Anggota Ombudsman yang juga sebagai pengamat aviasi Alvin Lie mengatakan, nampaknya paling banyak memprotes kenaikan harga tiket maskapai adalah pengguna maskapai berbiaya rendah (Low Cost Carrier/LCC).

“Kenapa masyarakat komplain, setelah kami cermati komplain terbanyak pengguna LCC karena mereka yang biasanya mendapat harga murah sekarang bergerak mendekati harga keekonomian, teriak mereka,” kata Alvin di Jakarta, Selasa 15 Januari 2019.

Saat ini maskapai LCC yang terdaftar di Kementerian Perhubungan yaitu Lion Air, Wings Air dan Citilink Indonesia.

Peawat Batik Air (AviationWA)

Menurut Alvin, bagi para pengguna maskapai kelas medium dan full service cenderung tidak terlalu mempermasalahkan kenaikan harga tiket tersebut. Hal itu karena pengguna maskapai mengetahui kenaikan tiket tersebut masih dalam koridor sewajarnya.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI),Tulus Abadi mengatakan, protes masyarakat soal harga tiket pesawat karena kenaikannya diklaim terlalu drastis. Tulus mengakui, kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang menjadikan biaya operasional maskapai semakin membengkak.

“Harusnya maskapai itu kenaikannya secara bertahap dan tidak secara bersamaan, jadi penumpang tidak terlalu terasa kenaikannya, itu lebih baik,” kata Tulus.

Sementara itu, anggota Komisi VI DPR Fadhlullah menyatakan tarif transportasi udara yang diberlakukan harus berpihak kepada masyarakat, jangan sampai memberatkan calon penumpang. Artinya, harga tiket pesawat misalnya harus benar-benar dirasionalkan dengan jarak tempuh, sebab harga tiket dalam sepekan terakhir ini naik drastis khususnya untuk penerbangan domestik.

Adapun Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Jawa Tengah Daryono meminta adanya evaluasi terkait kenaikan tarif tiket pesawat karena adanya kenaikan tarif tersebut dianggap kontraproduktif dengan upaya untuk menggenjot kunjungan wisatawan.

“Dengan adanya kenaikan tarif tiket akan berdampak negatif bagi kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” katanya.

Ketua Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies (Asita) Kalimantan Barat, Nugroho Henray Ekasaputra, mengatakan 60 persen aktivitas orang ingin berwisata dipengaruhi oleh harga tiket pesawat. Jika harga tiket tinggi tentu orang akan berfikir ulang atau akan sedikit memperhatikan untuk kegiatan berwisatanya.

“Apalagi ke Kalbar ini, saat hari kegiataan keagamaan dan hari besar sebelumnya saja tinggi. Jika dengan kondisi sekarang tentu akan jauh lebih tinggi. Pada Cap Go Meh saja di Singkawang, sudah ada tamu kita yang membatalkan ke sana. Sebab untuk transportasi sangat tinggi,” jelas dia.

Ia menambahkan belum lagi saat ini satu di antara maskapai yaitu Lion Air, tidak lagi mengratiskan bagasi. Hal itu, kata dia, akan mempengaruhi minat wisatawan membeli produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Bagasi tidak lagi gratis, wisatawan berpikir panjang untuk membeli dalam jumlah banyak oleh-oleh hasil produk UMKM. Hal tersebut tentu berdampak negatif pada sektor UMKM tersebut,” katanya.

Oleh karena itu, sebagai pemberi jasa perjalanan, pihaknya meminta pemerintah mempertimbangkan dan memperhatikan hal-hal tersebut terkait peningkatan kunjungan wisatawan.

“Kami promosi ke sana kemari tidak akan berdampak maksimal tanpa didukung kebijakan yang memudahkan,” tukasnya. Sukowati Utami

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.