Kasus Jony Boyok Penghina Ustadz Abdul Somad Sudah P21

Jony Boyok, pengusaha di Pekanbaru, bakal duduk di kursi pesakitan. Berkas pria penghina Ustadz Abdul Somad (UAS) ini segera dilimpahkan ke kejaksaan. Perkara pencemaran nama baik ini dinyatakan lengkap atau sudah P21.

Jony Boyok menghina UAS di media sosial Facebook. Dia mengunggah foto UAS yang telah diedit di bagian matanya dengan warna merah. Ia juga membuat tulisan yang menyebut bahwa UAS telah berhasil menghancurkan kerukunan beragama.

Tak hanya itu, Jony juga memposting tulisan yang menghina UAS. Foto dan tulisan itu diposting oleh akun Jony Boyok pada 2 September lalu. Kemudian postingan tersebut viral. Banyak yang menghujat akun Jony Boyok atas postingannya tersebut.

Jony Boyok yang menghina Ustadz Abdul Somad melalui akun facebook

Jony Boyok kemudian dijemput dari rumahnya di Jalan Dolok I, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru, dan diantarkan oleh masyarakat muslim Pekanbaru ke kantor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau Jalan Gajah Mada Pekanbaru, 5 September 2018 petang. Tindakan itu dilakukan karena Jony Boyok dinilai telah menghina UAS.

Sebelum menyerahkan Jony Boyok ke Ditreskrimsus Polda Riau, Front Pembela Islam meminta klarifikasi kepada Jony Boyok di Markas FPI Pekanbaru. Saat itu, Jony Boyok mengakui perbuatannya.

Sehari berselang, UAS melalui Tim Kuasa Hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, yang terdiri dari Zulkarnain Nurdin sebagai ketua Wismar Hariyanto, Aspandiar dan Aziun Asyaari, menyampaikan surat pengaduan ke Polda Riau agar perkara itu diusut sesuai aturan hukum yang berlaku.

Meski mengaku telah memaafkan perbuatan Jony Boyok yang telah menyebut dirinya sebagai dajjal, namun UAS ingin proses hukum berlanjut. Langkah ini diambil untuk memberikan efek jera kepada pelaku, dan supaya tidak terulang lagi hal yang sama.

Menanggapi laporan itu, polisi kemudian melakukan pemeriksaan terhadap UAS sebagai saksi korban. Datuk Seri Ulama Setia Negara itu diperiksa di rumahnya, pada 8 September 2018.

Di hari yang sama, proses klarifikasi juga dilakukan terhadap tiga orang lainnya, yang diduga mengetahui adanya dugaan pidana itu. Mereka adalah Nur Zein, Delfizar, dan M Khalid.

Terhadap Jony Boyok, juga telah diperiksa dalam statusnya sebagai saksi terlapor. Pemeriksaan Jony dilakukan di kediamannya dua hari berselang.

Proses berikutnya, polisi melakukan pemeriksaan terhadap saksi ahli. Saksi ahli tersebut berasal dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Setelah merampungkan proses penyelidikan, polisi kemudian melakukan gelar perkara. Proses itu dilakukan setelah pihak kepolisian melakukan penyelidikan, dan meyakini adanya peristiwa pidana dalam perkara itu. Hasilnya, polisi kemudian menetapkan Jony Boyok sebagai tersangka.

Usai proses pemberkasan, polisi kemudian melimpahkan berkas perkara itu ke pihak Kejaksaan. Proses tahap I dilakukan pada Rabu, 17 Oktober 2018 lalu. Dari telaahan yang dilakukan, Jaksa menyatakan berkas perkara belum lengkap. Atas petunjuk itu, penyidik kembali berupaya melengkapi berkas perkara berdasarkan petunjuk yang diberikan Jaksa atau P19, dan kembali melimpahkan ke Jaksa Peneliti.

“Hasil penelaahan Jaksa, berkas Jony Boyok dinyatakan P21 (lengkap,red),” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus (Die Reskrimsus) Polda Riau, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan, Selasa (1/1/2019).

Setelah P21 itu, Gidion mengatakan pihaknya selanjutnya akan melakukan proses tahap II. Penyerahan tersangka dan barang bukti itu sejatinya akan dilakukan jelang akhir Desember 2018 lalu. Namun, dari hasil koordinasi yang dilakukan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) meminta proses tahap II dilakukan awal tahun 2019.

“Mereka (Kejaksaan,red) meminta tahap II di awal tahun. Rencananya pekan ini kita lakukan pelimpahan tersangka,” pungkas mantan Wakil Direktur Reserse Narkoba (Wadir Resnarkoba) Polda Metro Jaya tersebut.

You might also like