Dirut PLN Sofyan Basyir Disebut Lagi Di Sidang Suap PLTU Riau-1

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus mendalami fakta-fakta yang muncul dalam persidangaan kasus suap proyek PLTU Riau-1. Diketahui, dari persidangan tiga terdakwa, nama Dirut PLN Sofyan Basir muncul baik dalam dakwaan, tuntutan ataupun putusan.

“Kalau memang ada pelaku lain. Tentu KPK akan cermati tapi prosesnya tak langsung ditingkatkan tersangka. Kami harus cermati fakta persidangan. Kami harus benar-benar memastikan sudah ada bukti permulaan yang cukup,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di Gedung KPK Jakarta, Jumat (18/1).

KPK ditengarai sedang membuka penyelidikan baru kasus dugaan suap PLTU Riau-I.  Dalam putusan terdakwa Johannes Budisutrisno Kotjo, Dirut PLN Sofyan Basir disebut ikut berperan meloloskan perusahaan Blackgold Natural Recourses Limited sebagai konsorsium penggarap proyek PLTU Riau-I. Sofyan disebut sebagai pihak yang menawarkan proyek PLTU Riau-I kepada Setya Novanto dan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, agar digarap oleh perusahaan Blackgold, milik Johannes.

Nama Sofyan memang berulang kali muncul dalam penyidikan atau persidangan kasus suap PLTU Riau-I. Menurut pengakuan Eni, Sofyan sempat dijanjikan menerima fee paling banyak. Namun, akhirnya Sofyan mendapat fee sama dengan yang diterima Eni dan Idrus Marham.KPK baru menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I.

Ketiga tersangka itu yakni bos Blackgold Natural Recourses Limited Johannes Budisutrisno Kotjo, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, serta mantan Menteri Sosial Idrus Marham.Eni bersama dengan Idrus diduga menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Eni diduga menerima uang sebesar Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap. Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo sebagai penggarap proyek PLTU Riau-I.

You might also like