Dulu Joko Widodo Diserang Taloid “Obor Rakyat”Sekarang Prabowo Dihantam” Indonesia Barokah”

Tim sukses atau yang menamakan diri Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno melaporkan tabloid  Indonesia Barokah ke Dewan Pers. BPN menganggap pemberitaan ‘Indonesia Barokah’ mengandung fitnah kepada Prabowo dan Sandiaga.

Laporan dibuat oleh Anggota Direktorat Advokasi dan Hukum BPN Prabowo-Sandiaga, Y Nurhayati ke kantor Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (25/1/2019), pukul 10.30 WIB.

“Karena tabloid Indonesia Barokah  edisi I Desember 2018 baik judul maupun isi kontennya mengandung fitnah dan ujaran kebencian kepada Bapak H Prabowo Subianto selaku capres dan Bapak Sandiaga Salahudin Uno selaku cawapres nomor 02,” kata Nurhayati.

Tabloid Indonesia Barokah yang terbit perdana pada Desember 2018 dan didistribusikan di sejumlah masjid di Jawa Tengah dan Jawa Barat menjadi sorotan. Kehadirannya mengingatkan publik kepada Obor Rakyat yang terbit menjelang gelaran Pilpres 2014.

Tabloid Obor Rakyat saat itu memuat artikel yang dinilai mengandung hoaks dan menyudutkan salah satu kandidat yang bertarung di Pilpres 2014, yaitu Joko Widodo. Kasus ini kemudian dibawa ke meja hijau.

Setiyardi Budiono selaku pemimpin redaksi dan Darmawan Sepriyossa selaku redaktur Obor Rakyat divonis 8 bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada 23 November 2016.

jika Obor Rakyat menyudutkan Jokowi, maka tabloid Indonesia Barokah yang mulai ramai diperbincangkan sejak Selasa, 22 Januari itu justru menyerang Prabowo, lawan Jokowi di Pilpres 2019.

Tabloid itu mengusung tajuk berjudul “Reuni 212: Kepentingan Umat atau Kepentingan Politik?” dengan semua huruf kapital. Gambar di halaman depan menampilkan karikatur orang memakai sorban dan memainkan dua wayang.

Dari sekian banyak tulisan yang dimuat dalam tabloid Indonesia Barokah, yang paling disorot adalah Laporan Utama (hlm. 5) dan Liputan Khusus (hlm. 6). Laporan Utama menurunkan berita berjudul “Prabowo Marah, Media Dibelah.”

Sementara rubrik Liputan Khusus menurunkan artikel berjudul “Membohongi Publik untuk Kemenangan Politik?: Membongkar Strategi Semprotan Kebohongan”. Naskah ini bercerita soal kasus-kasus hoaks yang melibatkan tim sukses Prabowo, mulai Ratna Sarumpaet hingga Neno Warisma.

Anggota Dewan Pers Hendry Chairudin Bangun pun buka suara. Ia menilai kehadiran tabloid jenis Obor Rakyat maupun Indonesia Barokah hanya kepentingan sesaat yang terbit berbarengan dengan momentum politik.

“Memang sejak reformasi menjelang pemilu selalu ada media partisan yang lahir, tapi kemudian mati sendiri, karena maksud dibuat juga untuk kepentingan sesaat,” kata Hendry saat dihubungi wartawan Kamis (24/1/2019).

Hendry berharap masyarakat mampu menyadari bahwa produk berupa tabloid yang dikemas selayaknya pers itu sebetulnya bukan karya jurnalistik. Sebab, tidak mematuhi kaidah-kaidah pers.

Ia mencontohkan Obor Rakyat. Menurut dia, isi tulisan dalam tabloid itu bukan produk jurnalistik dan pembuatannya pun tidak mematuhi aturan perusahaan pers. “Istilahnya media [tapi] bukan media,” kata dia.

Sementara terkait Indonesia Barokah, Hendry menuturkan Dewan Pers masih dalam tahap pengkajian, baik soal apakah karya itu termasuk kategori jurnalistik maupun kelengkapan administrasinya. Sehingga ia belum bisa memberikan pernyataan detail soal tabloid ini.

You might also like