Jaksa dan Terdakwa Terpelongo Dengar Perintah Hakim

Sidang Kasus Pengoplos LPG di PN Medan

Senyum Ali Hamka Hasibuan mendadak getir. Terdakwa kasus pengoplosan LPG 3 Kg ke tabung 50 Kg dan 12 Kg ini, kaget bagai disambar petir ketika majelis hakim diketuai Richard Silalahi SH, memerintahkan jaksa dari Kejatisu Dwi Meily Nova untuk menahan dirinya. Perintah itu seketika membuat Ali dan jaksa Nova terpelongoh.

“Terdakwa sempat ditahan penyidik Poldasu dan kemudian ditangguhkan. Majelis hakim memerintahkan agar saudara jaksa melakukan penahanan terhadap terdakwa. Yang dirugikan adalah masyarakat kelas bawah. Sidang sementara disekors,” tegas Richard sembari mengetuk palu dalam sidang di PN Medan, Senin (7/1/2019).

Skorsing beberapa menit dimanfaatkan JPU Nova menemui majelis hakim. Tidak jelas apa dialog di antara mereka. JPU Nova kemudian keluar dari ruang sidang bersama terdakwa. Kurang lebih 20 menit, Richard Silalahi kembali melanjutkan persidangan dengan pembacaan penetapan bernomor: 345. Isinya, memerintahkan JPU melakukan penahanan tahap pertama selama 30 hari, terhitung 7 Januari 2019 terhadap terdakwa Ali Hamka Hasibuan.

Usai membacakan penetapan tersebut, JPU diperintahkan untuk menghadirkan saksi-saksi guna didengarkan keterangannya, Senin (14/1/2019) mendatang. Tidak lama kemudian, kedua anggota majelis hakim Ali Tarigan SH dan Deson Togatorop SH menandatangani surat penetapan penahanan terdakwa.

Sebelum ditahan, JPU Nova sempat membacakan dakwaannya. Usai membaca dakwaan, hakim langsung memerintahkan terdakwa Ali ditahan.

Kasus pengoplosan gas dari tabung 3 kg (diperuntukan bagi masyarakat kurang mampu) ke tabung isi 12 kg dan 50 kg itu diungkap jajaran Subdit I/Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumut. Akibat ulah terdakwa Ali, peredaran gas bersubsidi di Kota Medan langka.

Ali Hamka diamankan, Rabu (26/9/2018), di Gudang Becer yang berada di Jalan Marelan 6 Pasar II Timur, Komplek Marelan Permai, Kelurahan Titipapan, Kecamatan Medan Marelan. ‘Bisnis’ ilegal terdakwa beroperasi kurang lebih satu bulan. Modusnya, mengoplos gas 3 kilo kemudian dimasukkan ke tabung gas 50 kilo dan 12 kilogram. Dan terdakwa Ali bukan merupakan distributor, agen atau pengecer gas LPG isi 3 kg bersubsidi pemerintah.

Tabung gas 50 kg memerlukan kira-kira 19 tabung gas isi 3 kg. Harga tabung gas 50 kg kalau dijual Rp450.000. Hasil penjualan satu tabung gas 50 kg meraup untung Rp100.000 per tabung. Akibat perbuatan terdakwa kerugian negara mencapai Rp500 juta. Gas seolah nonsibsidi itu dijual ke sejumlah wilayah di Medan.

Terdakwa Ali dijerat melanggar Pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) huruf a, b dan c UU RI No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan Pasal 53 huruf c dan d UU RI No 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi jo Pasal 1 angka 8 PP ESDM RI No : 13 tahun 2018 tentang kegiatan penyaluran bahan bakar minyak, bahan bakar gas dan LPG.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.